Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Bursa saham Australia menguat tajam pada Rabu (8/4/2026) seiring investor kembali masuk ke aset berisiko setelah gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran meredakan kekhawatiran eskalasi konflik.
Melansir Reuters, indeks acuan S&P/ASX 200 naik 2,4% ke 8.935,50 pada pukul 12.20 GMT, setelah sempat melonjak hampir 3% di awal sesi, menjadi kenaikan intraday terbesar dalam setahun.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Terjun Bebas: Brent & WTI Anjlok ke Bawah US$ 100 Pagi Ini (8/4)
Sentimen pasar sebelumnya sempat tertekan setelah Presiden AS, Donald Trump, memperingatkan bahwa “sebuah peradaban akan musnah malam ini” jika Iran tidak memenuhi ultimatum untuk mengakhiri blokade minyak di Teluk.
Namun, sentimen berbalik positif setelah Trump menyetujui gencatan senjata selama dua pekan dan menyebut proposal Iran sebagai dasar yang “layak” untuk negosiasi.
Di pasar Sydney, sektor keuangan memimpin penguatan dengan kenaikan 3%, didorong oleh kinerja bank-bank besar yang naik antara 2,8% hingga 4%.
Saham sektor pertambangan juga melonjak 4,3%, ditopang kenaikan harga bijih besi dan tembaga. Raksasa tambang Rio Tinto dan BHP masing-masing naik lebih dari 3%.
Sebaliknya, saham energi terkoreksi 7,1% setelah premi risiko mereda akibat penurunan tajam harga minyak, yang turun lebih dari US$12 per barel. Saham Woodside Energy anjlok 9,2%, sementara Santos turun 6,3%.
Saham berbasis emas justru ikut menguat, naik 6,6%, sejalan dengan kenaikan harga logam mulia tersebut.
Baca Juga: Nikkei Jepang Melonjak 4% Rabu (8/4) Pagi, Minyak Turun Usai Sinyal Gencatan Senjata
Dari saham individual, DroneShield menjadi yang paling tertekan, turun hingga 19,8% setelah mengumumkan perubahan manajemen puncak.
Di Selandia Baru, indeks S&P/NZX 50 naik 1,6% ke 13.279,01, dengan pelaku pasar menanti keputusan suku bunga dari bank sentral.
Mayoritas ekonom dalam jajak pendapat Reuters memperkirakan bank sentral Selandia Baru akan menahan suku bunga, di tengah pertimbangan antara risiko inflasi dan perlambatan pertumbuhan ekonomi.












