Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - LONDON. Nilai tukar dolar Amerika Serikat menguat ke level tertinggi dalam lebih dari satu tahun pada perdagangan Selasa, didorong meningkatnya spekulasi bahwa The Federal Reserve (The Fed) masih akan menaikkan suku bunga dalam waktu dekat.
Di sisi lain, yen Jepang kembali tertekan hingga mendekati level terlemah dalam hampir empat dekade, memicu kekhawatiran intervensi pasar oleh otoritas Jepang.
Indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap sejumlah mata uang utama seperti euro dan yen naik ke 101,13, level tertinggi sejak Mei 2025.
Penguatan ini ditopang ekspektasi pasar bahwa kebijakan moneter AS akan tetap ketat lebih lama dari perkiraan sebelumnya.
Baca Juga: Rupiah Melemah Lagi: Inflasi Tinggi dan Isu Global Pengaruhi Nilai Tukar
Saat ini, pasar berjangka suku bunga The Fed (fed funds futures) memperkirakan peluang lebih dari 80% adanya kenaikan suku bunga pada September.
Sejumlah lembaga besar seperti BofA Global Research dan Deutsche Bank bahkan merevisi proyeksi mereka, dari sebelumnya memperkirakan suku bunga stabil menjadi kini memprediksi The Fed masih akan menaikkan suku bunga tahun ini, seiring ketahanan ekonomi AS.
“Dolar saat ini mencerminkan ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi dan terus menguat karenanya,” ujar Tommy von Bromsen, analis valuta asing di Handelsbanken. Ia menambahkan bahwa ketidakpastian geopolitik, termasuk konflik di Timur Tengah, turut memberi dukungan tambahan bagi dolar.
Di pasar Eropa, euro melemah ke US$1,1414, level terendah sejak Maret, setelah Presiden Bank Sentral Eropa Christine Lagarde meredam kekhawatiran inflasi lanjutan.
Sementara itu, pound sterling bergerak melemah tipis ke US$1,3234 setelah sempat menguat sehari sebelumnya.
Baca Juga: Efek Geopolitik Timur Tengah: Rupiah Menguat, Dolar AS Melemah Hari Ini (26/2)
Pergerakan pound juga dipengaruhi dinamika politik di Inggris, termasuk isu pergantian kepemimpinan setelah mundurnya Perdana Menteri Keir Starmer. Meski demikian, sebagian analis menilai kepastian suksesi mulai meredakan tekanan di pasar.
“Ketidakpastian soal kepemimpinan sebelumnya membebani pound. Namun dengan dukungan politik yang mulai terbentuk, tekanan itu kini berkurang,” kata analis Commerzbank Michael Pfister.
Mata uang berisiko seperti dolar Australia dan dolar Selandia Baru juga ikut tertekan, masing-masing turun 0,8% ke US$0,6945 dan sekitar 0,5% ke US$0,5684, seiring penguatan dolar AS secara luas.
Yen Jepang di Ambang Level Terlemah Sejak 1986
Sorotan utama pasar tetap tertuju pada yen Jepang yang kembali melemah ke 161,48 per dolar AS, setelah sempat menyentuh 161,93 pada perdagangan sebelumnya. Jika menembus 161,96, yen akan berada pada posisi terlemah sejak 1986.
Baca Juga: Rupiah Jisdor Ada di Level Rp 18.039 per Dolar AS pada Jumat (5/6)
Kondisi ini meningkatkan spekulasi bahwa pemerintah Jepang akan turun tangan menahan pelemahan mata uangnya. Pelaku pasar kini waspada terhadap potensi intervensi mendadak dari otoritas Jepang.
“Volatilitas akan meningkat saat yen mendekati level ini karena pasar memperkirakan Jepang bisa memberi sinyal atau bahkan melakukan intervensi,” ujar von Bromsen.
Di tengah tekanan tersebut, Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama dilaporkan telah melakukan pembicaraan dengan Menteri Keuangan AS Scott Bessent.
Pertemuan itu membahas langkah kebijakan atas pelemahan yen yang dinilai sudah berada di level historis, termasuk opsi intervensi pasar.
Baca Juga: Rupiah Terpuruk ke Rp 17.706 Per Dolar AS, Perbaikan Kondisi Fiskal Paling Ditunggu
Meski demikian, otoritas Jepang masih belum memberikan sinyal jelas terkait langkah yang akan diambil, membuat pasar tetap berada dalam mode waspada terhadap potensi gejolak lanjutan di pasar valuta asing global.














