Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Aksi demonstrasi menentang kampanye pemboman yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran berubah menjadi kerusuhan di Pakistan dan Iraq pada Minggu. Sementara itu, di sejumlah negara lain, warga diaspora Iran justru turun ke jalan untuk merayakan kematian Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei.
Berdasarkan laporan Reuters, sedikitnya 23 orang dilaporkan tewas dalam bentrokan di Pakistan. Rinciannya, 10 orang meninggal di kota pelabuhan Karachi setelah petugas keamanan di konsulat AS menembaki demonstran yang menerobos tembok luar. Sebanyak 11 orang tewas di kota utara Skardu setelah massa membakar kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan dua orang lainnya tewas di ibu kota Islamabad.
Di Irak, polisi menembakkan gas air mata dan granat kejut untuk membubarkan ratusan demonstran pro-Iran yang berkumpul di luar kawasan diplomatik Green Zone di Baghdad, lokasi kedutaan besar Amerika Serikat.
Namun suasana berbeda terlihat di Paris, Prancis, di mana ribuan orang berkumpul merayakan kabar tersebut. Mereka mengibarkan bendera monarki Iran sebelum revolusi, membawa mawar merah, serta botol sampanye.
Tetangga Iran di timur dan barat, yakni Pakistan dan Iraq, merupakan dua negara dengan populasi Muslim Syiah terbesar di dunia setelah Iran. Kedua negara ini menjadi lokasi sebagian kerusuhan terburuk dari massa yang marah atas serangan Amerika Serikat dan Israel.
Baca Juga: Prediksi Trump: Konflik Iran Bakal Berlangsung 4 Minggu!
Di Karachi, para demonstran meneriakkan slogan “Death to America! Death to Israel!” di depan konsulat AS. Wartawan Reuters melaporkan mendengar suara tembakan dan melihat gas air mata ditembakkan di jalan-jalan sekitar.
Juru bicara pemerintah daerah, Sukhdev Assardas Hemnani, mengatakan petugas keamanan konsulat menembaki massa setelah mereka berhasil menembus lapisan keamanan luar. Demonstran juga membakar sebuah kendaraan di depan gerbang utama dan bentrok dengan polisi.
“Kami terus berkomunikasi dengan pejabat konsulat. Mereka semua dalam kondisi aman,” kata Hemnani.
Kedutaan Besar Amerika Serikat di Islamabad menyatakan melalui platform X bahwa mereka memantau laporan demonstrasi dan mengimbau warga AS untuk meningkatkan kewaspadaan keamanan pribadi.
Polisi mengatakan sebanyak 34 orang mengalami luka-luka. Rumah Sakit Sipil Karachi menyebut semua korban tewas dan terluka terkena tembakan. Pemerintah Provinsi Sindh memerintahkan penyelidikan atas insiden tersebut.
Baca Juga: Serangan Balasan Iran Picu Gangguan Bisnis Terluas di Kawasan Teluk Sejak COVID-19
Kantor PBB Dibakar
Di Skardu, gedung Perserikatan Bangsa-Bangsa dibakar oleh massa. Kota tersebut berada di wilayah Gilgit-Baltistan, provinsi di Pakistan utara yang memiliki populasi Muslim Syiah terbesar di negara itu.
“Sejumlah besar demonstran berkumpul di luar kantor PBB dan membakar bangunan tersebut,” kata juru bicara pemerintah daerah Shabbir Mir kepada Reuters.
Gelombang protes juga terjadi di berbagai wilayah Pakistan lainnya. Para demonstran membawa bendera hitam dan meneriakkan slogan anti-Amerika serta anti-Israel. Di kota Lahore, ratusan orang berkumpul di luar konsulat AS dan sempat terjadi bentrokan kecil dengan polisi yang menembakkan gas air mata.
Menteri Dalam Negeri Pakistan Mohsin Naqvi meminta para demonstran tetap menjaga aksi damai.
“Kami berdiri bersama Anda,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa rakyat Pakistan turut berduka bersama rakyat Iran.
Di Islamabad, semua jalan menuju kawasan diplomatik Red Zone ditutup untuk lalu lintas. Polisi menembakkan gas air mata dan peluru tajam ketika ribuan demonstran mencoba menuju kompleks diplomatik, menewaskan dua orang dan melukai hampir 10 lainnya.
Tonton: Presiden Amerika Serikat Donald Trump Konfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei
Reaksi di Negara Lain
Aksi protes juga terjadi di negara-negara yang memiliki pengaruh Iran. Di kota Kano, Nigeria, ribuan orang berunjuk rasa secara damai dengan membawa bendera Iran dan foto Ali Khamenei.
Sebaliknya, di negara-negara Barat serta wilayah dengan populasi diaspora Iran yang besar, banyak warga justru merayakan kabar tersebut.
Di Paris, sejumlah orang membawa foto anggota keluarga yang menjadi korban selama puluhan tahun pemerintahan ulama di Iran. Ada pula yang mengibarkan bendera Israel, Amerika Serikat, dan Prancis.
Sementara di Lisbon, Portugal, warga Iran yang hidup di pengasingan berkumpul di depan kedutaan Iran.
“Kami berpesta semalam hingga pukul 3 pagi. Kami menari, meneriakkan slogan, dan bernyanyi. Itu benar-benar luar biasa,” kata Maximilien Jazani, 57 tahun.
Menurutnya, rakyat Iran ingin dapat memilih dan menentukan sendiri bentuk pemerintahan yang mereka inginkan.












