kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45774,37   -28,65   -3.57%
  • EMAS1.028.000 0,00%
  • RD.SAHAM -0.06%
  • RD.CAMPURAN -0.05%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.02%

Akhirnya! China mau berunding soal kode etik Laut China Selatan dengan ASEAN


Kamis, 09 Juli 2020 / 07:00 WIB
Akhirnya! China mau berunding soal kode etik Laut China Selatan dengan ASEAN
ILUSTRASI. Kapal penjaga pantai atau daerah perbatasan laut Filipina di Laut China Selatan.

Reporter: Barratut Taqiyyah Rafie | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - TAIPEI. Setelah berbulan-bulan lamanya unjuk kekuatan militer di Laut China Selatan, pemerintah Tiongkok sepakat untuk memulai kembali perundingan dengan negara-negara Asia Tenggara yang khawatir mengenai kode etik kelautan. Langkah ini diambil untuk memulihkan citranya di luar negeri setelah penyebaran Covid-19.

Melansir Voice of America (VOA), Beijing mengatakan pada 1 Juli dalam sebuah konsultasi dengan para pemimpin Asia Tenggara bahwa mereka akan melanjutkan negosiasi mengenai kode etik Laut China Selatan yang sudah tertunda sejak tahun 2002. Kode etik ini akan membantu kapal menghindari kecelakaan dan menyelesaikan kecelakaan di Laut China Selatan yang luas dan ramai.

Baca Juga: Setelah 6 tahun, dua kapal induk AS kembali bersanding di Laut China Selatan

China dan mitra perundingannya yang beranggotakan 10 negara anggota ASEAN, sejauh ini menolak untuk membahas topik tersebut pada tahun ini karena tengah bergulat dengan wabah Covid-19.

Sebelumnya, kondisi di wilayah Laut China Selatan sempat memanas. Di paruh pertama tahun ini, China tercatat sudah menerbangkan pesawat militer setidaknya delapan kali di sudut laut dekat Taiwan dan mengirim kapal survei ke saluran-saluran saluran air yang diklaim oleh Malaysia dan Vietnam. Bahkan pada pekan lalu, negara itu mengadakan latihan militer Laut China Selatan dengan fokus nyata pada serangan amfibi.

Baca Juga: India dan Filipina siap lawan sikap agresif Tiongkok di Laut China Selatan

“Saya pikir alasan mengapa China menawarkan pembicaraan adalah karena merasa sangat yakin bahwa itu berada dalam posisi yang kuat dan dapat membentuk arah atau lintasan diskusi dan rekan-rekannya tidak dalam posisi yang kuat, karena virus corona (dan) karena mereka tidak memiliki aset apa pun di lautan,” jelas Stephen Nagy, seorang profesor senior bidang studi politik dan internasional di International Christian University di Tokyo kepada VOA.



TERBARU

[X]
×