Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Mayoritas bursa saham Asia ditutup melemah pada perdagangan Kamis (16/7/2026), dipicu aksi jual pada saham-saham semikonduktor menjelang pengumuman laporan keuangan Taiwan Semiconductor Manufacturing Co. (TSMC).
Di sisi lain, pasar obligasi mendapat sentimen positif dari data inflasi Amerika Serikat (AS) yang lebih rendah dari perkiraan sehingga meredakan ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dalam waktu dekat.
Baca Juga: Dolar AS Melemah ke Level Terendah Sebulan, Data Inflasi Jinakkan Spekulasi The Fed
Mengutip Reuters, perhatian investor tertuju pada laporan keuangan TSMC, produsen chip kecerdasan buatan (AI) terbesar di dunia, yang diperkirakan kembali membukukan rekor laba kuartalan untuk kelima kalinya secara berturut-turut.
Laba bersih perusahaan pada periode April–Juni diproyeksikan melonjak 59% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, didorong tingginya permintaan global terhadap infrastruktur AI.
Namun, tingginya ekspektasi pasar membuat sentimen terhadap sektor semikonduktor tetap rapuh.
Saham ASML, pemasok peralatan pembuat chip terbesar di dunia, justru ditutup turun 0,4% meski perusahaan menaikkan proyeksi penjualan tahun 2026 dan berkomitmen meningkatkan kapasitas produksi.
"Terjadi aksi jual yang cukup agresif pada saham sektor memori dan perangkat keras. Tidak ada satu berita negatif yang menjadi pemicu utama. Ini menunjukkan ekspektasi pasar terhadap kinerja emiten semikonduktor sudah sangat tinggi," kata Brian Heavey, Equity Trader JPMorgan.
Baca Juga: AS Rampungkan Gelombang Terbaru Serangan ke Iran, Selat Hormuz Kian Memanas
Bursa Asia tertekan
Tekanan pada saham semikonduktor di Wall Street merambat ke pasar Asia.
Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang turun 1,7%.
Indeks KOSPI Korea Selatan anjlok 6,3%, terseret penurunan saham Samsung Electronics yang melemah 8% dan SK Hynix yang merosot 11%.
Di Jepang, indeks Nikkei 225 turun 3%, sedangkan indeks saham Taiwan melemah 0,5%.
Berbeda dengan bursa lainnya, Hang Seng Hong Kong justru menguat 1,2%.
Sementara itu, Bank of Korea (BOK) menaikkan suku bunga acuan untuk pertama kalinya dalam tiga setengah tahun menjadi 2,75% guna menopang nilai tukar won sekaligus mengendalikan tekanan inflasi. Keputusan tersebut sesuai dengan ekspektasi pasar.
Di Amerika Serikat, Wall Street berhasil ditutup menguat pada perdagangan sebelumnya. Investor melakukan rotasi dari saham-saham semikonduktor ke kelompok saham Magnificent Seven dan sektor perbankan setelah sejumlah bank besar melaporkan kinerja keuangan yang solid.
Meski demikian, pasar Asia dinilai lebih rentan terhadap aksi jual saham chip mengingat besarnya bobot sektor semikonduktor di kawasan tersebut.
Baca Juga: Menhan AS Wajibkan Tes Testosteron Tahunan bagi Prajurit Usia 30 Tahun ke Atas
Obligasi menguat setelah inflasi melandai
Pasar obligasi memperoleh dorongan setelah data Indeks Harga Produsen (PPI) AS pada Juni menunjukkan penurunan yang lebih besar dari perkiraan, melengkapi data inflasi konsumen yang juga lebih lemah sehari sebelumnya.
Kondisi tersebut membuat pelaku pasar memangkas ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada Juli.
Berdasarkan kontrak berjangka Fed Funds, peluang kenaikan suku bunga bulan ini turun menjadi sekitar 10%, dari 43% pada awal bulan.
Meski demikian, prospek inflasi masih dibayangi kenaikan harga minyak akibat memanasnya konflik di Timur Tengah.
Laporan The Wall Street Journal menyebut Presiden Donald Trump tengah mempertimbangkan memperluas operasi militer AS di Iran, termasuk kemungkinan mengerahkan pasukan darat.
Di pasar obligasi, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor dua tahun naik tipis 2 basis poin menjadi 4,1493%, setelah sebelumnya turun 14 basis poin dalam dua hari terakhir.
Sementara itu, yield obligasi tenor 10 tahun relatif stabil di 4,5593%, setelah turun 7 basis poin dalam dua sesi sebelumnya.
Baca Juga: Bursa Korsel Jatuh 7% Kamis (16/7), Saham Chip Tertekan dan BOK Naikkan Suku Bunga
Dolar melemah, emas stabil
Pelemahan tekanan inflasi turut menekan dolar AS.
Indeks dolar AS bertahan di level 100,48, setelah turun 0,4% pada perdagangan sebelumnya ke level terendah sejak 18 Juni.
Sebaliknya, yen Jepang bergerak di kisaran 162,08 per dolar AS, tidak jauh dari level terlemah dalam 40 tahun di 162,84, seiring pelaku pasar masih mewaspadai potensi intervensi pemerintah Jepang.
Pound sterling menguat 0,1% menjadi US$ 1,3538, setelah melonjak sekitar 1% sehari sebelumnya.
Penguatan ini didorong ekspektasi bahwa Andy Burnham, yang diperkirakan akan menjadi pemimpin baru Partai Buruh Inggris, akan menunjuk menteri keuangan yang berpandangan konservatif terhadap kebijakan fiskal.
Sementara itu, harga emas relatif stabil di kisaran US$ 4.055 per ons troi.












![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_24062609492500.jpg)
