Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - China berhasil menggeser Amerika Serikat (AS) dari posisi puncak daftar superkomputer tercepat di dunia melalui sistem LineShine yang menggunakan chip rancangan dalam negeri.
Namun, sejumlah pakar menilai pencapaian tersebut belum tentu mencerminkan keunggulan China dalam perlombaan kecerdasan buatan (AI) global.
Baca Juga: Keir Starmer Mundur, Inggris Hadapi Krisis Kepemimpinan
Melansir Reuters Selasa (23/6/2026), dalam daftar TOP500 edisi Juni 2026, LineShine yang beroperasi di National Supercomputing Centre Shenzhen menempati posisi pertama sebagai superkomputer tercepat di dunia.
Ini menjadi pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir China kembali memasukkan sistemnya ke dalam pemeringkatan tersebut.
LineShine mengungguli El Capitan, superkomputer milik Lawrence Livermore National Laboratory di AS yang digunakan pemerintah AS untuk mendukung pengelolaan dan pengembangan persenjataan nuklirnya.
Pencapaian ini hadir di tengah persaingan teknologi yang semakin ketat antara China dan AS. Pada Senin (22/6), Presiden AS Donald Trump bahkan menandatangani perintah eksekutif yang bertujuan memperkuat posisi AS dalam bidang komputasi kuantum.
Meski demikian, para analis menilai kemenangan China di TOP500 tidak serta-merta menunjukkan bahwa negara tersebut memiliki sistem komputasi AI paling kuat di dunia.
Baca Juga: Gelombang Panas Ekstrem Landa Eropa, Sedikitnya 18 Orang Tewas
Tidak Dirancang untuk Beban Kerja AI
TOP500 merupakan pemeringkatan yang menggunakan serangkaian uji benchmark untuk mengukur kemampuan superkomputer dalam menyelesaikan simulasi ilmiah kompleks, seperti interaksi atom dan perhitungan ilmiah berskala besar.
Namun dalam beberapa tahun terakhir, perkembangan AI telah mengubah lanskap komputasi global.
Baca Juga: Dolar Tembus Level Tertinggi Setahun, Yen Jepang Nyaris ke Titik Terendah 40 Tahun
Perusahaan teknologi besar seperti Microsoft, Amazon, dan Google membangun infrastruktur komputasi raksasa yang secara khusus dirancang untuk melatih model AI, bukan untuk menjalankan benchmark TOP500.
Sebagian besar perusahaan tersebut juga tidak mendaftarkan sistem mereka ke dalam pemeringkatan TOP500.
Dalam pengujian benchmark yang lebih mencerminkan kebutuhan komputasi AI, LineShine hanya menempati posisi keempat.
Jimmy Goodrich, Senior Fellow di Institute for Global Conflict and Cooperation, University of California, menilai, hasil TOP500 tidak sepenuhnya mencerminkan peta kekuatan komputasi AI saat ini.
“Jika perusahaan hyperscaler mengikutsertakan sistem mereka, gelar ‘komputer tercepat di dunia’ ini kemungkinan tidak akan masuk lima besar,” ujarnya.
Penelitian yang dipublikasikan tahun lalu juga menunjukkan bahwa sistem Colossus milik xAI berpotensi memiliki kapasitas komputasi yang lebih besar dibanding El Capitan milik pemerintah AS.
Baca Juga: Tertekan Prospek Suku Bunga AS dan Penguatan Dolar, Harga Tembaga Melemah
Simbol Kemandirian Teknologi China
Sejumlah pakar menilai langkah China kembali berpartisipasi dalam TOP500 lebih mencerminkan upaya Beijing menunjukkan kemajuan teknologi chip domestiknya.
China pernah mendominasi daftar TOP500 sejak 2010 dan beberapa kali bergantian menduduki posisi teratas bersama AS dan Jepang.
Namun sejak 2023, China menghentikan pengajuan sistemnya ke TOP500 di tengah pembatasan ekspor chip dan teknologi komputasi yang diterapkan Washington.
CEO Intersect360 Research Addison Snell mengaku tidak terkejut dengan performa LineShine. Namun ia menilai keputusan China untuk kembali mengikuti pemeringkatan justru menjadi hal yang menarik.
“Saya tidak terkejut sistem ini menjadi nomor satu. Yang mengejutkan adalah mereka kembali mengajukannya dan ingin mendapatkan pengakuan,” katanya.
Berdasarkan data yang dipublikasikan bersama hasil TOP500, LineShine tidak menggunakan chip AI canggih.
Baca Juga: Aktivitas Bisnis Jerman Terpuruk, Sentuh Titik Terendah 18 Bulan
Kondisi ini kemungkinan terkait pembatasan ekspor teknologi semikonduktor dan peralatan pembuat chip yang masih diberlakukan Amerika Serikat terhadap China.
Menurut Goodrich, Beijing berupaya menunjukkan bahwa pembatasan ekspor tersebut tidak mampu menghambat kemajuan teknologi komputasi nasionalnya.
Dengan demikian, kemenangan LineShine lebih banyak dipandang sebagai simbol keberhasilan China membangun kemampuan komputasi berbasis teknologi domestik, meskipun persaingan untuk menjadi pemimpin di bidang AI global masih berlangsung ketat.













