kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.668.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.858   36,00   0,20%
  • IDX 6.117   -60,45   -0,98%
  • KOMPAS100 795   -13,93   -1,72%
  • LQ45 599   -10,20   -1,67%
  • ISSI 213   0,20   0,09%
  • IDX30 339   -6,02   -1,75%
  • IDXHIDIV20 415   -6,04   -1,43%
  • IDX80 90   -1,62   -1,76%
  • IDXV30 112   -1,00   -0,89%
  • IDXQ30 108   -1,93   -1,75%

157 korban tewas dalam kecelakaan pesawat Ethiopian Airlines


Senin, 11 Maret 2019 / 06:00 WIB


Sumber: Reuters | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - NAIROBI. Pesawat jet Ethiopian Airlines rute Nairobi yang jatuh beberapa menit setelah lepas landas pada Minggu (10/3) menewaskan 157 korban. Pesawat Ethiopian Airlines ini adalah pesawat tipe Boeing 737 MAX 8, sama seperti pesawat Lion Air yang jatuh di perairan Karawang, Indonesia pada Oktober silam.

Mengutip Reuters, Pesawat Ethiopian Airlines itu meninggalkan bandara Bole di Addis Ababa pada pukul 8.38 pagi, sebelum kehilangan kontak dengan menara kontrol pada 8.44 pagi.

"Tidak ada yang selamat," bunyi cuitan maskapai itu bersama foto Kepala Eksekutif Tewolde GebreMariam yang memegang sepotong puing di lokasi kecelakaan.

"Pilot menyatakan bahwa dia mengalami kesulitan dan ingin kembali," ujar Tewolde dalam konferensi pers.

Pesawat dengan nomor penerbangan ET 302 dan nomor registrasi ET-AVJ itu jatuh di dekat kota Bishoftu, 62 km tenggara ibukota Addis Ababa, degan 149 penumpang dan delapan awak.

Tewolde mengungkapkan pesawat naas itu mengangkut penumpang dari 33 negara. 

Mereka yang tewas termasuk warga Kenya, Ethiopia, Amerika, Kanada, Prancis, China, Mesir,Swedia, Inggris, Belanda, India, Slowakia, Austria, Swedia, Rusia, Maroko, Spanyol, Polandia dan warna negara Israel.

Setidaknya ada empat korban merupakan staf PBB, ujar maskapai tersebut, dan Direktur Program Pangan Dunia PBB mengonfirmasi organisasinya telah kehilangan staf dalam kecelakaan itu.

Hingga kini penyebab kecelakaan masih dalam penyelidikan. Boeing mengatakan mengirim tim teknis untuk membantu penyelidikan yang dipimpin Ethiopia.

Seorang pejabat senior pemerintah AS mengatakan masih terlalu dini untuk mengatakan apakah ada hubungan langsung antara kecelakaan  Ethiopian Airlines dengan kecelakaan Lion Air JT610 di Indonesia yang menggunakan tipe pesawat yang sama. Namun, ia menyatakan masalah tersebut akan menjadi prioritas utama bagi penyidik.

Tewolde menyatakan, pesawat baru Ethiopia tidak memiliki catatan masalah teknis dan pilot memiliki catatan terbang sangat baik.

"Kami menerima pesawat pada 15 November 2018. Pesawat ini telah terbang lebih dari 1.200 jam. Pesawat tersebut telah terbang dari Johannesburg pagi ini," imbuh Tewolde.




TERBARU
Langganan Business Insight promo optimal
Kontan Academy
Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value How to Manage Your Gen Z Salespeople?

[X]
×