Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Maskapai nasional Kamboja, Air Cambodia, mengumumkan pemesanan 10 unit pesawat Boeing 737 MAX, yang dinilai mencerminkan semakin eratnya hubungan antara Kamboja dan Amerika Serikat (AS).
Kesepakatan yang difinalisasi pada Desember lalu itu diumumkan secara resmi pada Singapore Airshow, Selasa (3/2/2026), dengan dihadiri pejabat serta diplomat dari AS dan Kamboja.
Boeing menyatakan, kontrak tersebut mencakup 10 pesanan pasti serta opsi tambahan hingga 10 pesawat.
Baca Juga: Emirates Lirik A350-2000: Potensi Pesawat Jumbo Baru Mengudara?
“Penandatanganan hari ini mengirimkan sinyal yang kuat dan positif mengenai kerja sama yang semakin mendalam antara Kamboja dan AS,” kata Menteri Penerbangan Sipil Kamboja Mao Havannall dalam konferensi pers.
Pembelian pesawat ini, yang pertama kali dilaporkan Reuters pada Agustus tahun lalu, merupakan bagian dari negosiasi Kamboja untuk menurunkan tarif impor AS atas produk-produknya.
Tarif tersebut sebelumnya terancam naik hingga 49%, sebelum akhirnya disepakati turun menjadi 19%.
Hubungan Kamboja dan AS yang merupakan pasar ekspor terbesar Kamboja mengalami perbaikan sejak Presiden Donald Trump kembali menjabat, setelah sempat memburuk pada masa pemerintahan Presiden Joe Biden akibat isu hak asasi manusia dan kebebasan politik di Phnom Penh.
Baca Juga: Sekutu Maduro Alex Saab Dikabarkan Ditangkap, Hasil Operasi Gabungan AS-Venezuela
Kedua negara telah menyepakati perjanjian dagang, dan pada Agustus lalu Kamboja bahkan menominasikan Trump untuk Penghargaan Nobel Perdamaian setelah ia disebut berhasil memediasi penghentian konflik bersenjata dengan Thailand.
Bulan lalu, Kamboja juga menyatakan akan bergabung dengan Dewan Perdamaian Trump.
Kesepakatan pembelian pesawat ini sebelumnya telah masuk dalam buku pesanan Boeing pada Desember, namun identitas maskapai pembeli baru diumumkan secara resmi dalam ajang pameran udara pekan ini.
Selama ini, Air Cambodia mengoperasikan pesawat buatan Eropa. Boeing telah melakukan pembicaraan dengan maskapai tersebut selama beberapa waktu terkait rencana peralihan armada.
Baca Juga: Harga Kedelai: China Siap Borong 20 Juta Ton, Petani AS Untung Besar?
Sementara itu, Badan Perdagangan Internasional AS (International Trade Administration) mencatat bahwa perusahaan-perusahaan AS menandatangani kontrak pengadaan pemerintah asing senilai US$244 miliar pada 2025, hampir tiga kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.
Lonjakan tersebut didorong oleh peningkatan tajam pesanan pesawat jet Boeing.













