Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Putaran pertama perundingan tingkat tinggi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di Swiss berakhir pada Senin (22/6/2026), dengan kedua pihak menyepakati peta jalan menuju kesepakatan final dalam waktu 60 hari.
Kesepakatan tersebut diumumkan oleh Qatar dan Pakistan selaku mediator perundingan. Dalam pernyataan bersama, kedua negara menyebut pembicaraan akan dilanjutkan pada tingkat teknis sepanjang pekan ini di resor pegunungan Buergenstock, Swiss.
Baca Juga: Bursa Asia Menguat Senin (22/6), Optimisme Perundingan AS-Iran Redakan Kekhawatiran
Perundingan berlangsung di tengah ketegangan yang masih membayangi hubungan kedua negara. Sebelum pembicaraan dimulai, Iran kembali mengumumkan penutupan Selat Hormuz, sementara Presiden AS Donald Trump mengulangi ancamannya untuk melancarkan serangan baru terhadap Iran.
Meski demikian, mediator menyatakan kedua pihak berhasil menyusun kerangka kerja menuju penyelesaian konflik yang lebih permanen.
Selain itu, mereka juga menyepakati mekanisme untuk mengakhiri pertempuran di Lebanon serta membuka jalur komunikasi guna menjamin keamanan pelayaran komersial di Selat Hormuz.
Wakil Presiden AS JD Vance memimpin delegasi Washington dalam pembicaraan yang dimulai pada Minggu (21/6).
Baca Juga: Harga Minyak Naik Setelah Iran Kembali Tutup Hormuz Senin (22/6), Brent ke US$ 81
Pertemuan tersebut merupakan tindak lanjut dari nota kesepahaman yang disepakati pekan lalu untuk memperpanjang gencatan senjata sementara yang telah berlaku sejak April selama setidaknya 60 hari.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan negaranya berhasil memperoleh sejumlah konsesi dalam perundingan tersebut, termasuk pembebasan sebagian aset yang dibekukan, keringanan ekspor minyak dan produk petrokimia, serta peluncuran program rekonstruksi dan pembangunan bagi Iran.
Namun, jalannya negosiasi tidak sepenuhnya mulus. Kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, melaporkan delegasi Iran sempat menolak kembali ke ruang perundingan setelah pernyataan Trump yang mengancam akan mengambil alih Selat Hormuz dan mengenakan tarif atas penggunaannya.
Meski demikian, seorang diplomat AS yang terlibat dalam pembicaraan membantah laporan tersebut dan menyatakan kedua pihak tetap bernegosiasi hingga larut malam.
"Kami membahas Selat Hormuz, Lebanon, isu nuklir, serta rincian implementasi nota kesepahaman yang telah disepakati," ujar diplomat tersebut kepada Reuters.
Baca Juga: Harga Emas Bangkit dari Titik Terendah Sepekan Senin (22/6), Sentuh Level US$ 4.209
Selat Hormuz dan Lebanon Jadi Isu Utama
Salah satu fokus utama pembahasan adalah pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Iran sebelumnya menyatakan kembali menutup jalur tersebut dengan alasan AS gagal memenuhi komitmen untuk menghentikan pertempuran di Lebanon.
Data pelayaran menunjukkan dampak langsung dari kebijakan tersebut. Hanya lima kapal yang melintasi Selat Hormuz pada Minggu, turun tajam dibandingkan 26 kapal sehari sebelumnya.
Iran menilai penghentian operasi militer di Lebanon merupakan bagian penting dari implementasi kesepakatan yang lebih luas. Meski gencatan senjata baru diumumkan pada Jumat lalu, bentrokan masih terus terjadi dalam beberapa hari terakhir.
Di sisi lain, JD Vance menyatakan kemajuan telah dicapai dalam upaya mengakhiri konflik di Lebanon dan menilai dinamika negosiasi semacam ini merupakan hal yang wajar.
Baca Juga: Dolar AS Menguat, Ketidakpastian Perdamaian AS-Iran Kembali Membayangi Pasar
"Proses seperti ini memang sering kali rumit," kata Vance.
Sementara itu, Trump tetap menekan Iran agar menahan kelompok-kelompok sekutunya di kawasan, terutama Hezbollah di Lebanon.
"Iran harus segera menghentikan proksi-proksinya di Lebanon. Jika tidak, kami akan menyerang Iran lagi dengan lebih keras," tulis Trump melalui media sosial.
Meski retorika kedua pihak masih keras, berakhirnya putaran pertama pembicaraan dan kesepakatan mengenai peta jalan 60 hari memberikan harapan baru bagi tercapainya stabilitas di Timur Tengah, termasuk kelancaran arus energi global melalui Selat Hormuz.













