Sumber: Reuters | Editor: Harris Hadinata
KONTAN.CO.ID - KUALA LUMPUR. Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim mengumumkan stimulus untuk mendorong ekonomi. Stimulus ini diharap bisa mengatasi kenaikan biaya hidup dan mendukung dunia usaha.
Reuters melaporkan, stimulus tersebut termasuk mengembalikan kuota pembelian bensin dan diesel bersubsidi ke tingkat yang lebih tinggi, serta menambah pendanaan bagi sekolah dan pedagang kecil.
Stimulus tersebut dijadwalkan akan mulai berlaku pada 1 September. "Pertumbuhan ekonomi negara harus dikembalikan kepada rakyat," kata Anwar dalam pidatonya, seperti dikutip Reuters, Minggu (30/8/2026).
Rinciannya, pemerintah Malaysia akan mengembalikan kuota pembelian bahan bakar kendaraan RON95 bagi warga Malaysia menjadi 300 liter per bulan. Kuota pembelian diesel untuk kategori pengguna tertentu juga akan dinaikkan menjadi 400 liter per bulan.
Sebelumnya, kuota sempat dikurangi menjadi 200 liter per bulan pada awal tahun ini. Langkah tersebut diambil untuk merespons lonjakan harga minyak mentah global.
Baca Juga: Pemimpin Tertinggi Iran Serukan Negara Teluk Bersatu Hadapi Musuh Nyata
Selain itu, program akal imitasi (AI) pemerintah akan dibuka bagi warga Malaysia berusia antara 18 hingga 30 tahun. Program ini mencakup akses gratis ke beberapa aplikasi AI besar, seperti Gemini Enterprise dari Google serta Wonderclip dan MuleRun dari Alibaba Cloud.
Pemerintah Malaysia juga meningkatkan dana untuk pemeliharaan sekolah, perbaikan sistem kesehatan digital, dan fasilitas pembiayaan mikro bagi usaha kecil. Pemerintah Malaysia juga akan menaikkan ambang batas pendapatan yang membebaskan perusahaan dari kewajiban penerapan e-faktur (e-invoicing) menjadi RM 3 juta per tahun.
Anwar menegaskan, dana apa pun yang disita atau dirampas dari proses hukum kasus korupsi akan disalurkan untuk program-program pemerintah, khususnya di bidang pendidikan dan kesehatan.
Kabinet Anwar menghadapi tekanan untuk mengatasi kenaikan biaya hidup, meskipun kinerja ekonomi Malaysia melampaui sebagian besar negara tetangga di kawasan Asia Tenggara. Produk domestik bruto (PDB) negara tersebut tumbuh 6% pada kuartal kedua tahun ini, melampaui perkiraan resmi.
Koalisi Anwar juga menghadapi penurunan dukungan akibat apa yang disebut para kritikus sebagai kegagalan dalam mewujudkan reformasi yang dijanjikan, serta penanganan yang buruk terhadap beberapa kasus korupsi besar. Koalisi Anwar telah mengalami kekalahan dalam tiga pemilihan daerah berturut-turut dalam beberapa bulan terakhir.
Pemilihan tingkat negara bagian ini secara luas dipandang sebagai indikator sentimen pemilih menjelang pemilihan umum yang harus diselenggarakan paling lambat awal tahun 2028. Anwar mengatakan ia mungkin akan menyerukan pemilihan umum lebih awal (snap polls) jika perpecahan di dalam pemerintahannya terus melebar.














