Sumber: Al Jazeera | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
Ia menambahkan, untuk menghidupkan kembali dialog keamanan strategis, AS perlu melakukan perubahan signifikan dalam pendekatan kebijakan luar negerinya terhadap Rusia.
“Diperlukan reformasi besar, perbaikan dalam pendekatan keseluruhan AS terhadap hubungan dengan kami,” kata Ryabkov.
Meski demikian, ia menegaskan Rusia tidak berniat memulai perlombaan senjata baru setelah perjanjian nuklir tersebut berakhir.
Kremlin sebut situasi makin ‘berbahaya’
Secara terpisah, juru bicara Kremlin Dmitry Peskov memperingatkan dunia akan memasuki fase yang “berbahaya” seiring berakhirnya perjanjian tersebut.
“Dalam beberapa hari ke depan, dunia akan berada dalam posisi yang lebih berbahaya dibanding sebelumnya,” kata Peskov. Ia menambahkan, dua kekuatan nuklir terbesar dunia akan kehilangan dokumen utama yang selama ini membatasi dan mengontrol persenjataan strategis mereka.
Perjanjian New START ditandatangani pada 2010 oleh mantan Presiden AS Barack Obama dan Presiden Rusia saat itu, Dmitry Medvedev. Perjanjian ini membatasi jumlah hulu ledak nuklir strategis yang dapat dikerahkan oleh AS dan Rusia.
Perjanjian tersebut mulai berlaku pada Februari 2011 dan diperpanjang pada 2021 selama lima tahun setelah Presiden AS saat itu, Joe Biden, menjabat.
Dalam kesepakatan ini, Moskow dan Washington berkomitmen untuk mengerahkan tidak lebih dari 1.550 hulu ledak nuklir strategis serta maksimal 700 rudal jarak jauh dan pesawat pengebom.
Tonton: Pemerintah Bakal Libatkan Swasta Untuk Proyek Gengtengisasi
Perjanjian ini juga membatasi total 800 peluncur, termasuk rudal balistik antarbenua, serta mengizinkan masing-masing pihak melakukan hingga 18 inspeksi tahunan ke lokasi senjata nuklir strategis untuk memastikan kepatuhan terhadap batasan perjanjian.













