kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.673.000   5.000   0,19%
  • USD/IDR 17.892   34,00   0,19%
  • IDX 6.101   -15,36   -0,25%
  • KOMPAS100 796   1,04   0,13%
  • LQ45 598   -0,77   -0,13%
  • ISSI 212   -1,29   -0,61%
  • IDX30 338   -0,72   -0,21%
  • IDXHIDIV20 413   -2,81   -0,68%
  • IDX80 90   0,11   0,12%
  • IDXV30 111   -0,72   -0,65%
  • IDXQ30 108   -0,25   -0,23%

5.300 Orang Masih Terjebak di Pusat Penipuan Siber Myanmar Dekat Perbatasan Thailand


Selasa, 23 Juni 2026 / 17:33 WIB
5.300 Orang Masih Terjebak di Pusat Penipuan Siber Myanmar Dekat Perbatasan Thailand
Para korban pusat penipuan yang ditipu atau diperdagangkan untuk bekerja di di Myawaddy, Myanmar, 26 (REUTERS/Stringer)


Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - BANGKOK. Lebih dari 5.300 orang masih terjebak di pusat-pusat penipuan daring di wilayah perbatasan Myanmar dengan Thailand, menurut kelompok hak asasi manusia, lebih dari setahun setelah operasi besar-besaran yang sempat membebaskan ribuan korban di kawasan tersebut.

Dalam surat tertanggal 22 Juni yang ditujukan kepada kepolisian Thailand, Civil Society Network for Human Trafficking Victim Assistance (CSNHTV) menyebut para korban masih ditahan di sedikitnya empat lokasi yang berada di wilayah yang dikendalikan milisi Myanmar. Sebagian besar korban merupakan warga negara asing.

CSNHTV memperkirakan dari lebih dari 5.300 orang yang masih terjebak itu, sekitar 1.600 di antaranya adalah warga China.

Baca Juga: Presiden Min Aung Hlaing ke India, Myanmar Cari Penyeimbang Dominasi China

Selain itu terdapat sekitar 200 warga Myanmar, 20 warga Thailand, serta korban dari berbagai negara lain seperti Filipina, Taiwan, Malaysia, Brasil, Rusia, Kenya, Uganda, Rwanda, hingga Zimbabwe.

Kelompok tersebut juga menyebut para korban ditahan di kompleks-kompleks yang berada di wilayah kekuasaan Democratic Karen Buddhist Army (DKBA). Menurut CSNHTV, banyak dari lokasi itu belum dibongkar atau disentuh operasi penyelamatan lanjutan.

“Banyak dari kompleks ini belum dibubarkan atau belum menjadi sasaran operasi penyelamatan untuk membebaskan seluruh korban yang tersisa,” tulis CSNHTV dalam suratnya.

Mereka juga memperingatkan bahwa jaringan kriminal di balik pusat penipuan tersebut masih terus beroperasi dan menjalankan skema penipuan online lintas negara yang merugikan korban di berbagai belahan dunia, terutama Amerika Serikat dan Eropa.

Baca Juga: Myanmar Pangkas Hukuman Aung San Suu Kyi di Tengah Amnesty Politik

Sektor pusat penipuan siber di Asia Tenggara, termasuk di Myanmar dan Kamboja, diketahui telah berkembang menjadi industri ilegal bernilai miliaran dolar, menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Banyak korban yang direkrut secara paksa oleh jaringan perdagangan manusia dan dipaksa bekerja dalam kondisi yang penuh tekanan dan kekerasan.

Sebelumnya, Thailand pada tahun lalu memimpin operasi regional untuk membongkar jaringan scam center di wilayah perbatasan, termasuk di kawasan Myawaddy, Myanmar, yang berhasil mengevakuasi sekitar 5.000 orang.

Namun, laporan terbaru menunjukkan operasi ilegal serupa masih terus berlangsung hingga kini.

Baca Juga: Parlemen Myanmar Bakal Mulai Proses Pemilihan Presiden Baru pada 30 Maret 2026

Pihak militer Myanmar yang didukung pemerintah dan sebelumnya menyatakan telah melakukan tindakan keras terhadap jaringan penipuan tersebut belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar terbaru.




TERBARU
Langganan Business Insight promo optimal
Kontan Academy
Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value How to Manage Your Gen Z Salespeople?

[X]
×