Badai PHK Melanda Perusahaan Global

Jumat, 04 November 2022 | 16:04 WIB   Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk
Badai PHK Melanda Perusahaan Global

ILUSTRASI. Logo Twitter. REUTERS/Mike Blake/File Photo GLOBAL BUSINESS WEEK AHEAD


KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Badai PHK di perusahaan global mulai terjadi di tengah bayang-bayang resesi. Sejumlah nama-nama besar telah mengumumkan akan segera melakukan pemangkasan karyawan dan sebagian lagi memutuskan akan menghentikan perekrutan. 

Microsoft telah memangkas 1.000 orang pada Oktober lalu pada berbagai divisi. Sementara Philip pada pekan lalu telah mengumumkan akan memangkas 4.000 pekerja. Langkah itu dilakukan menyusul kerugian yang dialami setelah produk respiratornya yang gagal di pasar.

Morgan Stanley, Twitter, Intel hingga Lyft juga mengumumkan rencana serupa. Sementara Amazon dan Apple mengambil langkah lebih soft dengan menghentikan perekrutan karyawan. Twitter menyampaikan keputusan PHK bagi sejumlah karyawannya melalui email.

"Dalam upaya untuk menempatkan Twitter di jalur yang sehat, kami akan melalui proses sulit untuk mengurangi tenaga kerja global pada hari Jumat," kata email yang dikirim pada hari Kamis, dikutip dari Reuters, Jumat (4/11).

Baca Juga: Elon Musk Mulai Lakukan PHK kepada Pekerja Twitter

Pengiriman email tersebut tidak hanya bagi karyawan yang akan di-PHK melainkan juga bagi pekerja yang tidak terpengaruh kebijakan layoff tersebut.

Rencana PHK itu muncul setelah Musk menuntut pemotongan biaya yang dalam dan memberlakukan etos kerja baru yang agresif di seluruh perusahaan media sosial. Dia telah mengarahkan tim Twitter melakukan penghematan biaya infrastruktur tahunan hingga US$1 miliar.

Morgan Stanley memutuskan mulai melakukan PHK beberapa pekan mendatang karena imbas kenaikan inflasi dan lesunya kondisi ekonomi. Pemangkasan ini akan terjadi di tim pasar modal untuk kawasan Hong Kong dan China Daratan. 

Rencana pengurangan jumlah karyawan Morgan Stanley di Asia datang ketika pembatasan ketat covid-19 di China membebani ekonomi perusahaan. Itu berdampak pada pasar modal dan aktivitas merger dan akuisisi (M&A).

Perusahaan pembuat chip, Intel Corp,  berencana memutus hubungan kerja terhadap karyawannya, karena perlambatan di pasar komputer pribadi.PHK itu telah diumumkan pada awal Oktober untuk  beberapa divisi Intel, termasuk kelompok penjualan dan pemasaran. Rencana itu diperkirakan dapat  mempengaruhi sekitar 20% staf.

Raksasa ride hailing, Lyft, pada Kamis (3/11) juga telah mengumumkan rencana memangkas 13% karyawan. Dengan jumlah pegawai 5.000 saat ini maka PHK itu akan melibatkan sekitar 650 orang. Ini merupakan PHK tahap kedua tahun ini setelah pada Juli lalu memangkas 60 pegawai. 

Pada hari yang sama, perusahaan pembayaran Stripe juga mengumumkan untuk memangkas 14% karyawannya di San Francisco atau sebanyak 1.120 orang. Pengumuman itu dilakukan hanya berselang sehari setelah CEO Opendoor Eric Wu menginformasikan bahwa perusahaannya  akan mengurangi 18% dari 550 pegawainya karena sedang berjuang di tengah pasar tekanan pasar real estate

Sementara Amazon menghentikan perekrutan akibat tekanan inflasi dan ketidakpastian ekonomi.

"Pembekuan itu akan berlangsung selama beberapa bulan ke depan," kata Beth Galetti, Senior Vice President Amazon dalam suratnya kepada karyawan seperti dikutip Forbes, Jumat (4/11).

Baca Juga: Pangkas Biaya, Elon Musk Bakal Potong Setengah Pekerjaan di Twitter

Ia menyebutkan keputusan itu dilakukan di tengah lingkungan ekonomi makro yang tidak biasa. Ini adalah yang kedua kalinya perusahaan menghentikan perekrutan pada musim gugur ini. Bulan lalu, perusahaan telah mengumumkan membekukan perekrutan untuk bisnis ritel. Apple juga menghentikan perekrutan di seluruh divisinya, menurut laporan Business Insider pada Rabu (3/11). 

The Fed telah menaikkan kembali suku bunganya sebesar 75 basis poin (bps) menjadi 3,75%-4% pada Rabu (2/11). Ini merupakan level tertinggi sejak 2008. Walaupun kenaikan suku bunga ini bertujuan meredam inflasi, Kepala Analis Keuangan BankRate, Greg McBride, mengatakan konsumen masih bisa merasakan tekanan ekonomi sampai kenaikan inflasi terlihat mereda. 

Meskipun banyak ekonom telah memperingatkan selama berbulan-bulan bahwa AS kemungkinan menuju resesi, yang lain lebih optimis dalam perkiraan ekonomi mereka.

Dalam sebuah pernyataan pada hari Selasa, kepala ekonom Schroders Keith Wade berpendapat bahwa bisnis sebagian besar telah tangguh mengingat inflasi yang tinggi dan menambah jumlah perusahaan yang mengalami surplus operasi. 

Tanda positif lainnya, produk domestik bruto mulai meningkat dalam beberapa bulan terakhir menyusul laporan pada bulan Juni bahwa ekonomi mengalami kontraksi 1,6% pada kuartal pertama tahun ini.

Menurut data dari Biro Analisis Ekonomi, PDB meningkat 2,6% pada kuartal ketiga, menyusul penurunan 0,6% selama kuartal kedua. Kepala investasi Orion Advisor Solutions, Tim Holland, mengatakan, sulit percaya bahwa ekonomi sedang dalam resesi saat ini.

Editor: Tendi Mahadi

Terbaru