Sumber: The Street | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
Jika melihat kinerja saham negara berkembang melalui ETF iShares MSCI Emerging Markets dan membandingkannya dengan S&P 500 yang sarat saham teknologi, ketimpangan pasar terlihat jelas sepanjang 2025.
Argumen reflasi global juga mulai tampak dalam data.
Jepang, misalnya, tak lagi berada dalam era deflasi. Inflasi umum tercatat 2,1% dan inflasi inti 2,4%, keduanya di atas target Bank of Japan. China masih belum merata, tetapi inflasi konsumen membaik, dengan CPI naik 0,8% dan CPI inti 1,2%, meski harga pabrik masih cenderung deflasi. Zona euro juga tidak menunjukkan tanda-tanda deflasi, dengan inflasi mendekati 1,9% dan sektor jasa tetap panas.
Pelajaran “Nifty Fifty” yang Terulang
Untuk menjelaskan situasi saat ini, Hartnett menarik paralel dengan pasar saham era 1970-an.
Saat itu, investor berbondong-bondong membeli saham “Nifty Fifty”, yakni saham-saham blue chip dominan yang dianggap hampir tak terkalahkan. Investor rela membayar harga berapa pun demi kualitas.
Namun kondisi makro kemudian berubah: inflasi melonjak, intervensi pemerintah meningkat, dolar melemah, dan valuasi saham tertekan.
Tonton: Harga Emas Dunia Tembus 4.900 Dollar AS, Goldman Sachs: Berpotensi Naik ke 5.400 Dollar AS
Bisnis-bisnisnya memang tetap bertahan, tetapi harga sahamnya terpukul keras.
Itulah kesamaan yang dilihat Hartnett dengan kondisi sekarang.
Saham-saham raksasa berbasis AI saat ini dipersepsikan sebagai bisnis luar biasa, tetapi konsentrasi yang terlalu ekstrem membuat pasar rentan koreksi besar jika kondisi makro sedikit saja memburuk.













