kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45916,25   -4,93   -0.53%
  • EMAS960.000 -0,10%
  • RD.SAHAM -0.05%
  • RD.CAMPURAN -0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.02%

WHO sarankan dokter untuk tidak gunakan Remdesivir dalam penggobatan pasien Covid-19


Jumat, 20 November 2020 / 14:18 WIB
WHO sarankan dokter untuk tidak gunakan Remdesivir dalam penggobatan pasien Covid-19
ILUSTRASI. Remdesivir . Gilead Sciences Inc/Handout via REUTERS. NO RESALES. NO ARCHIVES. THIS IMAGE HAS BEEN SUPPLIED BY A THIRD PARTY.


Sumber: Kompas.com | Editor: Handoyo .

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyarankan para dokter di rumah sakit tidak menggunakan remdesivir sebagai obat dalam perawatan pasien Covid-19. Rekomendasi itu berlaku bagi seluruh pasien virus corona, terlepas dari seberapa parah sakit mereka. 

Sebab, WHO tak menemukan bukti penggunaan remdesivir dapat meningkatkan peluang kelangsungan hidup atau mengurangi kebutuhan ventilator. "Tak ada bukti yang menunjukkan bahwa remdesivir meningkatkan hasil yang penting bagi pasien, seperti penurunan mortalitas, kebutuhan ventilasi mekanis, waktu untuk perbaikan klinis, dan lain-lain," kata pedoman WHO dilansir Reuters, Jumat (20/11/2020). 

Rekomendasi WHO tersebut merupakan sebuah kemunduran bagi remdesivir yang sempat menarik perhatian sebagai pengobatan efektif untuk Covid-19 setelah klaim hasil pengujian yang menjanjikan. Pada Oktober 2020, produsen remdesivir, Gilead Sciences, memangkas perkiraan pendapatan 2020 dengan alasan permintaan lebih rendah dan kesulitan dalam memprediksi penjualan obat yang juga dikenal dengan Veklury itu. 

Remdesivir merupakan satu dari dua obat yang saat ini diizinkan untuk perawatan pasien virus corona di lebih dari 50 negara. Akan tetapi, uji coba besar yang dipimpin WHO bulan lalu menunjukkan antivirus itu memiliki sedikit atau tidak berpengaruh pada kematian dan lamanya rawat inap di rumah sakit. 

Obat tersebut juga termasuk salah satu obat yang digunakan untuk mengobati Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Trump juga beberapa kali memuji obat itu di awal pandemi, meski tak banyak bukti medis yang mendukung klaimnya itu. 

Sementara itu, Gilead pun mempertanyakan hasil temuan WHO tersebut. "Veklury diakui sebagai standar perawatan untuk perawatan pasien yang dirawat di rumah sakit dengan Covid-19 dalam pedoman dari berbagai organisasi nasional yang kredibel," kata Gilead dalam sebuah pernyataan. 

"Kami kecewa pedoman WHO tampaknya mengabaikan bukti ini pada saat kasus meningkat secara dramatis di seluruh dunia dan dokter mengandalkan Veklury sebagai pengobatan antivirus pertama," tambahnya. 
Panel Guideline Development Group (GDG) WHO mengatakan, rekomendasinya didasarkan pada tinjauan bukti yang mencukupi data dari empat uji coba acak internasional. Uji coba itu melibatkan lebih dari 7.000 pasien virus corona yang dirawat di rumah sakit. 

Baca Juga: Pemerintah kawal akselerasi Vaksin Merah Putih Covid-19

Setelah meninjau bukti, panel menyimpulkan remdesivir tidak memiliki efek yang berarti pada tingkat kematian atau hasil penting lainnya bagi pasien. "Terutama mengingat implikasi biaya dan sumber daya yang terkait dengan remdesivir, panel merasa tanggung jawab harus menunjukkan bukti kemanjuran dan data yang tersedia saat ini," kata panel itu. 

Rekomendasi WHO terbaru itu muncul setelah salah satu badan teratas dunia yang mewakili dokter perawatan intensif mengatakan antivirus tidak boleh digunakan untuk pasien Covid-19 di bangsal perawatan kritis.

Pada penelitian-penelitian sebelumnya, misalnya yang dilakukan oleh National Institutes of Health, remdesivir disebut bisa mengurangi lama masa rawat inap pasien, dari 15 hari menjadi 11 hari. Hal ini dikarenakan remdesivir dianggap mampu menghentikan replikasi virus yang jika tidak ditekan akan berdampak lebih lanjut pada perjalanan penyakit di tubuh. 

"Jika Anda mulai menggunakan remdesivir sejak awal, Anda akan mendapatkan hasil yang lebih baik," kata ahli paru di Northwell Health, Hugh Cassiere. 

Sementara itu, dokter dari National Jewish Health, dr. Ken Lyn-Kew menyebut penting untuk terus mempelajari soal remdesivir. Namun, terlepas dari itu semua, ia mengaku memang benar obat ativirus ini tidak begitu bekerja jika diberikan pada pasien dengan kondisi parah. "Data menunjukkan remdesivir benar-benar tidak bekerja dengan baik pada pasien yang dirawat di rumah sakit," kata Lyn-Kew.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "WHO Sarankan Dokter Tak Gunakan Remdesivir untuk Pasien Covid-19, Kenapa?"

Selanjutnya: Vaksin Covid-19 akan dapat meningkatkan imunitas tubuh

 




TERBARU
Corporate Valuation Model Investment Appraisal Model & Presentation

[X]
×