Reporter: Nina Dwiantika | Editor: Nina Dwiantika
KONTAN.CO.ID - FRANKFURT. Otoritas pengawas keuangan Jerman, BaFin, memperingatkan meningkatnya ancaman siber terhadap industri perbankan seiring pesatnya perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Regulator menilai teknologi AI terbaru dapat memperbesar risiko serangan digital terhadap lembaga keuangan.
Dalam pernyataan pada Selasa (12/5) yang dilaporan Reuters, Presiden BaFin Mark Branson mengatakan, model AI generasi baru mampu menemukan celah keamanan pada sistem teknologi informasi lama maupun baru dengan sangat cepat. Kondisi ini dinilai berpotensi dimanfaatkan pelaku kejahatan siber untuk menyerang sektor keuangan.
“Model AI baru dapat mengidentifikasi banyak kerentanan pada sistem TI baru dan lama dengan kecepatan luar biasa,” ujar Branson, dikutip Reuters (12/5).
Ia menambahkan, celah keamanan yang ditemukan AI tersebut juga bisa dieksploitasi dalam waktu semakin singkat. Karena itu, industri keuangan dinilai perlu segera memperkuat sistem perlindungan digital.
BaFin menyebut, investasi pada keamanan siber kini menjadi kebutuhan mendesak dan tidak bisa ditunda. Menurut regulator, sektor keuangan memiliki kapasitas untuk meningkatkan perlindungan sistem di tengah ancaman yang terus berkembang.
Baca Juga: China Minta Bank Hentikan Pinjaman Baru ke Kilang yang Disanksi AS
Peringatan ini muncul setelah hadirnya Mythos, model AI buatan Anthropic, yang disebut memicu perlombaan di kalangan bank global untuk mengakses dan menguji teknologi tersebut. Regulator di berbagai negara juga mulai menelaah dampak AI baru terhadap keamanan sistem perbankan.
Sejumlah pakar keamanan siber menilai Mythos membawa tantangan besar bagi bank, terutama yang masih mengandalkan sistem teknologi lama atau legacy system.
Untuk memperkuat pengawasan, BaFin mengumumkan pembentukan divisi baru yang akan melakukan inspeksi terarah ke perusahaan jasa keuangan. Pemeriksaan ini difokuskan pada kesiapan teknologi informasi dan ketahanan siber.
Menurut Branson, model inspeksi baru itu akan berlangsung lebih singkat dibanding audit menyeluruh sehingga regulator dapat menjangkau lebih banyak institusi dan merespons insiden secara lebih cepat.
Baca Juga: Bank Sentral Selandia Baru: Sistem Keuangan Tetap Tangguh di Tengah Risiko Global













