kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.670.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.769   60,00   0,34%
  • IDX 6.488   -29,67   -0,46%
  • KOMPAS100 845   -3,46   -0,41%
  • LQ45 640   -2,11   -0,33%
  • ISSI 227   -1,38   -0,60%
  • IDX30 358   -1,08   -0,30%
  • IDXHIDIV20 439   0,12   0,03%
  • IDX80 96   -0,37   -0,39%
  • IDXV30 122   0,58   0,48%
  • IDXQ30 114   -0,25   -0,22%

Bursa Asia Tertekan, Harga Minyak Melonjak di Tengah Konflik AS-Iran


Senin, 31 Agustus 2026 / 10:24 WIB
Bursa Asia Tertekan, Harga Minyak Melonjak di Tengah Konflik AS-Iran
ILUSTRASI. Pasar saham Asia bergerak melemah pada perdagangan Senin (31/8/2026), setelah kembali pecah pertempuran antara Amerika Serikat (AS) dan Iran (REUTERS/Kim Soo-hyeon)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar saham Asia bergerak melemah pada perdagangan Senin (31/8/2026), setelah kembali pecah pertempuran antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Eskalasi geopolitik tersebut mendorong harga minyak mentah naik dan membuat investor semakin mencermati risiko inflasi serta arah kebijakan suku bunga bank sentral.

Harga minyak Brent berjangka melonjak 2,8% menjadi US$90,60 per barel setelah pasukan AS menyerang dua peluncur milik Iran di Pulau Larak pada Minggu. Sebagai respons, Iran dilaporkan menyerang pasukan AS yang ditempatkan di Yordania, menurut Fox News.

Presiden AS Donald Trump kemudian menyatakan melalui unggahan media sosial bahwa Pulau Kharg, terminal minyak utama Iran, sedang "dihancurkan hingga berkeping-keping". Namun, belum ada konfirmasi dari pihak militer mengenai pernyataan tersebut.

Eskalasi konflik AS-Iran meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi global. Kenaikan harga minyak juga berpotensi memperbesar tekanan inflasi sehingga pasar obligasi kembali berada dalam tekanan.

Baca Juga: Harga Minyak Melonjak Lebih dari 2%, Brent Kembali ke Atas US$ 90 Per Barel

Kondisi tersebut terjadi setelah Ketua Federal Reserve Kevin Warsh pada Jumat menegaskan bahwa bank sentral AS masih memiliki pekerjaan untuk dilakukan dalam mengendalikan inflasi.

Peluang The Fed Naikkan Suku Bunga September Meningkat

Pelaku pasar meningkatkan perkiraan terhadap kemungkinan Federal Reserve menaikkan suku bunga pada September. Probabilitas kenaikan suku bunga pada pertemuan September kini mencapai 57%.

Perubahan ekspektasi tersebut mendorong imbal hasil Treasury AS jangka pendek naik tajam dan membuat kurva imbal hasil semakin datar.

Kepala Ekonom AS JPMorgan Michael Feroli mengatakan, pihaknya masih memperkirakan kenaikan suku bunga baru akan dilakukan pada Desember, meskipun pertemuan September tetap terbuka untuk kemungkinan tersebut.

"Kami tetap memperkirakan kenaikan suku bunga baru akan terjadi pada Desember, meskipun kami sepakat bahwa pertemuan September masih terbuka untuk kemungkinan kenaikan," kata Feroli.

"Selain itu, terlepas dari waktu pasti kenaikan suku bunga, pidato Warsh menunjukkan seorang ketua The Fed yang lebih bersedia menerjemahkan kekhawatirannya terhadap inflasi menjadi pengetatan kebijakan," lanjutnya.

Data ekonomi AS menjadi faktor penting yang akan menentukan arah kebijakan Federal Reserve dalam waktu dekat. Investor akan mencermati laporan ketenagakerjaan Agustus yang akan dirilis Jumat serta data inflasi konsumen yang dijadwalkan terbit pada 11 September.

Analis memperkirakan jumlah lapangan kerja AS akan bertambah 58.000 pada Agustus, setelah mengalami penurunan mengejutkan sebesar 23.000 pada Juli. Tingkat pengangguran diperkirakan tetap berada di 4,1%.

Data ketenagakerjaan kemungkinan harus menunjukkan pelemahan yang jauh lebih besar untuk secara signifikan mengurangi risiko kenaikan suku bunga pada September.

Baca Juga: Tiga Maskapai BUMN China Catat Rugi 7 Tahun Beruntun, Harga Avtur Jadi Beban

Bursa Asia Berguguran

Kenaikan imbal hasil obligasi AS yang disertai meningkatnya ketegangan geopolitik menekan pasar saham Asia.

Indeks Nikkei Jepang turun 1,6%, sementara saham Korea Selatan merosot 2,2%. Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang juga turun 1,2%.

Di China, indeks saham unggulan CSI300 melemah 0,7%. Data resmi menunjukkan Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur China meningkat menjadi 49,8 pada Agustus dari 49,2 pada Juli.

Meski membaik, angka tersebut masih berada di bawah level 50 yang menjadi batas antara ekspansi dan kontraksi aktivitas manufaktur. Hal ini menunjukkan aktivitas ekonomi China masih relatif lemah.

Tekanan juga terlihat di pasar saham global. Kontrak berjangka EUROSTOXX 50 turun 0,5%, sedangkan DAX futures melemah 0,4%.

Di Wall Street, kontrak berjangka S&P 500 turun 0,4%, sementara Nasdaq futures terkoreksi 0,5%.

Dolar Kembali Mendekati Level 160 Yen

Inflasi dan suku bunga juga menjadi perhatian utama ketika para menteri keuangan dan bank sentral negara-negara G20 bertemu di North Carolina pada Senin dan Selasa.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan kepada Reuters pada Minggu bahwa dirinya berencana bertemu dengan pimpinan Bank of Japan (BOJ). Pertemuan tersebut berlangsung di tengah spekulasi bahwa bank sentral Jepang juga akan menaikkan suku bunga pada September.

Sejumlah analis menilai serangkaian kenaikan suku bunga diperlukan untuk menopang nilai tukar yen. Mata uang Jepang kembali melemah melewati level 160 yen per dolar AS pada Jumat.

Ketika ditanya mengenai pergerakan yen, Bessent menilai pelemahan tersebut masih "cukup terkendali". Pernyataan itu mengindikasikan bahwa penurunan yen belum cukup kacau untuk memicu intervensi bersama Jepang dan AS seperti yang pernah dilakukan sebelumnya.

Pada perdagangan Senin, dolar AS turun tipis 0,1% menjadi 159,78 yen. Level tersebut masih berada di bawah posisi tertinggi Juli sebesar 163,99 yen per dolar AS.

Baca Juga: Trump Sebut Minyak Venezuela Akan Isi Kembali Cadangan Strategis AS

Pasar obligasi Jepang juga mengikuti aksi jual Treasury AS pada Jumat. Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun kembali menyentuh level tertinggi sejak 1996.

Sementara itu, imbal hasil Treasury AS tenor dua tahun bertahan di 4,34%, setelah melonjak hampir 12 basis poin pada Jumat.

Imbal hasil obligasi AS tenor 30 tahun relatif lebih terkendali di 5,2080%. Investor memperoleh sedikit sentimen positif dari penegasan Warsh mengenai pentingnya pengendalian inflasi.

Harga Emas Tertekan, Minyak Menguat

Di pasar valuta asing, euro sedikit menguat menjadi US$1,1590. Sebelumnya, euro melemah 0,6% pada Jumat setelah pidato Warsh.

Data inflasi Uni Eropa yang akan dirilis pekan ini diperkirakan memperkuat ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga berikutnya oleh European Central Bank (ECB) pada pertemuan 10 September.

Sementara itu, pasar komoditas bergerak beragam. Harga minyak mentah AS atau West Texas Intermediate (WTI) naik 2,5% menjadi US$85,50 per barel.

Sebaliknya, harga emas turun 1% menjadi US$4.405 per ons. Penurunan tersebut melanjutkan tekanan setelah harga emas anjlok 3,2% pada Jumat ketika imbal hasil obligasi melonjak.

Pergerakan pasar global pada awal pekan ini menunjukkan bahwa eskalasi konflik AS-Iran, prospek kenaikan suku bunga Federal Reserve, serta perkembangan inflasi menjadi tiga faktor utama yang akan menentukan arah pasar keuangan dalam beberapa hari mendatang.




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×