kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.831.000   -26.000   -0,91%
  • USD/IDR 17.055   55,00   0,32%
  • IDX 6.989   -37,36   -0,53%
  • KOMPAS100 965   -5,89   -0,61%
  • LQ45 708   -6,82   -0,95%
  • ISSI 250   -1,40   -0,56%
  • IDX30 388   -0,50   -0,13%
  • IDXHIDIV20 481   -1,39   -0,29%
  • IDX80 109   -0,72   -0,66%
  • IDXV30 133   -0,62   -0,46%
  • IDXQ30 126   -0,40   -0,32%

Bursa Asia Bergerak Mixed di Tengah Ancaman Trump dan Harapan Gencatan Senjata


Senin, 06 April 2026 / 15:12 WIB
Bursa Asia Bergerak Mixed di Tengah Ancaman Trump dan Harapan Gencatan Senjata
ILUSTRASI. Bursa Asia - Nikkei Jepang (REUTERS/Issei Kato)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Bursa saham Asia berkembang bergerak bervariasi dalam perdagangan tipis pada Senin (6/4/2026), seiring investor mencerna berbagai kabar yang saling bertolak belakang terkait konflik di Timur Tengah yang membayangi prospek inflasi dan ekonomi global.

Melansir Reuters, Indeks MSCI untuk saham Asia emerging tercatat menguat tipis, didorong kenaikan lebih dari 1% pada indeks acuan Korea Selatan, KOSPI.

Namun, sentimen investor masih berfluktuasi tajam akibat dinamika terbaru konflik.

Baca Juga: Intelijen Korea Selatan Sebut Putri Kim Jong Un Dipersiapkan Jadi Penerus

Ancaman Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk melancarkan serangan besar terhadap Teheran jika Selat Hormuz tidak dibuka hingga batas waktu Selasa, menjadi salah satu faktor utama ketidakpastian pasar.

Di sisi lain, laporan menyebutkan adanya pembahasan potensi gencatan senjata selama 45 hari.

“Pasar tampaknya masih berhati-hati dan enggan bereaksi berlebihan hingga ada kepastian konkret,” ujar Charu Chanana, kepala strategi investasi Saxo di Singapura.

Ia menilai perkembangan terbaru lebih mencerminkan upaya diplomasi terakhir dibanding kesepakatan final.

Di Indonesia, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat turun hingga 1,3% ke level terendah dalam tiga pekan. Nilai tukar rupiah juga melemah ke rekor terendah di Rp17.045 per dolar AS.

Baca Juga: Iran dan AS Dikabarkan Sudah Terima Rencana untuk Gencatan Senjata

Tekanan terhadap pasar domestik terjadi di tengah kekhawatiran investor terkait defisit fiskal, independensi bank sentral, serta pelemahan mata uang.

Kenaikan harga minyak akibat konflik turut memperburuk situasi bagi Indonesia yang bergantung pada impor energi.

Analis MUFG menilai meski harga komoditas dapat meningkatkan pendapatan negara, ruang fiskal yang terbatas berisiko memaksa pemerintah melakukan penyesuaian belanja atau harga bahan bakar yang dapat menekan pertumbuhan ekonomi.

Bank Indonesia (BI) dinilai telah mengambil langkah stabilisasi nilai tukar, namun risiko eksternal seperti lonjakan imbal hasil obligasi AS atau sentimen risk-off global masih berpotensi melemahkan rupiah lebih lanjut.

Secara regional, perhatian investor kini tertuju pada data inflasi yang akan dirilis dalam pekan ini. Filipina dijadwalkan merilis data inflasi Maret pada Selasa, disusul Taiwan pada Rabu, dan keputusan suku bunga Korea Selatan pada Jumat.

Baca Juga: China Rilis Panduan E-Commerce Usai Tekanan Uni Eropa soal Produk Berbahaya

Di pasar mata uang, peso Filipina melemah 0,2%, sementara won Korea Selatan menguat ke level 1.503,9 per dolar AS.

Sementara itu, bursa di Taiwan, China, dan Thailand tutup karena libur.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×