Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Amerika Serikat (AS) kembali melancarkan serangkaian serangan udara ke Iran pada Selasa (1/9/2026), memicu serangan balasan dari Teheran dan meningkatkan eskalasi konflik ke level paling serius dalam beberapa pekan terakhir.
Konflik yang telah berlangsung selama enam bulan tersebut tidak hanya meningkatkan ketegangan geopolitik di Timur Tengah, tetapi juga mendorong kenaikan harga energi global dan menekan popularitas Presiden AS Donald Trump di dalam negeri.
Baca Juga: Asap Kebakaran Hutan RI Menyerang Negeri Jiran, Kasus Asma Naik Pesat
Serangan AS terjadi setelah pertukaran serangan pada akhir pekan yang menjadi aksi saling serang pertama sejak Juli. Ketegangan juga meningkat setelah dua kapal tanker yang meninggalkan Selat Hormuz dilaporkan diserang pada Senin.
Selat Hormuz merupakan jalur strategis perdagangan minyak dunia. Iran disebut telah secara efektif menutup jalur tersebut bagi pelayaran akibat konflik yang berlangsung.
Harga minyak global melonjak lebih dari US$ 4 per barel pada perdagangan Selasa dan ditutup di level tertinggi dalam lima pekan.
Iran Ancam Hentikan Ekspor Minyak
Iran tetap menunjukkan sikap menantang meski mendapat serangan militer dan ancaman sanksi ekonomi baru dari Washington.
Teheran memperingatkan bahwa Iran akan mencegah ekspor minyak dari kawasan Teluk jika AS berupaya menghentikan ekspor minyak Iran.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf mengatakan, jika Iran tidak diperbolehkan mengekspor minyak dari Teluk Persia, maka negara lain juga tidak akan dapat melakukan hal tersebut.
Baca Juga: Data S&P Global dan J.P. Morgan: Aktivitas Sektor Manufaktur Global Membaik
"Jika musuh menginginkan agar kami tidak mengekspor minyak dari Teluk Persia, maka tidak seorang pun akan dapat mengekspor minyak," ujar Qalibaf seperti dikutip media Iran.
Pernyataan tersebut menambah kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak global.
Sebelum perang, Selat Hormuz menjadi jalur bagi sekitar satu dari setiap lima barel minyak dunia.
Gangguan berkepanjangan terhadap jalur tersebut berpotensi memberikan tekanan besar terhadap pasar energi global.
Korban Sipil Berjatuhan
Serangan AS juga dilaporkan menimbulkan korban sipil.
Bulan Sabit Merah Iran melaporkan lima orang tewas dan 50 lainnya terluka dalam serangan di sebuah pesta pernikahan dekat Sirik, wilayah pesisir di sekitar Selat Hormuz.
Kantor berita Mehr melaporkan seorang anak berusia empat tahun termasuk dalam korban tewas. Sementara itu, kantor berita IRNA yang mengutip pejabat provinsi menyebut jumlah korban luka mencapai 68 orang.
Baca Juga: AS Berencana Jatuhkan Sanksi Perbankan ke Iran Pekan Ini, Ketegangan Memanas
Hingga berita ini ditulis, belum ada tanggapan langsung dari pemerintah AS terkait laporan tersebut.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan serangan AS akan semakin memperketat "penguncian" terhadap Selat Hormuz.
Iran Balas Serang Pangkalan AS
Iran kemudian melancarkan serangan balasan terhadap sejumlah fasilitas AS dan sekutunya di kawasan Timur Tengah.
IRGC menyatakan telah meluncurkan serangan rudal balistik dalam skala besar terhadap pangkalan Korps Marinir AS di Yordania. Media Fars menyebut serangan tersebut sebagai operasi balasan yang menggunakan rudal dan drone.
Namun, dua pejabat AS mengatakan kepada Reuters bahwa sejauh ini belum ada korban jiwa akibat serangan Iran terhadap fasilitas di Yordania. Informasi tersebut masih berdasarkan laporan awal dan dapat berubah seiring berlanjutnya serangan.
Angkatan Bersenjata Yordania mengatakan sistem pertahanan udaranya menghadapi 13 rudal balistik yang memasuki wilayah udara negara tersebut.
Baca Juga: AS Minta G20 Naikkan Hambatan Dagang China, Perang Tarif Mengintai
Sebanyak 10 rudal berhasil dicegat dan dihancurkan, sementara tiga lainnya jatuh di wilayah terpencil yang jauh dari pusat populasi.
Media Iran juga melaporkan bahwa militer Iran menargetkan pangkalan AS di Bahrain dengan serangan drone berskala besar.
Sementara itu, militer Kuwait mengatakan sistem pertahanan udaranya merespons serangan drone yang dianggap sebagai ancaman.
Sejak AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari, Iran telah merespons dengan serangan rudal dan drone terhadap sejumlah sekutu AS di kawasan tersebut.
Trump Ancam Serangan Lebih Besar
Presiden Donald Trump memperingatkan Iran agar tidak melakukan serangan balasan lebih lanjut.
Trump mengatakan Iran akan menghadapi serangan yang lebih besar apabila kembali menyerang AS.
"Jika Iran membalas serangan yang sangat dibenarkan ini, mereka akan diserang lagi dengan tingkat yang jauh lebih keras dan lebih tinggi," kata Trump melalui unggahan di media sosial.
Baca Juga: Manufaktur AS Solid, tetapi Permintaan dan Output Mulai Kehilangan Momentum
Trump juga mengatakan AS masih memiliki opsi serangan yang jauh lebih besar terhadap Iran.
Dalam wawancara dengan Fox News, Trump bahkan meremehkan kemungkinan tercapainya kembali kesepakatan gencatan senjata dengan Teheran.
AS dan Iran sebelumnya mencapai kesepakatan pada Juni, tetapi kesepakatan tersebut dengan cepat runtuh, terutama akibat perbedaan pandangan mengenai kendali Iran atas Selat Hormuz.
"Saya pikir kesepakatan dengan mereka tidak sebanding dengan kertas tempat kesepakatan itu ditulis. Kami sudah memberi mereka banyak kesempatan," ujar Trump.
AS Targetkan Garda Revolusi Iran
Komando Pusat AS (CENTCOM) mengatakan telah menyelesaikan serangkaian serangan terhadap sejumlah target milik IRGC.
Target tersebut mencakup fasilitas pertahanan udara, sistem radar, aset maritim, fasilitas dan kemampuan peletakan ranjau serta fasilitas komunikasi.
Menurut CENTCOM, serangan tersebut dilakukan setelah IRGC berupaya menyerang kapal komersial di Selat Hormuz serta personel militer AS.
Lebih dari 50.000 personel militer AS saat ini berada di kawasan Timur Tengah dan disebut siap melanjutkan operasi sesuai perintah Trump.
Media Iran melaporkan sejumlah wilayah terkena serangan AS, termasuk sekitar kota Ahvaz dan Bandara Jiroft di tenggara Iran.
Baca Juga: Barcelona Rekrut Gabriel Jesus, Arsenal Kantongi US$ 11,5 juta
Ledakan juga terdengar di pelabuhan Chabahar, Bandar Abbas yang berada di sekitar Selat Hormuz, serta Asaluyeh yang merupakan salah satu pusat gas penting di pesisir Teluk.
Ledakan juga dilaporkan terjadi di Pulau Qeshm di sisi utara Selat Hormuz.
Juru bicara IRGC yang dikutip kantor berita Fars memperingatkan bahwa AS akan menyesali serangan terbaru tersebut.
Eskalasi terbaru ini terjadi setelah konflik yang sebelumnya lebih banyak bergeser menjadi perang ekonomi melalui sanksi, blokade dan tekanan perdagangan.
Serangkaian serangan dalam beberapa hari terakhir menunjukkan risiko konflik kembali berkembang menjadi perang militer terbuka dengan konsekuensi yang lebih besar terhadap pasar energi global.














