Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Amerika Serikat (AS) dan Iran mencatat “kemajuan yang menggembirakan” dalam putaran pertama perundingan yang bertujuan mencapai kesepakatan perdamaian akhir, meskipun ketegangan di kawasan Timur Tengah masih tetap tinggi.
Mediator yang terdiri dari Pakistan dan Qatar menyebut, kedua pihak telah menyepakati peta jalan menuju kesepakatan damai dalam waktu 60 hari.
Perundingan tersebut berlangsung di resor pegunungan Buergenstock, Swiss, yang dimiliki Qatar, dan berakhir pada Senin dini hari waktu setempat.
Baca Juga: Efek PM Starmer Resign: Saham Inggris Merah, Investor Waspada
Sepakat Peta Jalan Perdamaian 60 Hari
Dalam pernyataan bersama, mediator mengatakan AS dan Iran juga menyetujui mekanisme untuk mengakhiri konflik di Lebanon yang melibatkan sekutu AS, Israel, dengan kelompok yang berafiliasi dengan Iran, Hezbollah.
Selain itu, kedua pihak membuka jalur komunikasi untuk memastikan keamanan pelayaran komersial di Selat Hormuz, jalur vital pengiriman minyak dunia yang selama ini menjadi titik krusial ketegangan geopolitik.
Perundingan tersebut digelar di bawah kerangka nota kesepahaman yang disepakati pekan lalu untuk memperpanjang gencatan senjata tidak stabil selama 60 hari.
“Diskusi berlangsung dalam suasana positif dan konstruktif serta menghasilkan kemajuan yang menggembirakan,” tulis Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif di platform X, seperti dikutip dari Reuters Senin (22/6/2026).
Baca Juga: Keir Starmer Umumkan Mundur, Inggris Siapkan Transisi Kepemimpinan Baru
Ketegangan Masih Membayangi
Meski ada kemajuan, ketegangan belum sepenuhnya mereda. Sebelum perundingan dimulai, Iran kembali menutup Selat Hormuz, sementara Presiden AS Donald Trump mengancam akan melanjutkan serangan jika Iran kembali mengganggu stabilitas kawasan.
Wakil Presiden AS JD Vance, yang memimpin delegasi Washington, menyebut pembicaraan berlangsung dalam situasi yang tidak mudah.
“Hal-hal seperti ini selalu sedikit berantakan,” ujarnya kepada wartawan.
Delegasi utama Iran dilaporkan telah kembali ke Teheran, namun pembicaraan teknis masih akan berlanjut sepanjang pekan ini.
Baca Juga: Bursa Saham Inggris Anjlok Usai PM Keir Starmer Umumkan Rencana Pengunduran Diri
Dampak ke Pasar Energi
Di sisi ekonomi, perkembangan positif ini langsung berdampak pada pasar minyak global. Harga minyak Brent sempat melemah setelah kekhawatiran gangguan pasokan mereda, dengan harga kembali berada di bawah level US$80 per barel.
Sebelumnya, harga minyak sempat melonjak akibat ketegangan di Selat Hormuz dan kekhawatiran gangguan distribusi energi global.
Baca Juga: AS dan Iran Capai Kemajuan Awal, Namun Ketegangan Tetap Membayangi
Hormuz dan Lebanon Jadi Titik Kritis
Dalam kesepakatan awal ini, AS dan Iran juga membahas pembukaan kembali Selat Hormuz serta penghentian konflik di Lebanon. Namun, kondisi di lapangan masih belum sepenuhnya stabil.
Laporan data pelayaran menunjukkan jumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz turun tajam setelah eskalasi terbaru, meskipun beberapa kapal masih berhasil melintas.
Sementara itu, situasi di Lebanon dilaporkan mulai mereda pada akhir pekan, meski aktivitas militer masih terjadi secara terbatas di beberapa wilayah perbatasan.
Menuju Kesepakatan Final
Mediator menyebut putaran lanjutan perundingan teknis akan terus dilakukan dalam beberapa hari ke depan.
Target utama dari proses ini adalah mencapai kesepakatan damai yang lebih permanen dalam 60 hari ke depan.
Kesepakatan ini diharapkan tidak hanya mengakhiri konflik di Lebanon, tetapi juga menstabilkan jalur perdagangan energi global yang selama ini sangat sensitif terhadap eskalasi geopolitik di Timur Tengah.














