kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.887.000   7.000   0,24%
  • USD/IDR 16.850   -59,00   -0,35%
  • IDX 8.951   -41,17   -0,46%
  • KOMPAS100 1.235   -4,75   -0,38%
  • LQ45 874   -1,52   -0,17%
  • ISSI 329   -0,59   -0,18%
  • IDX30 449   0,67   0,15%
  • IDXHIDIV20 532   3,66   0,69%
  • IDX80 137   -0,49   -0,35%
  • IDXV30 148   1,36   0,93%
  • IDXQ30 144   0,72   0,50%

Bank of America Rilis Peringatan Keras soal Pasar Saham yang Sulit Diabaikan Investor


Minggu, 25 Januari 2026 / 08:12 WIB
Bank of America Rilis Peringatan Keras soal Pasar Saham yang Sulit Diabaikan Investor
ILUSTRASI. Wall Street (REUTERS/Jeenah Moon)


Sumber: The Street | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Bank of America (BofA) mengibarkan tanda bahaya yang cukup jelas bagi investor pasar obligasi dan siapa pun yang punya posisi di pasar saham.

Dalam catatan Flow Show terbarunya, Kepala Strategi Saham BofA Michael Hartnett menyebut era “apa pun selain obligasi” telah dimulai. Menurut dia, obligasi, yang selama ini dianggap aset paling aman—gagal menjalankan fungsinya.

The Street melaporkan, Hartnett menyebut paruh pertama dekade 2020-an sebagai periode “penghinaan pasar obligasi”, di mana obligasi pemerintah berdurasi panjang mengalami kerugian besar yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Data mendukung klaim tersebut. Obligasi pemerintah AS jangka panjang memang mencatat kerugian yang tidak biasa.

ETF iShares 20+ Year Treasury Bond, yang kerap dijadikan proksi obligasi jangka panjang, anjlok 31% pada 2022, salah satu kinerja terburuk sepanjang sejarahnya. Dari puncak 2020 hingga akhir 2025, penurunan terdalamnya mencapai hampir 48%.

Lalu, ke mana dana akan mengalir jika obligasi tak lagi mampu melindungi portofolio?

Jawaban BofA terbilang luas dan cukup berseberangan dengan arus utama.

Baca Juga: Ini Janji Manis Xi Jinping kepada Presiden Brasil di Tengah Tekanan Global

Hartnett memperkirakan paruh kedua dekade ini akan lebih menguntungkan bagi saham internasional, pasar negara berkembang, komoditas, dan emas. Pelemahan dolar AS dinilai akan mendorong reflasi di luar Amerika Serikat.

Dengan begitu, saham-saham AI yang mendominasi pasar dalam tiga tahun terakhir berpotensi kehilangan panggung. Sebaliknya, saham berkapitalisasi kecil dan menengah bisa mendapat momentum dari tren reshoring dan pembangunan ulang sektor industri.

BofA memperingatkan, pergeseran kepemimpinan pasar ini dapat menjadi tantangan besar bagi investor, seiring obligasi kehilangan peran sebagai aset lindung nilai.

Buku Pegangan Lama Investor Dinilai Tak Lagi Relevan

Peringatan BofA bukan semata soal mencari transaksi besar berikutnya, melainkan menyangkut fondasi utama portofolio investasi yang kini telah berubah.

Hartnett menilai obligasi, yang seharusnya menjadi “peredam guncangan”, gagal menjalankan peran utamanya. Akibatnya, investor dipaksa meninjau ulang cara mengelola risiko di seluruh pasar saham.

Menurutnya, proses peninjauan ulang itu sebenarnya sudah berlangsung.

Dolar yang melemah, harga komoditas yang menguat, serta reflasi di luar AS akan menguntungkan saham internasional dan pasar negara berkembang, yang selama ini tertinggal.

Sebagai gambaran, Indeks Dolar AS telah turun sekitar 9% dalam 12 bulan terakhir, bahkan hampir 2% hanya dalam lima hari terakhir, menurut MarketWatch.

Baca Juga: Peta Pasokan Bergeser: India Kini Borong Minyak dari Sumber Tak Terduga

Jika melihat kinerja saham negara berkembang melalui ETF iShares MSCI Emerging Markets dan membandingkannya dengan S&P 500 yang sarat saham teknologi, ketimpangan pasar terlihat jelas sepanjang 2025.

Argumen reflasi global juga mulai tampak dalam data.

Jepang, misalnya, tak lagi berada dalam era deflasi. Inflasi umum tercatat 2,1% dan inflasi inti 2,4%, keduanya di atas target Bank of Japan. China masih belum merata, tetapi inflasi konsumen membaik, dengan CPI naik 0,8% dan CPI inti 1,2%, meski harga pabrik masih cenderung deflasi. Zona euro juga tidak menunjukkan tanda-tanda deflasi, dengan inflasi mendekati 1,9% dan sektor jasa tetap panas.

Pelajaran “Nifty Fifty” yang Terulang

Untuk menjelaskan situasi saat ini, Hartnett menarik paralel dengan pasar saham era 1970-an.

Saat itu, investor berbondong-bondong membeli saham “Nifty Fifty”, yakni saham-saham blue chip dominan yang dianggap hampir tak terkalahkan. Investor rela membayar harga berapa pun demi kualitas.

Namun kondisi makro kemudian berubah: inflasi melonjak, intervensi pemerintah meningkat, dolar melemah, dan valuasi saham tertekan.

Tonton: Harga Emas Dunia Tembus 4.900 Dollar AS, Goldman Sachs: Berpotensi Naik ke 5.400 Dollar AS

Bisnis-bisnisnya memang tetap bertahan, tetapi harga sahamnya terpukul keras.

Itulah kesamaan yang dilihat Hartnett dengan kondisi sekarang.

Saham-saham raksasa berbasis AI saat ini dipersepsikan sebagai bisnis luar biasa, tetapi konsentrasi yang terlalu ekstrem membuat pasar rentan koreksi besar jika kondisi makro sedikit saja memburuk.

Selanjutnya: Lender Institusi Dominasi Pendanaan Amartha, Porsinya Tembus 90%

Menarik Dibaca: 4 Resep Hidangan Imlek Praktis, Sajikan Menu Istimewa Tanpa Ribet




TERBARU
Kontan Academy
SPT Tahunan PPh Coretax: Mitigasi, Tips dan Kertas Kerja Investing From Zero

[X]
×