kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45883,06   -37,05   -4.03%
  • EMAS942.000 0,00%
  • RD.SAHAM 0.31%
  • RD.CAMPURAN 0.18%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.05%

Bos Pentagon sebut program nuklir dan rudal Korea Utara ancaman serius


Kamis, 15 Oktober 2020 / 10:03 WIB
Bos Pentagon sebut program nuklir dan rudal Korea Utara ancaman serius
ILUSTRASI. Korea Utara meluncurkan jenis baru rudal balistik antarbenua (ICBM) yang dapat menargetkan daratan AS pada tanggal 10 Oktober 2020 pada upacara parade merayakan ulang tahun ke-75 berdirinya Partai Buruh.


Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID -  WASHINGTON. Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS) Mark Esper pada hari Rabu mengatakan program nuklir dan rudal Korea Utara menimbulkan ancaman global.

Hal itu diungkapkan setelah Pyongyang meluncurkan rudal balistik antarbenua yang sebelumnya tak terlihat pada parade militer sebelum fajar.

Kemunculan rudal balistik antarbenua (ICBM) baru selama parade akhir pekan di Korea Utara memikat banyak analis Barat.

Tetapi para pejabat di Korea Selatan jauh lebih prihatin dengan tampilan sistem roket peluncuran ganda (MLRS) baru dan rudal jarak pendek yang cepat dan dapat bermanuver yang akan ideal untuk menyerang target di Selatan.

Baca Juga: Korea Utara pamer rudal, Korea Selatan: Kami bisa melumpuhkannya dan serang balik

Berbicara sebelum memulai pertemuan dengan Menteri Pertahanan Korea Selatan Suh Wook di Pentagon, Esper mengatakan:

"Kami setuju bahwa program rudal balistik dan nuklir Korea Utara tetap menjadi ancaman serius bagi keamanan dan stabilitas kawasan dan dunia," ujarnya seperti dilansir Reuters, Kamis (15/10)

"Amerika Serikat tetap berkomitmen terhadap keamanan Republik Korea," kata Esper.

Dia menambahkan, bagaimanapun, bahwa Korea Selatan dan Amerika Serikat harus menemukan cara yang lebih adil untuk berbagi biaya pertahanan sehingga "tidak jatuh secara tidak adil pada pembayar pajak Amerika".

Baca Juga: Kim Jong Un, universitas baru Korea Utara untuk perkuat persenjataan

Presiden AS Donald Trump, yang memuji hubungannya dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, berulang kali mengatakan Seoul harus membayar bagian yang lebih besar dari biaya pasukan militer AS yang ditempatkan di Selatan.




TERBARU

[X]
×