Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Militer Amerika Serikat (AS) menyatakan telah menyelesaikan gelombang terbaru serangan ke Iran pada Kamis (16/7/2026) malam waktu setempat.
Operasi tersebut menandai malam ketujuh berturut-turut serangan militer AS yang dilakukan atas perintah Presiden AS Donald Trump.
Komando Pusat AS (CENTCOM) menyebut operasi melibatkan pesawat tempur, pesawat nirawak (drone), kapal perang, serta aset militer lainnya.
Sasaran serangan mencakup lokasi pengawasan, infrastruktur logistik militer, gudang senjata bawah tanah, dan kemampuan maritim Iran.
Baca Juga: Fasilitas Diplomatik AS di Irak Kena Drone Iran, Konflik Memanas
"Pasukan AS menggunakan pesawat tempur, drone, kapal perang, serta aset militer lainnya dalam operasi ini," kata CENTCOM dalam pernyataannya.
Di sisi lain, Iran melancarkan serangan balasan pada Jumat (17/7) dengan menargetkan sekutu-sekutu AS di kawasan Teluk. Otoritas Kuwait melaporkan salah satu fasilitas pembangkit listrik dan instalasi desalinasi air di negara itu terkena serangan Iran.
Pada saat yang sama, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz kembali berada di bawah ancaman akibat meningkatnya eskalasi konflik.
Media pemerintah Iran sebelumnya melaporkan sedikitnya lima jembatan di wilayah selatan negara itu menjadi sasaran serangan AS pada Jumat.
Sedikitnya tujuh orang dilaporkan tewas akibat serangan terhadap jembatan di kota pelabuhan Bandar Khamir, yang juga merusak stasiun kereta api.
Sebuah bandara di Iranshahr, Provinsi Sistan dan Baluchestan yang berbatasan dengan Pakistan, juga dilaporkan menjadi target serangan.
Baca Juga: AS Luncurkan Gelombang Baru Serangan ke Iran, Ancaman Jalur Energi Global Meningkat
Presiden Trump pekan ini kembali mengancam akan menyerang fasilitas energi Iran dan bahkan menyebut kemungkinan menargetkan jembatan-jembatan penting pada pekan depan.
Ancaman tersebut memicu sorotan karena Konvensi Jenewa 1949 melarang serangan terhadap infrastruktur yang menjadi kebutuhan vital warga sipil.
Sejumlah pakar hukum internasional sebelumnya menilai serangan terhadap sasaran semacam itu berpotensi dikategorikan sebagai kejahatan perang.
Perang antara Iran dengan AS dan Israel dimulai setelah serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari, yang kemudian dibalas Teheran dengan serangan ke Israel serta negara-negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer AS.
Baca Juga: AS Gempur Infrastruktur Iran, Konflik Hormuz Kian Memanas
Konflik yang terus berlanjut telah menewaskan ribuan orang, memaksa jutaan warga mengungsi, sekaligus mendorong kenaikan harga minyak dunia dan mengguncang pasar keuangan global.













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_24062609492500.jpg)
