kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.633.000   -2.000   -0,08%
  • USD/IDR 18.085   -3,00   -0,02%
  • IDX 6.069   26,55   0,44%
  • KOMPAS100 797   6,40   0,81%
  • LQ45 605   5,30   0,88%
  • ISSI 210   0,11   0,05%
  • IDX30 341   2,36   0,70%
  • IDXHIDIV20 425   2,36   0,56%
  • IDX80 91   0,80   0,89%
  • IDXV30 116   0,67   0,58%
  • IDXQ30 110   0,72   0,66%

Dolar AS Melemah ke Level Terendah Sebulan, Data Inflasi Jinakkan Spekulasi The Fed


Kamis, 16 Juli 2026 / 09:17 WIB
Dolar AS Melemah ke Level Terendah Sebulan, Data Inflasi Jinakkan Spekulasi The Fed
ILUSTRASI. Dolar AS (via REUTERS/Majid Asgaripour)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) bertahan di dekat level terendah dalam satu bulan pada perdagangan Kamis (16/7/2026).

Pelemahan dolar dipicu oleh data inflasi AS yang lebih rendah dari perkiraan sehingga memperkuat keyakinan pasar bahwa Federal Reserve (The Fed) tidak perlu terburu-buru menaikkan suku bunga.

Di sisi lain, meningkatnya konflik di Timur Tengah membatasi pelemahan dolar karena berpotensi kembali mendorong inflasi melalui kenaikan harga energi.

Baca Juga: AS Rampungkan Gelombang Terbaru Serangan ke Iran, Selat Hormuz Kian Memanas

Mengutip Reuters, dolar AS melemah 0,1% terhadap yen Jepang menjadi 162,075 yen, menandai pelemahan untuk hari ketiga berturut-turut.

Sementara itu, euro menguat 0,1% ke level US$ 1,1472, yang merupakan posisi tertinggi dalam satu bulan.

Pound sterling bertahan di dekat level tertinggi dalam dua bulan di US$ 1,354, didukung ekspektasi bahwa perdana menteri baru Inggris akan menunjuk menteri keuangan yang berpandangan konservatif dalam pengelolaan fiskal.

Di kawasan Asia-Pasifik, dolar Australia dan dolar Selandia Baru masing-masing melemah sekitar 0,1% menjadi US$ 0,6995 dan US$ 0,5842.

Baca Juga: Menhan AS Wajibkan Tes Testosteron Tahunan bagi Prajurit Usia 30 Tahun ke Atas

Sementara itu, indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, relatif stabil di 100,47, mendekati level terendah sejak 18 Juni.

Indeks tersebut telah turun 0,8% dalam dua sesi terakhir dan berada di jalur untuk mencatat pelemahan mingguan.

Sentimen terhadap dolar dipengaruhi oleh data ekonomi terbaru yang menunjukkan tekanan inflasi di AS terus mereda.

Indeks Harga Produsen (Producer Price Index/PPI) AS secara tak terduga turun pada Juni dan mencatat penurunan terbesar dalam 14 bulan terakhir.

Data tersebut melengkapi laporan inflasi konsumen yang lebih lemah dari perkiraan serta perlambatan pertumbuhan lapangan kerja pada Juni.

Baca Juga: Pakistan Dorong Regulasi Kripto Berbasis Syariah, Fokus pada Aset Riil

Kombinasi ketiga data tersebut membuat pasar hampir menutup kemungkinan The Fed menaikkan suku bunga pada pertemuan bulan Juli.

Berdasarkan kontrak berjangka Fed Funds yang diperdagangkan di CME Group, peluang kenaikan suku bunga pada Juli turun menjadi 11%, dari sekitar 45% pada awal pekan.

Meski demikian, pelaku pasar masih memperkirakan peluang yang seimbang bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan September.

"Pelemahan dolar belakangan ini tampaknya merupakan koreksi dari penguatan sebelumnya. Pasar sebelumnya terlalu agresif memperkirakan kenaikan suku bunga pada Juli, padahal data menunjukkan inflasi melambat dengan cepat," kata Bosco Wu, Investment Strategist Bank of East Asia.

Namun, Wu menilai siklus pengetatan kebijakan moneter belum berakhir karena satu bulan data inflasi yang melandai belum cukup untuk memastikan tren penurunan inflasi akan berlanjut.

Baca Juga: Bursa Korsel Jatuh 7% Kamis (16/7), Saham Chip Tertekan dan BOK Naikkan Suku Bunga

Menurutnya, eskalasi konflik di Timur Tengah juga akan membatasi pelemahan dolar karena berpotensi kembali memicu tekanan inflasi.

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran membuat harga minyak dunia tetap berada di dekat level tertinggi dalam satu bulan.

Pada Rabu (15/7), AS melancarkan serangan terhadap sistem pertahanan pantai dan lokasi rudal Iran setelah kembali memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Sebagai respons, Iran mengancam akan menghentikan lebih banyak ekspor energi dari kawasan tersebut dan menyatakan tengah menghadapi "perang eksistensial" melawan Amerika Serikat.

Harga minyak pun melanjutkan penguatannya untuk hari keempat berturut-turut. Kontrak minyak mentah Brent terakhir diperdagangkan di sekitar US$ 85,28 per barel, mendekati level tertinggi dalam satu bulan.




TERBARU

[X]
×