Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga minyak dunia melemah sekitar 1% pada perdagangan Selasa (30/6/2026), berbalik turun setelah sempat menguat pada sesi sebelumnya.
Pelemahan ini juga membuat harga minyak berpotensi mencatat penurunan bulanan seiring pelaku pasar mencermati peluang perundingan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di Doha, di tengah kondisi gencatan senjata sementara yang masih rapuh dalam konflik yang telah berlangsung selama empat bulan.
Kontrak berjangka minyak mentah Brent untuk pengiriman Agustus, yang berakhir pada Selasa, turun 1% atau US$ 0,75 menjadi US$ 72,40 per barel pada pukul 06.53 GMT. Level tersebut sekitar US$ 20 atau 22% lebih rendah dibandingkan harga penutupan bulan lalu.
Sementara itu, kontrak Brent yang lebih aktif diperdagangkan untuk pengiriman September melemah 0,6% atau US$ 0,45 menjadi US$ 73,46 per barel.
Di sisi lain, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Agustus turun 0,8% atau US$ 0,57 ke level US$ 70,18 per barel. Sepanjang bulan ini, harga WTI diperkirakan terkoreksi sekitar US$ 17 atau 19% dibandingkan penutupan pada 29 Mei.
Baca Juga: Cadangan Minyak Strategis AS Turun 5,5 Juta Barel, Terendah Sejak 1983
Baik Brent maupun WTI kini bergerak mendekati level harga sebelum pecahnya konflik.
Kepala Analis Pasar KCM Trade, Tim Waterer, mengatakan bahwa pelaku pasar mulai memasukkan harapan akan hasil positif dari pembicaraan di Doha ke dalam perhitungan harga minyak.
"Investor mulai memperhitungkan harapan akan hasil positif dari pembicaraan di Doha, meskipun normalisasi arus pelayaran melalui Selat Hormuz secara nyata masih belum terlihat," ujar Waterer.
Menurutnya, pasar tetap bersikap optimistis namun masih berhati-hati mengingat belum ada tanda-tanda konkret mengenai meredanya ketegangan geopolitik.
"Pasar menunjukkan harapan yang berhati-hati, tetapi masih melakukan lindung nilai hingga muncul tanda-tanda yang lebih nyata mengenai deeskalasi konflik," tambahnya.
Di sisi lain, Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi mengatakan kepada televisi pemerintah pada Senin bahwa para ahli dari Iran dan Oman akan segera memulai pembicaraan mengenai penetapan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz dalam beberapa hari mendatang. Ia juga menegaskan Iran akan berupaya menghalangi kapal-kapal yang berlayar di luar jalur yang telah ditentukan.
Namun demikian, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menepis kemungkinan adanya perundingan dengan Amerika Serikat dalam waktu dekat.
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga belum memberikan kepastian mengenai rencana pertemuan tersebut.
"Pertemuan di Doha mungkin akan menjadi sesuatu yang penting, mungkin juga tidak. Kita akan mengetahuinya nanti," kata Trump kepada wartawan di Ruang Oval.
Ketidakpastian mengenai apakah kedua negara benar-benar akan bertemu menunjukkan rapuhnya kesepakatan gencatan senjata yang dicapai pada 17 Juni. Konflik tersebut telah mengganggu arus distribusi minyak global melalui Selat Hormuz sekaligus menjadi tantangan politik bagi Trump menjelang pemilihan anggota Kongres AS pada November mendatang.
Baca Juga: Singapura Akan Menaikkan Tarif Listrik 17% Imbas Krisis Timur Tengah
Selain faktor geopolitik, pasar juga dibayangi kekhawatiran terhadap prospek permintaan minyak dari China, yang merupakan importir minyak mentah terbesar di dunia.
Kepala Riset Sparta Commodities Neil Crosby mengatakan pasar masih menunggu sinyal yang lebih kuat mengenai peningkatan pembelian minyak oleh China.
"Kami masih menunggu bukti lebih lanjut mengenai peningkatan pembelian minyak oleh China dan belum bisa bertaruh akan adanya kembalinya permintaan dalam skala besar dari importir minyak mentah terbesar di dunia tersebut," ujarnya.
Di tengah ketidakpastian tersebut, produsen minyak dan gas alam cair (LNG) di Timur Tengah tetap melanjutkan aktivitas pemuatan kargo meskipun terjadi kembali serangan terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz serta meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran dalam beberapa hari terakhir.
Data pelayaran menunjukkan lalu lintas kapal di kawasan tersebut pada pekan lalu mencapai level tertinggi sejak konflik pecah pada akhir Februari, mengindikasikan aktivitas ekspor energi masih berlangsung meski risiko keamanan tetap tinggi.














