Biden ke Israel: AS Tidak Pernah Izinkan Iran Mendapat Senjata Nuklir

Kamis, 01 September 2022 | 14:47 WIB Sumber: Reuters
Biden ke Israel: AS Tidak Pernah Izinkan Iran Mendapat Senjata Nuklir

ILUSTRASI. Presiden Joe Biden mengatakan kepada Perdana Menteri Israel Yair Lapid, AS tidak akan pernah mengizinkan Iran untuk memperoleh senjata nuklir. REUTERS/Evelyn Hockstein.


KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Presiden Joe Biden mengatakan kepada Perdana Menteri Israel Yair Lapid, AS tidak akan pernah mengizinkan Iran untuk memperoleh senjata nuklir.

Pernyataan Biden itu menyusul upaya Iran mencari jaminan yang lebih kuat dari AS untuk menghidupkan kembali kesepakatan nuklir dengan kekuatan dunia lainnya.

Israel menentang kembalinya kesepakatan 2015, yang memberlakukan pembatasan pada program senjata nuklir Iran dengan imbalan pencabutan sanksi AS, Uni Eropa, dan PBB terhadap Teheran.

Untuk menyenangkan Israel, mantan Presiden AS Donald Trump menarik diri dari kesepakatan tersebut pada 2018 dan menerapkan kembali sanksi keras, mendorong Iran melanggar pakta. 

Tapi, Biden telah bersumpah untuk menghidupkan kembali perjanjian itu sambil memastikan keamanan Israel, musuh bebuyutan Iran.

Baca Juga: Biden: Serangan Pasukan AS di Suriah Ditujukan untuk Pasukan yang Didukung Iran

"Presiden menggarisbawahi komitmen AS untuk tidak pernah mengizinkan Iran memperoleh senjata nuklir," kata Gedung Putih dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip Reuters

Gedung Putih merilis pernyataan usai Biden dan Lapid melakukan pembicaraan via telepon yang juga membahas "ancaman yang ditimbulkan oleh Iran".

Sementara Kantor Perdana Menteri Israel mengatakan, Lapid dan Biden "berbicara panjang lebar tentang negosiasi perjanjian nuklir, dan komitmen bersama mereka untuk menghentikan kemajuan Iran menuju senjata nuklir".

Biden dan Lapid pada Juli lalu menandatangani janji bersama untuk menolak senjata nuklir Iran, sebuah pertunjukan persatuan antara sekutu yang telah lama terpecah karena diplomasi dengan Teheran. 

Tapi, Lapid menegaskan pekan lalu, jika kesepakatan 2015 dihidupkan kembali, Israel tidak akan terikat olehnya.

Editor: S.S. Kurniawan

Terbaru