Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Pasar saham Asia mencetak rekor baru pada Jumat (19/2026), didorong meredanya ketegangan di Timur Tengah setelah jalur pelayaran di Selat Hormuz kembali dibuka.
Di sisi lain, dolar AS menguat tajam setelah sikap hawkish bank sentral Amerika Serikat (The Fed) memicu ekspektasi kenaikan suku bunga lebih lanjut tahun ini.
Baca Juga: Yen Nyaris Ambruk ke Level Terendah 40 Tahun Jumat (19/6), Jepang Siaga Intervensi
Melansir Reuters, indeks saham Jepang, Nikkei 225, naik 0,8% dan mencetak rekor tertinggi untuk hari kelima berturut-turut. Secara mingguan, indeks ini telah menguat sekitar 8,5%.
Sementara itu, indeks saham Korea Selatan, KOSPI, melonjak 3,1% pada perdagangan Jumat dan membukukan kenaikan mingguan sebesar 15,3%.
Sentimen positif pasar didorong oleh berlakunya kesepakatan damai sementara antara Amerika Serikat dan Iran yang memungkinkan kapal tanker kembali melintasi Selat Hormuz. Harga minyak pun melanjutkan pelemahan.
Baca Juga: Hyundai Siap Kuasai 100% Boston Dynamics, Tebus Sisa Saham SoftBank US$ 325 Juta
Kontrak berjangka minyak Brent turun sekitar 1% ke level US$ 79,03 per barel dan telah merosot 9,5% sepanjang pekan ini. Penurunan harga energi membantu meredakan kekhawatiran inflasi global dan mendukung minat investor terhadap aset berisiko.
Meski demikian, sejumlah analis mengingatkan bahwa risiko geopolitik belum sepenuhnya hilang. Analis Commonwealth Bank of Australia, Madison Cartwright, menilai Iran kemungkinan tetap mempertahankan pengaruhnya atas Selat Hormuz.
Menurutnya, pengelolaan selat tersebut ke depan akan dipimpin Iran dan Oman, sehingga masih ada peluang munculnya biaya layanan maritim atau kebijakan lain yang dapat memengaruhi arus perdagangan energi global.
Di pasar Amerika Serikat, kontrak berjangka Wall Street melemah 0,2% setelah reli kuat pada sesi sebelumnya.
Saham Intel melonjak 10% dan mencetak rekor tertinggi baru setelah Presiden Donald Trump menyatakan Apple sepakat bekerja sama dengan Intel untuk merancang dan memproduksi chip di Amerika Serikat.
Baca Juga: Nikkei Jepang Cetak Rekor Baru Jumat (19/6), Reli Saham AI dan Chip Kian Menggila
Dolar AS Menguat
Penguatan dolar AS menjadi salah satu tema utama pasar pekan ini. Indeks dolar AS berada di kisaran 100,78 dan bersiap mencatat kenaikan mingguan sekitar 1%.
Kurs yen Jepang melemah ke level 161,26 per dolar AS, posisi terendah sejak Juli 2024 dan jauh melewati level 160 yang selama ini dianggap sebagai batas psikologis bagi potensi intervensi pemerintah Jepang.
Sementara itu, poundsterling turun 0,1% ke level US$ 1,3195 setelah Bank of England memutuskan mempertahankan suku bunga acuannya.
Penguatan dolar terjadi setelah The Fed mempertahankan suku bunga pada kisaran 3,50%-3,75% pekan ini. Namun, proyeksi terbaru menunjukkan sembilan dari 19 pejabat The Fed memperkirakan kenaikan suku bunga masih diperlukan tahun ini guna menekan inflasi.
Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh, juga menegaskan komitmennya menjaga stabilitas harga, yang semakin memperkuat ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter yang ketat.
Di pasar obligasi, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor dua tahun naik 9 basis poin sepanjang pekan menjadi 4,179%.
Sebaliknya, imbal hasil obligasi tenor 10 tahun turun menjadi 4,451%, sedangkan tenor 30 tahun melemah ke 4,901%, mendekati level terendah dalam dua bulan terakhir.
Baca Juga: Damai AS-Iran Mulai Berlaku, Selat Hormuz Kembali Dibuka untuk Kapal Tanker
Emas Tertekan
Kombinasi dolar AS yang lebih kuat dan prospek suku bunga yang lebih tinggi menekan harga logam mulia.
Harga emas spot turun 0,5% menjadi US$ 4.188 per ons troi. Sementara itu, harga perak spot melemah 0,8% ke level US$ 65,30 per ons troi.
Analis Morgan Stanley Molly Nickolin mengatakan, pasar kini semakin yakin terhadap kredibilitas The Fed dalam mengendalikan inflasi.
Kondisi tersebut membuat investor mengurangi ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter dalam waktu dekat.













