kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Tingkat kesabaran investor asing di Hong Kong mulai menipis


Kamis, 12 Desember 2019 / 05:04 WIB
Tingkat kesabaran investor asing di Hong Kong mulai menipis
ILUSTRASI. Aksi demonstrasi Hong Kong masih terus berlanjut. REUTERS/Thomas Peter

Sumber: South China Morning Post | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - HONG KONG. Tingkat kesabaran sejumlah perusahaan asing di Hong Kong mungkin sudah mulai menipis. Mereka mulai membuat rencana darurat jika kerusuhan politik memburuk lagi. Hal ini diungkapkan oleh seorang pemimpin bisnis internasional.

Menurut Joerg Wuttke, presiden Kamar Dagang Uni Eropa di China, sementara mereka sejauh ini mengecilkan dampak prospek ekonomi kota Hong Kong yang suram, komunitas bisnis asing sadar akan potensi tantangan untuk mempertahankan posisi Hong Kong.

Wuttke mengatakan dia "dikejutkan" oleh optimisme perusahaan asing bahwa kondisi di Hong Kong akan tetap stabil. Dia juga menambahkan bahwa memang ada kekhawatiran yang dirasakan oleh sektor ritel dan restoran setelah berbulan-bulan terjadi kerusuhan. Akan tetapi, sektor lain, seperti mobil dan mesin, belum berencana pindah dari Hong Kong.

Baca Juga: Gundlach: Bakal ada guncangan hebat akibat menggunungnya utang AS di 2020

Namun, tambahnya, banyak dari bisnis ini yang mungkin pindah jika gangguan terburuk dari kekerasan yang telah melanda Hong Kong selama enam bulan terakhir kembali meluas.

Aksi unjuk rasa dimulai pada bulan Juni atas undang-undang ekstradisi yang sekarang ditarik yang akan memungkinkan pelaku kriminal diadili ke daratan China. Demonstrasi meningkat menjadi kerusuhan anti-pemerintah yang lebih luas dan berkepanjangan yang ditandai oleh bentrokan keras antara radikal dan polisi. Namun kondisi ini telah mereda sejak pemilihan dewan distrik pada bulan November.

Baca Juga: Berpakaian hitam, aksi demonstrasi di Hong Kong terbesar sejak pemilu lokal

“Jika situasinya menjadi sulit lagi, (seperti) demonstrasi dan gas air mata, Anda harus memindahkan pertemuan ke area yang lebih aman dari (area) Central, itu tidak baik. Dan saya kira, sebagian besar perusahaan ini, sedang mencari kemungkinan. Jadi, bagaimana jika situasinya memburuk, bagaimana jika ada konfrontasi serius, apakah kita pindah ke Singapura, apakah kita pindah ke Shanghai, Shenzhen dan Guangdong?” katanya.


Tag


TERBARU

Close [X]
×