kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.630.000   -15.000   -0,57%
  • USD/IDR 17.913   43,00   0,24%
  • IDX 5.643   -177,60   -3,05%
  • KOMPAS100 728   -24,24   -3,22%
  • LQ45 553   -19,90   -3,47%
  • ISSI 197   -4,65   -2,31%
  • IDX30 314   -10,96   -3,37%
  • IDXHIDIV20 389   -11,74   -2,93%
  • IDX80 83   -2,75   -3,22%
  • IDXV30 107   -1,77   -1,63%
  • IDXQ30 102   -3,08   -2,93%

Bisa terjadi 7 juta kehamilan tak diinginkan, efek lockdown corona


Rabu, 06 Mei 2020 / 20:37 WIB
ILUSTRASI. Ibu hamil.


Sumber: Kompas.com | Editor: S.S. Kurniawan

KONTAN.CO.ID - Pandemi virus corona ternyata berdampak pada sistem kesehatan perempuan, salah satunya kehamilan. Dalam beberapa bulan ke depan bakal terjadi peningkatan jutaan kehamilan yang tidak diinginkan.

Data penelitian United Nations Population Fund (UNFPA), badan PBB di bidang kesehatan seksual dan reproduksi, mengungkapkan dampak pandemi Covid-19 dalam skala besar terhadap perempuan.

Kondisi tersebut lantaran sistem kesehatan mengalami kelebihan beban, penutupan fasilitas, atau hanya tersedia pelayanan terbatas kepada perempuan dan anak perempuan akibat wabah virus corona baru.

Sebagian perempuan juga memilih untuk melewatkan pemeriksaan medis yang penting di fasilitas kesehatan. Sebab, mereka ketakutan akan tertular virus corona yang tengah mewabah di seluruh dunia.

Baca Juga: Selama penguncian corona, kekerasan atas perempuan dalam rumahtangga meningkat

Gangguan pada rantai pasok global juga bisa berakibat pada keterbatasan ketersediaan alat kontrasepsi. Serta, kekerasan berbasis gender berpotensi meningkat karena perempuan tertahan di dalam rumah dalam jangka waktu yang lama.

Direktur Eksekutif UNFPA Dr. Natalia Kanem mengatakan, data baru tersebut menunjukkan dampak bencana Covid-19 yang dalam waktu dekat akan perempuan dan anak perempuan alami secara global.

"Pandemi ini akan memperparah ketidaksetaraan, jutaan perempuan dan anak perempuan sekarang berisiko kehilangan kemampuan untuk merencanakan keluarga mereka, melindungi tubuh dan kesehatan mereka,” kata Kanem dalam keterangan tertulis, Rabu (6/5).

Data UNFPA menunjukkan, 47 juta perempuan di 114 negara berpenghasilan rendah-menengah tidak akan bisa mengakses alat kontrasepsi modern.

Baca Juga: Paus Fransiskus: Masyarakat harus berdiri di belakang perempuan yang alami kekerasan

Akibatnya, sebanyak 7 juta kehamilan tidak diinginkan akan terjadi jika karantina wilayah berlangsung hingga 6 bulan dan adanya gangguan pelayanan kesehatan.




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Inventory Management: From Chaos to Control Sales Coaching: Lead Better, Sell More!

[X]
×