Penulis: Prihastomo Wahyu Widodo | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID - China menuduh Amerika Serikat (AS) menerapkan "hegemoni AI" setelah Washington mengancam akan menyelidiki hingga menjatuhkan sanksi terhadap perusahaan kecerdasan buatan (AI) asal China yang diduga mencuri teknologi milik perusahaan AS.
Kementerian Perdagangan China pada Senin (27/7) menyatakan ancaman tersebut tidak memiliki dasar hukum maupun fakta yang memadai.
Beijing juga memperingatkan akan mengambil langkah balasan jika kepentingan perusahaan-perusahaannya dirugikan.
"Jika ada tindakan yang secara nyata merugikan kepentingan China, kami akan mengambil semua langkah yang diperlukan untuk melindungi hak dan kepentingan sah China," kata juru bicara kementerian tersebut, dikutip Reuters.
Baca Juga: CXMT IPO dengan Valuasi Rp1.536 Triliun, Apa yang Membuatnya Istimewa?
Mengapa China Menyebut Ada Hegemoni AI?
China menilai AS menggunakan tuduhan pencurian teknologi sebagai alasan untuk membatasi perkembangan industri AI China.
Menurut Beijing, ancaman sanksi terhadap perusahaan AI China merupakan bagian dari upaya mempertahankan dominasi AS di sektor kecerdasan buatan.
Tudingan itu muncul setelah sejumlah pejabat AS menyebut perusahaan AI asal Beijing, Moonshot AI, dapat menghadapi penyelidikan, sanksi finansial, hingga pembatasan perdagangan.
Washington menuduh Moonshot menggunakan teknik model distillation untuk menyalin model AI canggih buatan perusahaan Amerika. Teknik ini memanfaatkan keluaran dari model AI yang lebih kuat untuk melatih model lain
Namun, AS membedakan penggunaan distillation yang sah dengan praktik ekstraksi data dalam skala besar yang dianggap melanggar hak kekayaan intelektual.
Baca Juga: Rapor 18 Bulan Donald Trump: AI Bersinar, Inflasi dan Biaya Hidup Masih Membebani
Moonshot AI Jadi Pusat Perselisihan
Perselisihan terbaru berpusat pada Moonshot AI, pengembang model AI Kimi K3 yang belakangan menarik perhatian berkat kemampuan pemrogramannya.
Direktur White House Office of Science and Technology Policy Michael Kratsios pekan lalu mengatakan pemerintah AS memiliki informasi bahwa Moonshot menggunakan teknik distillation terhadap model Claude Fable 5 milik Anthropic untuk mengembangkan Kimi K3.
Kratsios juga menuduh Moonshot membangun platform internal untuk melakukan distillation dalam skala besar dan menggunakan berbagai metode akses agar tidak terdeteksi.
Tidak hanya itu, Kratsios juga menuduh China memperoleh server berbasis chip Nvidia GB300 dan mengaksesnya dari Thailand untuk melatih model AI.
Moonshot membantah tuduhan tersebut. Kepada National Business Daily, perusahaan menyatakan peningkatan kemampuan Kimi K3 berasal dari pengembangan arsitektur model secara mandiri, bukan melalui teknik distillation.
Baca Juga: Korea Selatan Gandeng Nvidia hingga OpenAI, Bidik Jadi Kekuatan AI Global
Fase Baru Perang Teknologi AS-China
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan perusahaan AI China dapat dikenai sanksi finansial atau dimasukkan ke dalam Entity List Departemen Perdagangan AS.
Kondisi itu bisa membatasi akses terhadap chip, perangkat lunak, dan layanan teknologi asal AS.
"Kami mendukung AI open source dan inovasi yang dihasilkannya. Namun, open source bukan berarti bebas menggunakan kekayaan intelektual Amerika," tulis Bessent di akun X pribadinya.
Sementara itu, Anthropic mengungkapkan bahwa pada Februari lalu mereka menemukan lebih dari 3,4 juta interaksi dengan model Claude yang dikaitkan dengan Moonshot.
Menurut Anthropic, ratusan akun palsu digunakan untuk mengakses kemampuan model AI tersebut, mulai dari penalaran, pemrograman, analisis data, hingga computer vision.
Beijing menegaskan akan mengambil langkah yang diperlukan jika kebijakan AS dinilai merugikan kepentingan China.
Baca Juga: Belanja AI Membengkak, Kepercayaan Investor terhadap Tesla Diuji














