kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.690.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.844   -66,00   -0,37%
  • IDX 6.454   43,90   0,68%
  • KOMPAS100 850   5,38   0,64%
  • LQ45 644   3,37   0,53%
  • ISSI 224   1,86   0,84%
  • IDX30 361   1,52   0,42%
  • IDXHIDIV20 439   0,68   0,15%
  • IDX80 97   0,52   0,53%
  • IDXV30 121   0,10   0,09%
  • IDXQ30 114   0,22   0,19%

Bos Jepang Minta Stabilitas Yen, Pelemahan Mata Uang Picu Tekanan Biaya Impor


Senin, 10 Agustus 2026 / 08:29 WIB
Bos Jepang Minta Stabilitas Yen, Pelemahan Mata Uang Picu Tekanan Biaya Impor
ILUSTRASI. Forex - Yen Jepang (REUTERS/Thomas White)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Para eksekutif perusahaan Jepang semakin memperingatkan risiko volatilitas nilai tukar dan pelemahan yen yang berkepanjangan terhadap perekonomian.

Kondisi tersebut menambah kekhawatiran terkait tekanan biaya impor yang menjadi salah satu alasan Jepang dan Amerika Serikat (AS) melakukan intervensi valuta asing bersama pekan lalu.

Baca Juga: Harga Emas Stabil Setelah Tembus Level Tertinggi 7 Pekan, Investor Pantau Inflasi AS

Kekhawatiran tersebut menunjukkan bahwa dampak negatif yen yang lemah semakin dirasakan oleh dunia usaha Jepang, termasuk perusahaan eksportir yang selama ini mendapatkan keuntungan dari pelemahan mata uang domestik di pasar global.

Pada Juli 2026, yen sempat melemah hingga hampir 164 yen per dolar AS, level terendah dalam 40 tahun. Kondisi tersebut mendorong Jepang dan AS melakukan intervensi bersama untuk menopang yen. Setelah intervensi, yen menguat sekitar 5%.

"Masalah yang memengaruhi perekonomian Jepang secara keseluruhan juga memengaruhi kami," kata Chief Financial Officer Mitsubishi Electric Kenichiro Fujimoto kepada Reuters dalam wawancara pekan lalu.

"Yen yang lemah tidak selalu berarti semuanya berjalan baik," ujarnya.

Pelemahan yen meningkatkan biaya energi, bahan baku dan pangan yang diimpor Jepang. Kondisi tersebut berpotensi menekan konsumsi domestik dan mengganggu upaya Jepang untuk keluar secara bertahap dari periode deflasi selama beberapa dekade.

Baca Juga: Taiwan Simulasikan Tangkal Serangan China, Internet Seluler Diperlambat

Eksportir Tak Selalu Diuntungkan

Ketua Japan External Trade Organization (JETRO) Norihiko Ishiguro mengatakan pelemahan yen memang memberikan keuntungan bagi ekspor, tetapi dampaknya tidak selalu positif bagi perusahaan Jepang.

"Yen yang lebih lemah memang memiliki keuntungan nyata bagi ekspor, tetapi perusahaan Jepang mengimpor hampir seluruh bahan bakunya," kata Ishiguro dalam konferensi pers pada Juli.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Naik Senin (10/8) Pagi, Brent ke US$84,46 dan WTI ke US$78,79

Menurut dia, pada tingkat nilai tukar tertentu, biaya impor justru meningkat sehingga eksportir tidak selalu menjadi pihak yang diuntungkan dari pelemahan yen.

Pergerakan nilai tukar yang tajam juga menyulitkan perusahaan dalam menyusun proyeksi laba dan mengambil keputusan investasi, terutama bagi perusahaan yang memiliki operasi global.

Makoto Tanaka, CFO Mitsui & Co mengatakan, perusahaan menginginkan stabilitas nilai tukar dan penurunan volatilitas.

"Lebih dari segalanya, saya ingin pasar stabil dan volatilitas menurun," kata Tanaka.

Mitsui & Co sendiri mencatat laba kuartal pertama yang mencapai rekor pada pekan ini, salah satunya terbantu pelemahan yen yang meningkatkan pendapatan perusahaan dari luar negeri.

Sementara itu, CFO Mitsubishi Corp Yoshihiro Shimazu mengatakan volatilitas nilai tukar yang tinggi telah memberikan dampak signifikan terhadap bisnis perusahaan.

"Kami benar-benar merasakan dampak volatilitas yang sangat tinggi dan akan merevisi asumsi nilai tukar kami saat ini sebesar 150 yen per dolar sesuai kebutuhan," ujarnya.

Baca Juga: Aturan Baru FA Inggris: Pembatas Beton Stadion Harus Dihilangkan

Level Yen 120-124 per Dolar Dianggap Ideal

Survei JETRO yang diterbitkan pada Maret menunjukkan bahwa nilai tukar 120-124 yen per dolar AS menjadi level yang paling diinginkan perusahaan Jepang. Kisaran tersebut dipilih oleh hampir seperlima perusahaan yang disurvei.

Sementara itu, hanya sekitar 11% perusahaan yang menginginkan nilai tukar di atas 150 yen per dolar AS.

Namun, harapan yen kembali menguat ke level tersebut mulai memudar seiring kondisi fundamental Jepang yang masih menghadapi sejumlah tantangan.

"Mempertimbangkan fundamental Jepang dan kondisi neraca perdagangan yang belum pulih, mungkin kita tidak akan melihat kembali nilai tukar 120 hingga 130 yen per dolar," kata Fujimoto.




TERBARU

[X]
×