kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.664.000   -6.000   -0,22%
  • USD/IDR 17.763   -2,00   -0,01%
  • IDX 6.600   74,46   1,14%
  • KOMPAS100 864   11,98   1,41%
  • LQ45 654   10,59   1,64%
  • ISSI 230   0,99   0,43%
  • IDX30 366   6,01   1,67%
  • IDXHIDIV20 452   8,85   2,00%
  • IDX80 98   1,48   1,52%
  • IDXV30 125   1,21   0,98%
  • IDXQ30 117   2,14   1,86%

Inflasi Korea Selatan Naik Jadi 3,1% pada Agustus 2026, di Bawah Ekspektasi


Rabu, 02 September 2026 / 07:42 WIB
Inflasi Korea Selatan Naik Jadi 3,1% pada Agustus 2026, di Bawah Ekspektasi
ILUSTRASI. Bursa Asia (YONHAP/via REUTERS)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - SEOUL. Inflasi Korea Selatan meningkat pada Agustus 2026, terutama dipengaruhi efek basis rendah dari periode yang sama tahun sebelumnya. Meski demikian, laju inflasi tersebut masih lebih rendah dari ekspektasi pasar.

Melansir Reuters, data Kementerian Data dan Statistik Korea Selatan pada Rabu (2/9/2026) menunjukkan, indeks harga konsumen atau consumer price index (CPI) naik 3,1% secara tahunan pada Agustus 2026.

Baca Juga: Kanal Panama Proyeksikan Pendapatan US$ 5,56 Miliar pada Tahun Fiskal 2027

Angka tersebut meningkat dibandingkan kenaikan 2,8% pada Juli 2026. Namun, inflasi Agustus masih di bawah median proyeksi ekonom dalam jajak pendapat Reuters yang memperkirakan kenaikan sebesar 3,2%.

Kenaikan inflasi terutama dipengaruhi oleh harga layanan publik yang melonjak 6,5%. Salah satu penyebabnya adalah efek basis rendah dari biaya layanan seluler.

Biaya layanan seluler tercatat melonjak 26,7% pada Agustus tahun ini karena pada Agustus tahun lalu terdapat diskon harga sementara yang membuat basis perbandingan menjadi rendah.

Harga minyak bumi juga meningkat 14,2% secara tahunan pada Agustus, meski lebih rendah dibandingkan kenaikan 15,5% pada Juli.

Kementerian Keuangan Korea Selatan mengatakan, tanpa memperhitungkan dampak sementara dari biaya layanan seluler, inflasi akan lebih rendah, yakni sekitar 2,5%.

Pemerintah juga menyebut kebijakan pembatasan harga bahan bakar secara nasional telah menekan inflasi sekitar 0,3 poin persentase pada Agustus.

Pemerintah Korea Selatan memperkirakan inflasi akan mulai melandai pada September. Namun, bank sentral tetap mewaspadai tekanan harga yang mendasari.

Bank of Korea menilai tren kenaikan tekanan harga pada sejumlah produk inti masih akan berlanjut.

Baca Juga: Obligasi Global Tertekan, Harga Minyak Melonjak Usai Serangan AS ke Iran

Kebijakan Suku Bunga

Perkembangan inflasi menjadi perhatian penting bagi Bank of Korea (BOK) dalam menentukan arah kebijakan moneternya.

Pada pekan lalu, bank sentral Korea Selatan mencatat kenaikan suku bunga untuk kedua kalinya secara berturut-turut.

Keputusan tersebut dilakukan ketika inflasi masih berada di atas target dan risiko terhadap stabilitas keuangan tetap tinggi.

Secara bulanan, CPI Korea Selatan naik 0,2% pada Agustus, berbalik dari penurunan 0,2% pada Juli. Namun, angka tersebut masih di bawah ekspektasi ekonom yang memperkirakan kenaikan sebesar 0,3%.

Baca Juga: AS Kembali Serang Iran, Harga Minyak Melonjak dan Selat Hormuz Terancam

Sementara itu, inflasi inti yang tidak memperhitungkan harga pangan dan energi yang volatil justru meningkat lebih tajam.

Core CPI naik 3,4% secara tahunan pada Agustus, dibandingkan kenaikan 2,6% pada Juli. Kenaikan tersebut merupakan laju inflasi inti tahunan tercepat sejak Mei 2023.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa meskipun sebagian kenaikan inflasi utama berasal dari faktor sementara, tekanan harga yang mendasari perekonomian Korea Selatan masih menjadi perhatian bank sentral.


Video Terkait



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×