kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.980.000   16.000   0,81%
  • USD/IDR 16.488   106,00   0,65%
  • IDX 7.830   -121,60   -1,53%
  • KOMPAS100 1.089   -17,02   -1,54%
  • LQ45 797   -14,45   -1,78%
  • ISSI 265   -3,29   -1,23%
  • IDX30 413   -7,90   -1,88%
  • IDXHIDIV20 481   -7,60   -1,56%
  • IDX80 120   -2,17   -1,77%
  • IDXV30 129   -2,94   -2,22%
  • IDXQ30 134   -2,35   -1,73%

AI Jadi Mesin Baru Alibaba di Tengah Lesunya E-Commerce


Sabtu, 30 Agustus 2025 / 22:08 WIB
AI Jadi Mesin Baru Alibaba di Tengah Lesunya E-Commerce
ILUSTRASI. Logo Grup Alibaba terlihat selama festival belanja global Singles' Day 11.11 perusahaan di kantor pusatnya di Hangzhou, Provinsi Zhejiang, Tiongkok, 11 November 2020. Alibaba fokus pada belanja instan dan AI untuk mendorong pertumbuhan. Laba operasi Alibaba turun 3% dan laba inti merosot 14%.


Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Alibaba Group melaporkan pendapatan kuartalan yang meleset dari perkiraan analis, meski bisnis komputasi awan (cloud) mencatat lonjakan signifikan berkat investasi besar di bidang kecerdasan buatan (AI).

Pada kuartal yang berakhir 30 Juni 2025, pendapatan Alibaba mencapai 247,65 miliar yuan, di bawah perkiraan konsensus LSEG sebesar 252,92 miliar yuan. 

Namun, saham Alibaba yang terdaftar di Amerika Serikat sempat naik 8% saat pembukaan perdagangan setelah laporan kinerja dirilis.

Sektor cloud menjadi sorotan dengan pertumbuhan 26% menjadi 33,40 miliar yuan (US$4,67 miliar), jauh di atas ekspektasi kenaikan 18,4%. CEO Grup Alibaba Eddie Wu menegaskan, investasi besar di AI mulai menunjukkan hasil nyata. 

Baca Juga: Industri E-Commerce Indonesia: Antara Inovasi, Efisiensi & Regulasi yang Mendukung

“Kami melihat jalur yang semakin jelas bagi AI untuk mendorong pertumbuhan kuat Alibaba,” ujarnya.

Dalam setahun terakhir, Alibaba menggelontorkan lebih dari 100 miliar yuan untuk infrastruktur AI serta riset dan pengembangan produk. Perusahaan juga gencar memperbarui teknologi AI hampir setiap pekan.

Meski demikian, bisnis e-commerce utama seperti Taobao dan Tmall hanya tumbuh 10%. Untuk pertama kalinya, Alibaba melaporkan kinerja unit China E-commerce Group yang mencakup layanan belanja instan, aplikasi pesan-antar makanan Ele.me, hingga agen perjalanan Fliggy.

Laba operasi Alibaba turun 3% dibanding tahun sebelumnya, sementara laba inti (EBITA) merosot 14% akibat tingginya investasi di bisnis belanja instan. Persaingan di sektor ini kian sengit dengan PDD Holdings, Meituan, dan JD.com yang sama-sama membakar dana untuk merebut pangsa pasar.

Analis CFRA, Angelo Zino, menilai langkah Alibaba ke bisnis belanja instan dan AI membawa perubahan besar secara operasional, namun menekan profitabilitas karena biaya akuisisi pengguna dan infrastruktur teknologi.

Baca Juga: Pemain Asing Makin Mendominasi Bisnis E-Commerce di Indonesia

Ke depan, Alibaba menargetkan bisnis belanja instan mampu menjadi pintu masuk bagi konsumen e-commerce. CEO E-commerce Group Jiang Fan bahkan memperkirakan kontribusi tambahan hingga 1 triliun yuan dalam nilai bruto barang per tahun dalam tiga tahun mendatang.

Selain itu, bisnis perdagangan internasional Alibaba tumbuh 19%, terutama di Eropa dan Timur Tengah. Perusahaan juga mengumumkan pembelian kembali saham unit logistik Cainiao dari Fosun International senilai US$ 349,8 juta.

Selanjutnya: Kinerja Adaro Andalan Melemah, Laba Bersih Anjlok 50% di Semester I-2025

Menarik Dibaca: Harga Emas Galeri 24 dan UBS di Pegadaian hari ini Sabtu (30/8/2025) Kompak Naik




TERBARU
Kontan Academy
[Intensive Workshop] AI-Powered Scenario Analysis AYDA dan Penerapannya, Ketika Debitor Dinyatakan Pailit berdasarkan UU. Kepailitan No.37/2004

[X]
×