Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Bank Sentral Korea Selatan (Bank of Korea/BoK) mempertahankan suku bunga acuan pada Kamis (22/10/2026), setelah menaikkan suku bunga dua kali berturut-turut pada Juli dan Agustus.
Meski mengambil jeda, peluang pengetatan kebijakan moneter lanjutan masih terbuka di tengah pertumbuhan ekonomi yang kuat dan inflasi yang berada di atas target.
Mengutip Reuters, dewan kebijakan moneter BoK yang beranggotakan tujuh orang memutuskan mempertahankan suku bunga seven-day repurchase rate di level 3,00%. Keputusan tersebut sesuai dengan perkiraan seluruh 34 ekonom yang disurvei Reuters.
Baca Juga: Emas Dunia Makin Tertekan, Peluang The Fed Naikkan Bunga Desember Capai 90%
Pada Juli dan Agustus lalu, BoK masing-masing menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin. Kenaikan beruntun tersebut menjadi yang pertama dalam lebih dari tiga tahun terakhir.
Gubernur BoK Shin Hyun Song sebelumnya menyatakan bahwa bank sentral cenderung memilih pengetatan kebijakan secara bertahap.
Namun, dalam acara Dana Moneter Internasional (IMF) pada 13 Oktober, Shin menegaskan bahwa kebijakan moneter akan tetap ketat hingga inflasi kembali mendekati target.
Analis NH Investment & Securities Kang Seung-won menilai, keputusan mempertahankan suku bunga kali ini mencerminkan kebutuhan BoK untuk mengevaluasi dampak kenaikan sebelumnya sekaligus mencermati volatilitas pasar keuangan, terutama di pasar saham.
Menurut dia, jeda setelah dua kali kenaikan suku bunga beruntun dapat memperlambat laju pengetatan kebijakan moneter dan mengurangi kecenderungan bank sentral mengambil sikap yang lebih agresif.
Baca Juga: AS Perintahkan Diplomat Tinggalkan Arab Saudi, Harga Minyak Dunia Memanas Lagi
Dari sisi inflasi, tekanan harga di Korea Selatan mulai mereda. Inflasi konsumen utama tercatat sebesar 2,9% secara tahunan pada September 2026, turun dari 3,1% pada Agustus. Meski demikian, angka tersebut masih berada di atas target inflasi BoK sebesar 2%.
Sementara itu, aktivitas ekspor Korea Selatan terus menguat seiring meningkatnya belanja global untuk teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Nilai pengiriman ekspor sepanjang Januari hingga September bahkan untuk pertama kalinya melampaui US$ 800 miliar.
Pertumbuhan ekonomi yang diperkirakan tetap solid dan inflasi yang masih di atas target menjadi alasan bagi BoK untuk tetap membuka peluang kenaikan suku bunga lanjutan.
Berdasarkan median perkiraan dalam survei Reuters, para ekonom memperkirakan BoK akan menaikkan suku bunga acuan menjadi 3,25% pada pertemuan November.
Baca Juga: Kekayaan 3 Orang Terkaya Indonesia Susut Rp106 Triliun Usai Peringatan MSCI
Proyeksi tersebut sejalan dengan perkiraan suku bunga yang tercermin dalam dot plot BoK.
Shin dijadwalkan menggelar konferensi pers pada pukul 02.10 GMT untuk menjelaskan lebih lanjut keputusan kebijakan moneter tersebut.














