AS Pertimbangkan Kirim Peralatan Sistem Pertahanan Udara Canggih HAWK untuk Ukraina

Selasa, 25 Oktober 2022 | 20:14 WIB Sumber: Reuters
AS Pertimbangkan Kirim Peralatan Sistem Pertahanan Udara Canggih HAWK untuk Ukraina

Tentara Rumania mengerahkan landasan peluncuran rudal darat-ke-udara HAWK PIP III R selama latihan militer bersama dengan Angkatan Darat AS di Kabupaten Constanta, Rumania, 8 November 2016. Foto Inquam/Ovidiu Micsik/via REUTERS


KONTAN.CO.ID -  WASHINGTON. Pemerintah Amerika Serikat (AS) tengah mempertimbangkan untuk mengirim peralatan pertahanan udara HAWK ke Ukraina untuk membantunya bertahan dari serangan drone dan rudal jelajah Rusia, kata dua pejabat AS mengatakan kepada Reuters.

Rudal pencegat HAWK adalah peningkatan sistem rudal Stinger, sistem pertahanan udara jarak pendek yang lebih kecil, yang telah dikirim Amerika Serikat untuk menumpulkan invasi Rusia.

Pemerintahan Presiden AS Joe Biden akan menggunakan Presidential Drawdown Authority (PDA) untuk mentransfer peralatan HAWK yang didasarkan pada teknologi era Vietnam, tetapi telah ditingkatkan beberapa kali. 

PDA memungkinkan Amerika Serikat untuk mentransfer layanan pertahanan dari stok dengan cepat tanpa persetujuan kongres dalam menanggapi keadaan darurat.

Baca Juga: Alami kendala teknis, helikopter Black Hawk AS mendarat darurat di pusat kota Bukares

Reuters tidak dapat menentukan berapa banyak sistem dan rudal HAWK yang tersedia untuk ditransfer oleh Amerika Serikat. Gedung Putih menolak berkomentar.

Sistem HAWK adalah pendahulu sistem pertahanan rudal PATRIOT yang dibuat oleh Raytheon Technologies yang masih belum tersedia untuk Ukraina, kata pejabat AS kepada Reuters.

Presiden AS Joe Biden berjanji kepada Presiden Ukraina Volodomyr Zelenskiy bahwa Washington akan memberi Ukraina sistem udara canggih setelah serangan rudal yang menghancurkan dari Rusia awal bulan ini.

Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg mengatakan bahwa Spanyol bermaksud mengirim empat peluncur HAWK. 

Baca Juga: China selesaikan latihan militer sebulan penuh, sempat lintasi Laut Sulawesi

Editor: Noverius Laoli

Terbaru