kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.630.000   -15.000   -0,57%
  • USD/IDR 17.913   43,00   0,24%
  • IDX 5.643   -177,60   -3,05%
  • KOMPAS100 728   -24,24   -3,22%
  • LQ45 553   -19,90   -3,47%
  • ISSI 197   -4,65   -2,31%
  • IDX30 314   -10,96   -3,37%
  • IDXHIDIV20 389   -11,74   -2,93%
  • IDX80 83   -2,75   -3,22%
  • IDXV30 107   -1,77   -1,63%
  • IDXQ30 102   -3,08   -2,93%

Aktivitas Manufaktur China Kembali Ekspansi Ditopang Lonjakan Permintaan Produk AI


Selasa, 30 Juni 2026 / 15:12 WIB
Aktivitas Manufaktur China Kembali Ekspansi Ditopang Lonjakan Permintaan Produk AI
ILUSTRASI. Aktivitas manufaktur China melesat di Juni 2026. Ekspor semikonduktor dan produk AI mendongkrak kinerja, meski konsumsi domestik masih lemah. (AFP/CN-STR)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - BEIJING. Aktivitas manufaktur China kembali memasuki fase ekspansi pada Juni 2026. Kinerja sektor industri negeri Tirai Bambu terdorong oleh meningkatnya permintaan global terhadap semikonduktor, komputer, dan berbagai produk terkait kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), di tengah masih lemahnya sektor properti dan konsumsi domestik.

Data ini menunjukkan bahwa gelombang investasi AI global menjadi penopang penting bagi sektor manufaktur di ekonomi terbesar kedua dunia tersebut. Permintaan ekspor yang kuat, terutama dari Amerika Serikat (AS), mampu mengimbangi tekanan akibat perlambatan ekonomi domestik serta ketidakpastian geopolitik.

Berdasarkan survei National Bureau of Statistics (NBS), indeks aktivitas manufaktur atau Purchasing Managers' Index (PMI) resmi naik menjadi 50,3 pada Juni, dari 50,0 pada Mei. Angka tersebut juga melampaui proyeksi median ekonom dalam jajak pendapat Reuters yang memperkirakan PMI tetap berada di level 50,0.

PMI di atas level 50 menandakan aktivitas manufaktur mengalami ekspansi, sedangkan angka di bawah 50 menunjukkan kontraksi.

Direktur China di Eurasia Group, Dan Wang, mengatakan perbaikan aktivitas manufaktur didorong oleh meningkatnya ekspor produk-produk teknologi berbasis AI dan strategi perusahaan untuk mempercepat pengiriman barang sebelum tarif baru Amerika Serikat mulai berlaku.

Baca Juga: Bocoran iPhone 18 Pro Muncul di Dark Web

"Ekspor untuk memenuhi permintaan internasional terhadap chip dan produk terkait AI, ditambah percepatan pengiriman sebelum tarif baru AS berdasarkan Section 301 yang dijadwalkan berlaku pada akhir Juli, serta membaiknya permintaan domestik berkat turunnya biaya bahan baku, menjadi faktor utama yang menopang perbaikan ini," ujar Wang.

Ia menambahkan, jumlah proyek infrastruktur domestik di China juga mulai meningkat dalam satu bulan terakhir sehingga ikut mendukung aktivitas industri.

Ekspor AI Dorong Produksi Pabrik

Para pelaku industri pelayaran mengungkapkan bahwa sejumlah peritel besar di Amerika Serikat mempercepat pemesanan produk dari China sekitar empat hingga enam minggu lebih awal. Langkah ini dilakukan untuk mengamankan persediaan barang menjelang musim belanja Black Friday dan Natal sebelum kenaikan tarif impor diperkirakan berlaku pada akhir tahun.

Sejalan dengan itu, subindeks pesanan ekspor baru kembali masuk ke zona ekspansi dengan naik menjadi 50,1 pada Juni dari 48,6 pada Mei.

Sementara itu, indeks produksi meningkat menjadi 51,4 dari 51,2, sedangkan indeks pesanan baru secara keseluruhan naik menjadi 51,2 dari 49,9.

Meski demikian, tekanan deflasi masih membayangi sektor manufaktur. Indeks harga produsen di tingkat pabrik turun menjadi 48,2 dari 51,9 pada Mei setelah lima bulan berturut-turut berada di zona ekspansi. Di saat yang sama, lapangan kerja di sektor manufaktur juga terus mengalami penurunan.

Ekonom Senior Economist Intelligence Unit, Xu Tianchen, menilai momentum ekspor masih akan berlanjut karena kuatnya investasi AI secara global.

Baca Juga: Harga Minyak Diproyeksi Anjlok 20% pada Akhir Juni, Pasar Cermati Perundingan AS-Iran

"Kekuatan ekspor diperkirakan akan terus berlanjut, didorong oleh permintaan investasi AI di tingkat global. Selain itu, pemerintah kemungkinan akan meluncurkan lebih banyak kebijakan pelonggaran ekonomi," ujarnya.

Menurut Xu, pemerintah China juga memiliki ruang untuk mempercepat belanja fiskal maupun melonggarkan kebijakan moneter.

"Sebagai contoh, realisasi belanja fiskal masih tertinggal dibandingkan rencana anggaran sehingga kemungkinan akan dipercepat dalam beberapa bulan mendatang. Selain itu, masih tersedia ruang untuk pelonggaran kebijakan moneter," katanya.

Di luar sektor manufaktur, PMI nonmanufaktur yang mencakup sektor jasa dan konstruksi juga naik menjadi 50,2 dari 50,1 pada Mei. Sementara itu, PMI komposit meningkat menjadi 50,6 dibandingkan 50,5 pada bulan sebelumnya.

Industri AI Kontras dengan Pelemahan Sektor Lain

Meski sektor teknologi berbasis AI memberikan dorongan besar bagi industri, perekonomian China masih menghadapi tantangan struktural. Krisis properti yang berkepanjangan belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan, sementara konsumsi rumah tangga tetap lemah.

Permintaan internasional terhadap semikonduktor untuk pusat data (data center) dan perangkat elektronik canggih terus meningkat sehingga menguntungkan industri manufaktur China. Namun, permintaan terhadap produk manufaktur lainnya masih relatif lesu.

Data perdagangan Mei menunjukkan nilai ekspor furnitur hanya tumbuh 1,9% secara tahunan. Sebaliknya, ekspor peralatan pemrosesan data otomatis melonjak hingga 60% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Pada saat yang sama, penjualan ritel China—yang menjadi indikator utama permintaan domestik—mengalami penurunan untuk pertama kalinya dalam lebih dari tiga tahun. Harga rumah baru juga mencatat penurunan yang semakin dalam.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Turun 1%, Pasar Tunggu Kepastian Dialog AS-Iran

Kepala Ekonom China Capital Economics, Julian Evans-Pritchard, menilai perbaikan sektor manufaktur saat ini masih sangat bergantung pada ekspor dan industri AI.

"Perbaikan yang terjadi masih sangat bergantung pada ekspor dan teknologi terkait AI. Meski aktivitas manufaktur membaik, sektor ini tampaknya kembali bergerak menuju tekanan deflasi," ujarnya.

Target Pertumbuhan Ekonomi Masih Menantang

Pemerintah China menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 4,5% hingga 5,0% pada 2026, sedikit lebih rendah dibandingkan realisasi pertumbuhan sekitar 5% pada tahun sebelumnya.

Namun sejumlah ekonom memperingatkan bahwa momentum pertumbuhan masih rentan. Meredanya aksi pembelian antisipatif akibat konflik Timur Tengah, kenaikan biaya input produksi, serta menurunnya persediaan pelanggan luar negeri sambil menunggu perkembangan gencatan senjata dapat mengurangi permintaan ekspor China dalam beberapa bulan mendatang.

Di sisi lain, pertemuan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping pada Mei lalu belum menghasilkan terobosan berarti, baik terkait kebijakan tarif maupun upaya Beijing memanfaatkan pengaruhnya terhadap Teheran untuk membantu mengakhiri perang Iran.

Kepala Ekonom China ING, Lynn Song, memperkirakan perlambatan ekonomi China akan semakin terlihat pada kuartal II tahun ini.

"Data ekonomi yang lemah dalam beberapa bulan terakhir kemungkinan akan menyebabkan perlambatan yang cukup signifikan pada pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) kuartal kedua. Kami memperkirakan pertumbuhan melambat menjadi sekitar 4,6% secara tahunan, dengan risiko yang masih cenderung mengarah ke pelemahan," ujarnya.


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU

[X]
×