kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Bisnis furnitur merekah setelah menikah (2)


Rabu, 19 Desember 2018 / 14:42 WIB

Bisnis furnitur merekah setelah menikah (2)
ILUSTRASI. FENOMENA - Akio Notari

Akio Nitori bukan berasal dari keluarga kaya. Ia harus bekerja serabutan untuk membiayai pendidikan selama kuliah. Setamat kuliah, Akio tak berhasil menjadi pegawai kantoran. Ia lalu melirik bisnis mebel. Namun karena tak terlalu bagus soal pelayanan, toko pertama furnitur miliknya tak berjalan mulus. Saat memutuskan menikah, Akio banyak mendapatkan hikmah. Sang istrinya menegur saat ia malas, termasuk membantunya melayani pelanggan.

Tak ada yang lahir dalam kesempurnaan, tapi setiap orang bisa berusaha untuk menjadi lebih baik. Pelajaran tersebut bisa diambil dari perjalanan hidup Akio Nitori, pendiri raksasa bisnis furnitur Jepang Nitori Holding. Kini, ia masuk dalam jajaran orang paling tajir di Negeri Matahari Terbit dengan kekayaan pribadi sebesar US$ 4,4 miliar versi Forbes.

Menjadi sukses seperti sekarang, awalnya hanya ada dalam mimpi Akio. Ia lahir di sebuah pulau kecil di utara Hokkaido, Jepang semasa perang dunia kedua masih berkecamuk. Ia kerap mendapat masalah semasa kecil dan cenderung tidak peduli pada lingkungannya. Meski begitu, ia memiliki keinginan besar untuk bersekolah.

Namun karena berasal dari keluarga yang hidup seadanya, Akio harus membiayai biaya kuliahnya sendiri. Ia bekerja serabutan. Mulai dari pelayan di bar, menjadi penjaga kolam renang, Akio berhasil menyelesaikan pendidikan dengan mengantongi gelar sarjana ekonomi dari Hokkai-Gakuen University pada tahun 1966.

Setelah itu, ia bekerja di sebuah perusahaan jasa agen periklanan. Namun karena cenderung memiliki sikap dingin, tak ada calon klien yang bisa ia tarik selama enam bulan pekerjaannya di perusahaan tersebut. Akio memutuskan mengundurkan diri.

Ia akhirnya memilih bekerja bersama ayahnya di konstruksi bangunan. Setelah proyek selesai, ia mulai mencari mata pencaharian lain. Saat pulang ia melihat di lingkungannya tak ada toko furnitur. Ia melirik bisnis penjualan mebel menjadi lahan ia pilih. Ia berpikir setiap keluarga yang memutuhkan furnitur pasti akan datang ke tokonya. Berkat bantuan dari sejumlah orang, ia mendapatkan pinjaman untuk memulai usahanya tersebut.

Menjalankan bisnis tanpa pesaing mungkin terdengar mudah. Namun tidak begitu kenyataannya bagi toko furnitur yang dibuka Akio. Ia memang punya kekurangan soal kehidupan sosial akibat sikap dinginnya. Hal tersebut rupanya masih belum bisa ia hilangkan saat memulai bisnis sendiri.

Ia tak terlalu peduli soal layanan pelanggan, yang membuat masyarakat enggan untuk membeli mebel di tokonya. Ditambah lagi, ia kerap kehilangan keseriusan dalam bekerja dan suka malas-malasan. Bisnisnya yang seret memaksa Akio untuk mengencangkan ikat pinggang. Setiap hari ia harus hidup irit, termasuk soal makanan.

Melihat bisnis anaknya yang acak-acakan, orang tuanya memberi saran penting, yaitu menikah. Dengan begitu, istrinya bisa melayani pelanggan dengan lebih hangat dan diharapkan bisnisnya akan lebih berkembang.

Ia menuruti nasehat tersebut dengan menikahi kekasihnya. Dan benar saja, setelah urusan pelanggan dipegang istrinya bisnis furnitur Akio melaju pesat. Penjualan tokonya rata-rata tumbuh dua kali lipat tiap bulan. Saat penyakit malas Akio kambuh, istrinya kerap menegur.

Bisnis toko furnitur terus berkembang, hingga ia bisa membuka toko kedua yang jauh lebih luas. Namun kisah manis tak selamanya terjadi. Beberapa waktu kemudian, seorang kompetitor dengan modal yang lebih besar datang dan membuka toko yang jauh lebih luas lagi ketimbang tokonya.

Hal ini membuat penjual tokonya terjun bebas. Pinjaman dari bank mulai seret. Usahanya kini di ambang kebangkrutan. Namun ada momentum yang menyelamatkannya saat diajak dalam seminar dan studi lapangan ke California, Amerika Serikat. Sebuah perjalanan yang akan membuka mata dan menjadikannya salah satu orang terkaya di Jepang.

(Bersambung)


Reporter: Tendi Mahadi
Editor: Tri Adi
Video Pilihan


Close [X]
×