kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.664.000   -6.000   -0,22%
  • USD/IDR 17.765   12,00   0,07%
  • IDX 6.600   74,46   1,14%
  • KOMPAS100 864   11,98   1,41%
  • LQ45 654   10,59   1,64%
  • ISSI 230   0,99   0,43%
  • IDX30 366   6,01   1,67%
  • IDXHIDIV20 452   8,85   2,00%
  • IDX80 98   1,48   1,52%
  • IDXV30 125   1,21   0,98%
  • IDXQ30 117   2,14   1,86%

AS Berencana Jatuhkan Sanksi Perbankan ke Iran Pekan Ini, Ketegangan Memanas


Selasa, 01 September 2026 / 23:08 WIB
AS Berencana Jatuhkan Sanksi Perbankan ke Iran Pekan Ini, Ketegangan Memanas
ILUSTRASI. Menteri Keuangan AS Scott Bessent (REUTERS/Sam Wolfe)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Amerika Serikat (AS) berencana mengumumkan sanksi terhadap sektor perbankan Iran pada pekan ini.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya Washington meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Teheran setelah konflik yang berlangsung selama enam bulan kembali memanas.

Baca Juga: Manufaktur AS Solid, tetapi Permintaan dan Output Mulai Kehilangan Momentum

Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan, Washington kemungkinan akan mengumumkan sanksi terhadap salah satu bank Iran pada pekan ini. Sanksi tambahan juga berpotensi diumumkan pada pekan berikutnya.

"Kami mungkin akan mengumumkan sanksi terhadap bank pekan ini, dan kami akan mengumumkan satu lagi pada pekan berikutnya," kata Bessent dalam pertemuan para pemimpin keuangan G20 di Asheville, North Carolina dilansir dari Reuters Selasa (1/9/2026).

Bessent mengatakan AS juga tengah mempertimbangkan sanksi terhadap perusahaan penyewaan pesawat serta sejumlah entitas lain yang melakukan bisnis dengan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC).

"Kami tidak memiliki toleransi. Kami akan mencekik rezim ini secara ekonomi," ujar Bessent.

AS juga memperingatkan negara-negara yang melakukan transaksi bisnis dengan Iran bahwa mereka dapat menghadapi sanksi dari Washington.

Baca Juga: Manufaktur Spanyol Kembali Tertekan, Harga Energi Kerek Biaya Produksi

Iran Tetap Menantang

Meski tekanan ekonomi AS meningkat, pemerintah Iran menunjukkan sikap tidak akan mundur. Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf bahkan memperingatkan bahwa Teheran dapat menghentikan ekspor minyak dari kawasan Teluk jika AS berupaya melakukan hal serupa terhadap Iran.

"Jika musuh menginginkan agar kami tidak mengekspor minyak dari Teluk Persia, maka tidak seorang pun akan dapat mengekspor minyak," kata Qalibaf seperti dikutip media Iran.

Pernyataan tersebut muncul setelah konflik kembali meningkat pada akhir pekan. Pasukan AS menyerang Pulau Larak di Iran pada Minggu, kemudian Iran merespons dengan meluncurkan rudal ke dua pangkalan udara AS di Yordania.

Presiden AS Donald Trump memperingatkan Iran bahwa Washington akan memberikan respons keras terhadap serangan tersebut. Namun, Trump juga mengatakan serangan Iran tidak berarti kedua negara kembali menuju perang skala penuh.

Seorang sumber senior Iran kepada Reuters menyebut bentrokan tersebut sebagai "konfrontasi yang terbatas dan terkendali".

Meski demikian, ancaman pembalasan dari kedua pihak meningkatkan kekhawatiran bahwa konflik yang sebelumnya lebih banyak berlangsung melalui sanksi, blokade dan tekanan ekonomi dapat kembali berkembang menjadi konflik militer.

Baca Juga: Barcelona Rekrut Gabriel Jesus, Arsenal Kantongi US$ 11,5 juta

Iran Siap Membalas

Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan Teheran siap merespons apabila AS kembali memenuhi komitmennya berdasarkan Memorandum of Understanding (MOU) yang disepakati pada Juni dan ditujukan untuk mengakhiri konflik.

"Saya menyatakan dengan jelas bahwa jika AS kembali pada komitmennya berdasarkan Memorandum of Understanding, Republik Islam Iran akan segera memberikan respons yang sama," kata Pezeshkian dalam pertemuan Organisasi Kerja Sama Shanghai di Bishkek, Kirgistan.

Namun, pejabat Iran belum menunjukkan tanda-tanda akan menyerah terhadap tekanan AS.

Qalibaf mengatakan Iran akan memberikan respons militer apabila Washington meningkatkan "pengepungan" terhadap negaranya.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei juga menuding AS terlalu banyak mengajukan tuntutan dan menganggap proses negosiasi sebagai upaya untuk mendikte Iran.

"Selama mereka bertindak dengan cara seperti ini, mereka tentu tidak akan mendapatkan hasil selain apa yang telah mereka capai sejauh ini," ujar Baghaei.

Ia menegaskan Iran akan menggunakan seluruh kemampuannya, baik melalui medan perang maupun jalur diplomasi.

Baca Juga: Aktivitas Manufaktur Italia Kembali Tertekan, PMI Turun ke Zona Kontraksi

Harga Minyak Kembali Naik

Meningkatnya ketegangan AS-Iran turut memicu kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak dunia. Harga minyak mentah Brent naik lebih dari 2% pada perdagangan Selasa.

Kekhawatiran semakin meningkat setelah dua supertanker yang membawa minyak Arab Saudi dilaporkan terkena proyektil tak dikenal ketika melintas keluar dari Selat Hormuz pada Senin malam.

Selat Hormuz merupakan jalur strategis bagi perdagangan minyak dunia. Iran disebut secara efektif telah menutup jalur tersebut bagi pelayaran akibat meningkatnya konflik.

Analis PVM John Evans mengatakan, pertukaran serangan rudal antara AS dan Iran meningkatkan kekhawatiran bahwa konflik dapat berlangsung lebih lama.

"Pertukaran rudal antara AS dan Iran memberikan validasi kepada mereka yang percaya bahwa meskipun bukan perang tanpa akhir, konflik ini akan terus berlangsung," kata Evans.

Baca Juga: Manufaktur Prancis Kembali Ekspansi, Tapi Optimisme Pebisnis Justru Melemah

Iran Klaim Cadangan Devisa Cukup

Di tengah tekanan ekonomi dan volatilitas mata uang, Gubernur Bank Sentral Iran Abdolnaser Hemmati mengatakan negaranya masih memiliki cadangan devisa yang cukup.

Hemmati mengatakan bank sentral siap menggelontorkan dana hingga US$ 2 miliar ke pasar valuta asing untuk meredam volatilitas nilai tukar.

"Saya mengatakan kepada Presiden Amerika Serikat: Iran memiliki mata uang asing dan jumlahnya cukup," ujar Hemmati seperti dikutip kantor berita semi-resmi Tasnim.

Pernyataan tersebut disampaikan setelah sejumlah pejabat Iran, termasuk Pezeshkian, mengakui meningkatnya tekanan terhadap perekonomian negara tersebut.

Nilai tukar mata uang Iran, rial, bahkan anjlok ke level terendah sepanjang sejarah pada Agustus. Nilai rial menembus ambang psikologis 2 juta rial per dolar AS.

Sementara itu, tingkat inflasi tahunan Iran mencapai 66% pada Juli, menunjukkan besarnya tekanan ekonomi yang dihadapi Teheran akibat konflik dan sanksi internasional.


Video Terkait



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×