Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – SAN FRANCISCO. Pendiri Microsoft Bill Gates berencana bertemu dengan Presiden China Xi Jinping pada akhir tahun ini untuk mendorong kerja sama internasional dalam mengantisipasi risiko yang semakin besar dari perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Gates mengatakan kepada Reuters bahwa dirinya berharap China bersedia mendukung pembatasan terhadap peluncuran model AI yang berpotensi membahayakan jika Amerika Serikat (AS) terlebih dahulu mengambil langkah serupa.
"Segenap dunia akan mengikuti langkah tersebut," kata Gates, yang sebelumnya bertemu Xi Jinping tiga tahun lalu. Saat itu, Gates menjadi pengusaha asing pertama yang diterima Presiden China setelah pandemi.
Selain pembatasan terhadap model AI berisiko tinggi, Gates juga ingin mengusulkan agar negara-negara melakukan pemantauan terhadap kemampuan AI dalam menciptakan molekul serta melakukan serangan biologis.
Menurut Gates, mekanisme tersebut tidak seharusnya menghambat perkembangan industri teknologi secara keseluruhan.
Juru bicara Gates mengatakan bahwa staf Gates tengah menyelesaikan persiapan pertemuan dengan Xi Jinping dalam kunjungan berikutnya ke China yang untuk sementara dijadwalkan pada November 2026.
"Presiden Xi mungkin akan terkejut melihat betapa kerasnya sikap saya," ujar Gates.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Anjlok Lebih dari US$2, Harapan Pembukaan Selat Hormuz Menguat
Ia menilai China telah mengambil langkah untuk melindungi anak-anak dari risiko kecanduan terhadap pendamping AI. Namun, menurutnya, hanya sedikit pemimpin dunia yang bergerak cukup cepat untuk mengantisipasi berbagai potensi dampak negatif AI.
"Ya, di masa lalu teknologi tidak pernah melakukan hal seperti ini. Kali ini berbeda. Ini seperti tonggak evolusi yang membutuhkan pengelolaan kebijakan luar biasa oleh masyarakat secara keseluruhan," kata Gates.
Gates Soroti Risiko AI terhadap Keamanan Siber
Sikap Gates terhadap perkembangan AI kini semakin berhati-hati. Pada Januari lalu, ia masih menyampaikan pandangan yang lebih optimistis mengenai teknologi tersebut.
Namun, perkembangan terbaru membuat Gates semakin khawatir bahwa AI tidak hanya berpotensi menggantikan pekerjaan manusia dan menciptakan ketergantungan psikologis, tetapi juga dapat digunakan untuk melakukan serangan.
Ia menyoroti teknologi yang dikembangkan oleh OpenAI, Anthropic, dan Meta Platforms yang baru-baru ini dilaporkan berhasil meretas situs web dunia nyata dalam evaluasi keamanan siber yang seharusnya dilakukan dalam lingkungan terisolasi.
"Insiden keamanan ini mengejutkan, dan seharusnya membuat orang benar-benar tercengang," kata Gates.
Dalam unggahan blog pada Rabu, Gates menyerukan pembentukan organisasi internasional baru untuk mengelola perkembangan AI. Ia mengusulkan lembaga tersebut mengambil sejumlah unsur dari sistem inspeksi nuklir, aturan penerbangan internasional, serta kesepakatan perlindungan lapisan ozon.
AS Dinilai Harus Memimpin Pengaturan AI
Hingga saat ini, pemerintahan Presiden AS Donald Trump telah melakukan sejumlah pengendalian terhadap distribusi model AI yang sangat kuat. Namun, sebagian besar regulasi AI di AS juga berkembang melalui kebijakan di tingkat negara bagian.
Baca Juga: Carrefour Sebut Konsumsi Prancis Tetap Tangguh di Tengah Tekanan Ekonomi
Sejumlah pemimpin industri teknologi sebelumnya banyak menyoroti manfaat AI. CEO Meta Mark Zuckerberg, misalnya, termasuk tokoh yang kerap menyampaikan potensi positif teknologi tersebut.
Di sisi lain, kekhawatiran mengenai risiko AI juga semakin banyak disuarakan. Demis Hassabis, pimpinan Google DeepMind, pernah mengusulkan pembentukan badan yang menyerupai Financial Industry Regulatory Authority (FINRA). Lembaga tersebut nantinya dapat mengembangkan dan melakukan pengujian terhadap AI yang berkaitan dengan keamanan nasional.
Gates sepakat bahwa AS harus mengambil posisi terdepan dalam pengaturan AI. Namun, menurutnya, diperlukan kriteria yang jelas untuk menentukan kapan dan tindakan apa yang harus dilakukan.
"Anda dapat menggunakan model seperti FINRA, tetapi itu adalah percakapan yang konyol," ujar Gates. "Ini seperti mengatakan, 'Haruskah kita bertemu untuk membahas perpajakan di restoran ini atau restoran itu?'"
Gates Sebut Masa Depan AI sebagai Prioritas Dunia
Dalam tulisan di blognya, Gates menyebut penciptaan masa depan AI yang tidak memperlebar kesenjangan ekonomi dan merugikan kelompok rentan sebagai "prioritas utama dunia".
Menurut Gates, persoalan tersebut bahkan harus ditempatkan di atas perubahan iklim dan krisis kesehatan.
Gates juga mengungkapkan bahwa yayasannya menargetkan pengeluaran hingga US$ 200 miliar atau sekitar Rp 3.000 triliun hingga 2045, dengan fokus yang semakin besar pada pemanfaatan AI.
Yayasan tersebut saat ini bekerja sama dengan Anthropic untuk mengembangkan pemeriksaan kesehatan kehamilan berbasis AI. Selain itu, Gates juga bekerja sama dengan OpenAI untuk membantu tenaga kesehatan di Rwanda.
Gates mengatakan dirinya juga akan berbicara dengan staf Anthropic dan OpenAI mengenai filantropi berdampak. Kedua perusahaan tersebut tengah mempersiapkan penawaran umum perdana saham (IPO) berskala besar.
Baca Juga: Harga Energi Inggris Naik 4% Mulai Oktober, Dipicu Perang Iran
Gates Dorong Pajak untuk AI Pengganti Tenaga Kerja
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian Gates adalah dampak AI terhadap pasar tenaga kerja. Ia membayangkan adanya pajak atas pendapatan perusahaan yang menggunakan token atau keluaran AI untuk menggantikan tenaga kerja manusia.
Dana dari pajak tersebut, menurut Gates, dapat digunakan untuk membiayai jaring pengaman sosial bagi masyarakat yang terdampak otomatisasi.
Gates juga menilai hingga 40% pekerjaan yang ada saat ini sebaiknya tetap diperuntukkan bagi manusia. Ia mencontohkan pengalaman ayahnya yang mendapatkan perawatan ketika menderita Alzheimer sebagai pekerjaan yang memiliki unsur kemanusiaan dan tidak dapat sepenuhnya digantikan teknologi.
"Tak tergantikan oleh manusia," demikian Gates menggambarkan nilai perawatan yang diterima ayahnya.
Gates juga menilai aksi protes masyarakat terkait pembangunan pusat data AI belum menyentuh persoalan yang lebih besar.
"Tunggu sampai Anda benar-benar mengacaukan pasar tenaga kerja," kata Gates.
Menurutnya, perkembangan AI bukan hanya persoalan kebutuhan listrik, pusat data, atau infrastruktur teknologi. Dampaknya terhadap pekerjaan, ketimpangan sosial, keamanan, serta kemampuan manusia mengendalikan teknologi menjadi tantangan yang semakin mendesak bagi pemerintah di seluruh dunia.














