kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.799.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.820   -80,00   -0,45%
  • IDX 6.127   -2,81   -0,05%
  • KOMPAS100 807   -1,47   -0,18%
  • LQ45 611   -9,23   -1,49%
  • ISSI 216   0,35   0,16%
  • IDX30 348   -6,56   -1,85%
  • IDXHIDIV20 426   -11,92   -2,72%
  • IDX80 93   -0,89   -0,95%
  • IDXV30 118   -2,46   -2,04%
  • IDXQ30 112   -2,96   -2,59%

AS Tutup Celah Ekspor Chip AI Nvidia ke Perusahaan China di Luar Negeri


Senin, 01 Juni 2026 / 14:07 WIB
AS Tutup Celah Ekspor Chip AI Nvidia ke Perusahaan China di Luar Negeri
ILUSTRASI. AS resmi perketat ekspor chip AI tercanggih ke perusahaan China, bahkan yang beroperasi di luar negeri. (KONTAN/Mike Blake)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Pemerintah Amerika Serikat melalui Departemen Perdagangan AS mengambil langkah untuk menutup celah regulasi yang berpotensi memungkinkan perusahaan-perusahaan mengekspor chip kecerdasan buatan (AI) paling canggih di dunia, termasuk prosesor Blackwell terbaru milik Nvidia, kepada anak usaha perusahaan China yang beroperasi di luar wilayah China.

Panduan baru yang diumumkan pada Minggu (31/5/2026) tersebut mengindikasikan bahwa chip AI tercanggih buatan Amerika Serikat kemungkinan telah mengalir ke anak usaha perusahaan AI asal China yang berbasis di negara lain, seperti Malaysia.

Hal ini terjadi meskipun Washington selama beberapa tahun terakhir berupaya membatasi akses perusahaan China terhadap semikonduktor canggih yang dibutuhkan untuk mengembangkan kemampuan AI strategis.

Panduan tersebut dipublikasikan di situs resmi Departemen Perdagangan AS setelah beredarnya sebuah dokumen di kalangan pejabat Washington yang membahas celah regulasi tersebut. Reuters memperoleh salinan dokumen yang menyatakan bahwa "pintu banjir diam-diam telah terbuka."

Dokumen yang bertanggal Jumat tersebut tidak mencantumkan nama penulisnya.

Baca Juga: Netanyahu Perintahkan Pasukan Israel Perluas Operasi Darat di Lebanon

Hingga kini belum diketahui secara pasti berapa banyak chip yang telah diekspor selama periode ketika pemerintahan Presiden Donald Trump membiarkan celah tersebut terbuka. Namun, seorang sumber industri chip yang memiliki pengetahuan mendalam mengenai rantai pasok memperkirakan jumlahnya mencapai ratusan ribu unit.

Dalam panduan yang dirilis secara tidak biasa pada akhir pekan tersebut, Biro Industri dan Keamanan (Bureau of Industry and Security/BIS) Departemen Perdagangan AS menegaskan akan menerapkan persyaratan lisensi ekspor untuk chip canggih kepada entitas yang berkantor pusat di China meskipun beroperasi di luar wilayah China.

"Bis mengeluarkan panduan yang memperjelas persyaratan lisensi ekspor yang telah berlaku sejak 2023," ujar juru bicara BIS. "BIS akan terus menegakkan kontrol ekspor secara ketat untuk melindungi teknologi penting Amerika."

Nvidia Tidak Terdampak

Seorang pejabat Nvidia menyatakan bahwa panduan terbaru tersebut tidak mengubah kondisi perusahaan. Menurutnya, Nvidia memang tidak dapat mengirimkan chip-chip tersebut karena Departemen Perdagangan AS sebelumnya telah secara jelas memberlakukan persyaratan lisensi melalui surat resmi kepada perusahaan.

Sementara itu, Advanced Micro Devices (AMD), produsen besar chip AI lainnya, belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar.

Celah regulasi ini muncul setelah Departemen Perdagangan AS pada Mei 2025 mengumumkan tidak akan menegakkan aturan AI Diffusion yang diterbitkan pada hari-hari terakhir pemerintahan Presiden Joe Biden. Aturan tersebut sebelumnya mengatur persyaratan lisensi untuk akses global terhadap chip AI.

Kekhawatiran Keamanan Nasional

Mantan pejabat Departemen Luar Negeri AS yang kini menjadi pakar teknologi dan keamanan nasional, Chris McGuire, menilai celah tersebut memungkinkan anak usaha perusahaan China di luar negeri membeli chip Nvidia Blackwell tanpa lisensi.

"Ini adalah masalah yang SANGAT besar," tulis McGuire dalam unggahan media sosialnya pada Minggu.

"Perusahaan-perusahaan China telah membeli chip-chip ini, sangat mungkin dalam skala besar," lanjutnya.

Baca Juga: Prancis Cegat Kapal Tanker Minyak Terkait Rusia di Samudra Atlantik, Apa Alasannya?

Menurut McGuire, panduan terbaru dari pemerintah AS berhasil menutup celah tersebut. Namun, ia menilai masih terdapat celah lain yang belum terselesaikan.

Celah tersebut berkaitan dengan dihapuskannya kewajiban bagi perusahaan manufaktur chip seperti Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC) untuk melakukan uji kelayakan tambahan guna memastikan chip AI kelas atas yang mereka produksi tidak ditujukan kepada perusahaan-perusahaan perantara yang mewakili kepentingan China.

McGuire menilai persoalan tersebut belum ditangani dalam panduan terbaru yang diterbitkan BIS.

Juru bicara TSMC menolak memberikan komentar terkait isu tersebut.

Selain itu, panduan terbaru juga tidak mewajibkan pusat data untuk menghentikan penggunaan chip-chip tersebut ataupun menghentikan layanan terhadap perangkat komputasi canggih yang telah beroperasi, termasuk server berbasis AI.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×