kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.750.000   -18.000   -0,65%
  • USD/IDR 17.743   20,00   0,11%
  • IDX 6.430   -71,90   -1,11%
  • KOMPAS100 836   -11,49   -1,36%
  • LQ45 635   -7,30   -1,14%
  • ISSI 226   -2,15   -0,94%
  • IDX30 355   -3,58   -1,00%
  • IDXHIDIV20 433   -3,40   -0,78%
  • IDX80 95   -1,28   -1,32%
  • IDXV30 120   -1,24   -1,02%
  • IDXQ30 113   -0,90   -0,79%

Harga Minyak Dunia Anjlok Lebih dari US$2, Harapan Pembukaan Selat Hormuz Menguat


Rabu, 26 Agustus 2026 / 14:22 WIB
Harga Minyak Dunia Anjlok Lebih dari US$2, Harapan Pembukaan Selat Hormuz Menguat
ILUSTRASI. Harga minyak dunia merosot lebih dari US$2 per barel pada perdagangan Rabu (26/8/2026), tertekan oleh munculnya harapan bahwa Selat Hormuz dapat kembali dibuka (REUTERS/Orhan Qereman)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – TOKYO/SINGAPURA. Harga minyak dunia merosot lebih dari US$2 per barel pada perdagangan Rabu (26/8/2026), tertekan oleh munculnya harapan bahwa Selat Hormuz dapat kembali dibuka setelah Iran dan Oman melanjutkan pembicaraan mengenai jalur pelayaran strategis tersebut.

Kontrak berjangka minyak mentah Brent turun US$2,30 atau 2,6% menjadi US$86,28 per barel pada pukul 04.47 GMT (11:47 WIB). Harga Brent sebelumnya sempat menyentuh level terendah sejak 13 Agustus.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat turun US$2,08 atau 2,53% menjadi US$80,29 per barel. WTI sebelumnya juga sempat jatuh ke level terendah sejak 10 Agustus.

Penurunan tersebut melanjutkan pelemahan pada perdagangan Selasa. Kedua acuan harga minyak dunia tersebut masing-masing terkoreksi lebih dari 3%.

Analis Fujitomi Securities Mitsuru Muraishi mengatakan, pasar masih merespons perkembangan terkait navigasi kapal melalui Selat Hormuz.

"Pasar terus merespons perkembangan terkait navigasi melalui Selat Hormuz, dan harapan akan kemajuan dalam pembicaraan antara Iran dan Oman telah memicu aksi jual," kata Muraishi.

Baca Juga: Carrefour Sebut Konsumsi Prancis Tetap Tangguh di Tengah Tekanan Ekonomi

Namun, ketidakpastian terhadap prospek pasar membuat sebagian pelaku melakukan pembelian saat harga melemah sehingga membatasi penurunan harga minyak lebih lanjut.

"Meski demikian, ketidakpastian mengenai prospek telah mendorong aksi beli saat harga turun, sehingga membatasi penurunan lebih lanjut, dan harga kemungkinan akan tetap bergerak dalam kisaran tertentu untuk sementara waktu," tambahnya.

Iran dan Oman Bahas Jalur Pelayaran Selat Hormuz

Iran menyatakan telah kembali melakukan pembicaraan dengan Oman untuk mengatur lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz. Langkah tersebut dilakukan ketika Iran menghadapi tekanan ekonomi yang semakin besar dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Iran dan Oman telah melakukan pembicaraan secara berkala selama beberapa pekan terkait pengaturan lalu lintas kapal di jalur perairan tersebut.

Sebelum perang Amerika Serikat dan Israel dengan Iran dimulai pada Februari, Selat Hormuz menjadi salah satu jalur perdagangan energi paling penting di dunia. Jalur tersebut menangani sekitar seperlima pengiriman minyak dan gas alam cair (LNG) global.

Dalam pembicaraan terbaru, kedua negara pada Selasa mengatakan telah membahas "koridor navigasi sementara bersama" melalui Selat Hormuz. Iran dan Oman juga sepakat untuk membersihkan ranjau dari jalur tersebut.

Perkembangan ini memunculkan harapan bahwa hambatan terhadap pengiriman komoditas energi melalui Selat Hormuz dapat berkurang.

Baca Juga: Harga Energi Inggris Naik 4% Mulai Oktober, Dipicu Perang Iran

Lalu Lintas Kapal Masih Rendah

Meski pembicaraan Iran dan Oman berlanjut, lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz masih berada pada level rendah.

Data awal dari pelacak kapal Kpler menunjukkan hanya lima kapal komoditas yang melintasi jalur tersebut pada Selasa. Jumlah itu terdiri atas dua kapal tanker liquefied petroleum gas (LPG), satu tanker bitumen yang keluar dari kawasan, serta dua tanker produk kosong.

Jumlah tersebut jauh di bawah rata-rata 10 hari yang mencapai 15 kapal dan masih berada jauh di bawah tingkat lalu lintas sebelum perang.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa meskipun terdapat sinyal positif dari pembicaraan diplomatik, pasar energi masih menghadapi risiko gangguan pasokan akibat terbatasnya aktivitas pelayaran di salah satu jalur energi utama dunia.

Perundingan Perdamaian Iran Berlanjut

Selain pembicaraan mengenai Selat Hormuz, upaya untuk mengakhiri konflik secara keseluruhan juga terus berlangsung.

Pakistan dan Iran disebut telah mencapai "kemajuan signifikan" dalam pembicaraan yang berfokus pada perang Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran serta jalan menuju perdamaian.

Pernyataan tersebut disampaikan Menteri Dalam Negeri Pakistan pada Selasa setelah mengakhiri kunjungannya ke Teheran.

Baca Juga: Hyundai Tambah Kapasitas Produksi 1,27 Juta Unit hingga 2030, Bidik Margin di Atas 9%

Di sisi lain, Washington pada Senin memperluas sanksi yang ditujukan untuk memutus sumber pendapatan ekonomi Iran. Amerika Serikat juga mengancam akan memberikan sanksi kepada negara-negara yang tetap melakukan transaksi bisnis dengan Teheran.

Namun, Washington menyatakan bahwa hukuman tersebut tidak akan langsung diberlakukan.

Persediaan Minyak AS Naik

Tekanan terhadap harga minyak juga datang dari Amerika Serikat. American Petroleum Institute (API) melaporkan persediaan minyak mentah AS meningkat sekitar 4,2 juta barel pada pekan yang berakhir 21 Agustus.

Kenaikan tersebut jauh lebih besar dibandingkan ekspektasi analis yang disurvei Reuters. Konsensus analis memperkirakan stok minyak mentah AS hanya meningkat sekitar 600.000 barel.

Data resmi mengenai persediaan minyak AS dari Energy Information Administration (EIA), lembaga statistik di bawah Departemen Energi AS, dijadwalkan dirilis pada Rabu pukul 10.30 ET atau 14.30 GMT.

Jika data resmi EIA mengonfirmasi kenaikan stok yang signifikan, kondisi tersebut berpotensi menambah tekanan terhadap harga minyak dunia di tengah pasar yang masih mencermati perkembangan konflik dan situasi pelayaran di Selat Hormuz.

Dengan demikian, arah harga minyak dalam jangka pendek masih akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan diplomatik Iran-Oman, pemulihan lalu lintas kapal di Selat Hormuz, kebijakan sanksi Amerika Serikat, serta data persediaan minyak mentah AS.




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×