kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.887.000   7.000   0,24%
  • USD/IDR 16.850   -59,00   -0,35%
  • IDX 8.951   -41,17   -0,46%
  • KOMPAS100 1.235   -4,75   -0,38%
  • LQ45 874   -1,52   -0,17%
  • ISSI 329   -0,59   -0,18%
  • IDX30 449   0,67   0,15%
  • IDXHIDIV20 532   3,66   0,69%
  • IDX80 137   -0,49   -0,35%
  • IDXV30 148   1,36   0,93%
  • IDXQ30 144   0,72   0,50%

Bank of America Rilis Peringatan Keras soal Pasar Saham yang Sulit Diabaikan Investor


Minggu, 25 Januari 2026 / 08:12 WIB
Bank of America Rilis Peringatan Keras soal Pasar Saham yang Sulit Diabaikan Investor
ILUSTRASI. Wall Street (REUTERS/Jeenah Moon)


Sumber: The Street | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

Jika melihat kinerja saham negara berkembang melalui ETF iShares MSCI Emerging Markets dan membandingkannya dengan S&P 500 yang sarat saham teknologi, ketimpangan pasar terlihat jelas sepanjang 2025.

Argumen reflasi global juga mulai tampak dalam data.

Jepang, misalnya, tak lagi berada dalam era deflasi. Inflasi umum tercatat 2,1% dan inflasi inti 2,4%, keduanya di atas target Bank of Japan. China masih belum merata, tetapi inflasi konsumen membaik, dengan CPI naik 0,8% dan CPI inti 1,2%, meski harga pabrik masih cenderung deflasi. Zona euro juga tidak menunjukkan tanda-tanda deflasi, dengan inflasi mendekati 1,9% dan sektor jasa tetap panas.

Pelajaran “Nifty Fifty” yang Terulang

Untuk menjelaskan situasi saat ini, Hartnett menarik paralel dengan pasar saham era 1970-an.

Saat itu, investor berbondong-bondong membeli saham “Nifty Fifty”, yakni saham-saham blue chip dominan yang dianggap hampir tak terkalahkan. Investor rela membayar harga berapa pun demi kualitas.

Namun kondisi makro kemudian berubah: inflasi melonjak, intervensi pemerintah meningkat, dolar melemah, dan valuasi saham tertekan.

Tonton: Harga Emas Dunia Tembus 4.900 Dollar AS, Goldman Sachs: Berpotensi Naik ke 5.400 Dollar AS

Bisnis-bisnisnya memang tetap bertahan, tetapi harga sahamnya terpukul keras.

Itulah kesamaan yang dilihat Hartnett dengan kondisi sekarang.

Saham-saham raksasa berbasis AI saat ini dipersepsikan sebagai bisnis luar biasa, tetapi konsentrasi yang terlalu ekstrem membuat pasar rentan koreksi besar jika kondisi makro sedikit saja memburuk.

Selanjutnya: Lender Institusi Dominasi Pendanaan Amartha, Porsinya Tembus 90%

Menarik Dibaca: 4 Resep Hidangan Imlek Praktis, Sajikan Menu Istimewa Tanpa Ribet




TERBARU
Kontan Academy
SPT Tahunan PPh Coretax: Mitigasi, Tips dan Kertas Kerja Investing From Zero

[X]
×