Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Aktivitas manufaktur China tumbuh lebih cepat pada Agustus 2026 seiring membaiknya permintaan. Kondisi tersebut tercermin dari peningkatan produksi, pesanan baru, dan ekspor.
Mengutip Reuters, Selasa (1/9/2026), RatingDog China General Manufacturing Purchasing Managers' Index (PMI) yang disusun S&P Global naik menjadi 51,5 pada Agustus dari 50,9 pada Juli. Angka tersebut juga melampaui ekspektasi analis dalam jajak pendapat Reuters sebesar 51.
Baca Juga: Industri Manufaktur Australia Masih Ekspansif, Pesanan Baru Tercepat Sejak Januari
Indeks PMI di atas 50 menunjukkan sektor manufaktur berada dalam fase ekspansi, sedangkan angka di bawah 50 menandakan kontraksi.
Produksi pabrik meningkat pada laju tercepat dalam tiga bulan terakhir, didorong oleh permintaan yang lebih kuat serta peningkatan kapasitas produksi.
Pesanan baru juga tumbuh lebih cepat. Kenaikan tersebut ditopang oleh peningkatan pesanan ekspor baru yang mencatat laju pertumbuhan tercepat dalam enam bulan.
Sementara itu, tingkat penyerapan tenaga kerja tidak berubah setelah meningkat pada Juni dan Juli. Namun, penguatan permintaan mendorong akumulasi pekerjaan yang belum terselesaikan ke level tertinggi sejak Maret.
Persediaan barang jadi juga meningkat pada laju tercepat sejak September 2025. Perusahaan manufaktur kembali meningkatkan aktivitas pembelian setelah melakukan pengurangan pada Juli.
Tekanan biaya input sedikit meningkat dibandingkan Juli. Namun, S&P Global menilai tekanan biaya masih relatif moderat.
Di sisi lain, produsen memangkas harga output untuk pertama kalinya sepanjang tahun ini. Penurunan harga tersebut dipicu persaingan yang ketat serta pemberian diskon promosi.
Baca Juga: Bursa Australia Tertekan Selasa (1/9), Sektor Teknologi dan Konsumer Jadi Beban
Tantangan Ekonomi China
Perbaikan aktivitas manufaktur terjadi ketika permintaan domestik China masih menghadapi tekanan. Pelemahan permintaan dalam negeri membebani pemulihan ekonomi China yang bernilai sekitar US$ 20 triliun.
Selain itu, ketidakpastian eksternal seperti ketegangan perdagangan dan risiko geopolitik masih membayangi prospek ekonomi serta menekan permintaan.
Pertumbuhan ekonomi China juga melambat menjadi 4,3% pada kuartal II 2026. Pertumbuhan tersebut merupakan yang paling lambat dalam lebih dari tiga tahun dan berada di bawah perkiraan.
Baca Juga: Harga Emas Stabil, Investor Tunggu Data Tenaga Kerja AS dan Pantau Konflik AS-Iran
Sebagai perbandingan, ekonomi China tumbuh 5% pada kuartal I 2026.
Ke depan, perusahaan manufaktur masih optimistis terhadap prospek produksi dalam 12 bulan mendatang.
Namun, tingkat kepercayaan secara keseluruhan justru turun ke level terendah sejak Januari, menurut survei tersebut.














