kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Bursa saham Asia terpuruk, rekor penjualan bersih asing pun tercipta


Kamis, 27 Februari 2020 / 18:34 WIB
Bursa saham Asia terpuruk, rekor penjualan bersih asing pun tercipta
ILUSTRASI. Bursa Asia masih terseret virus corona.

Reporter: Laurensius Marshall Sautlan Sitanggang | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - BEIJING. Investor asing mulai mengurangi porsi saham di pasar Asia. Penjualan saham secara besar-besaran ini merupakan yang paling cepat dalam beberapa tahun terakhir, pemicunya tak lain adalah wabah virus corona yang terus menyebar di luar China.

Mengutip Bloomberg, secara rata-rata, penjualan bersih asing di pasar saham China mencapai CNY 6,1 miliar atau setara US$ 870 juta sejak Senin (24/2) hingga Kamis (27/2). Jumlah ini praktis lebih besar daripada jumlah saham yang dibeli, aksi ini juga menjadi rekor baru penjualan saham terbesar selama sepekan. 

Bukan cuma di China saja, investor asing juga menurunkan kepemilikan sahamnya di bursa saham Taiwan. Pada Rabu (26/2) lalu, net sell mencapai US$ 1,1 miliar, angka ini terbesar dalam enam tahun terakhir. 

Serupa, total saham investor asing yang dilepas pada bursa saham Korea Selatan pun tak kalah jumbo. Net sell pada indeks Kospi mencapai US$ 868 juta, tertinggi sejak Juni 2013. 

Baca Juga: IHSG anjlok 2,69% ke 5.535 pada akhir perdagangan Kamis (27/2)

Pun, investor asing di Filipina juga dikabarkan melepas investasinya dengan jumlah yang tidak sedikit. Kabarnya, angka penjualan bersih asing di Filipina menjadi yang paling tinggi dalam empat tahun terakhir.

Akibatnya, ekuitas global pun tergelincir di minggu ini. Sebab, jumlah kasus virus corona telah dikonfirmasi melonjak di beberapa negara mulai dari Korea Selatan hingga Italia. Terbaru, kini virus corona sudah terdeteksi di Benua Amerika karena satu korban terinfeksi sudah terkonfirmasi di Brasil.

Walhasil, MSCI Asia Pacific Index pun turun 8% sejak bulan Januari 2020. Penurunan ini merupakan yang paling tinggi untuk ukuran 200 hari kerja sejak bulan Oktober 2018 lalu yang sebesar 4%.

Berdasarkan data-data tersebut, saham di bursa Asia berada di pekan terburuk sejak tahun 2018. "Investor asing telah menarik diri dari pasar negara berkembang, mereka khawatir terhadap gangguan rantai pasokan dan waktu kerja akibat penyebaran virus corona," ujar Harris Liao, Kepala Investasi di Concord Securities. 

Dampak lainnya, jumlah pendapatan dan perkiraan pertumbuhan ekonomi di dunia pun bakal terkoreksi akibat wabah ini.

Bak pisau bermata dua, fenomena ini pun sebenarnya menciptakan peluang menarik bagi investor yang masuk ke pasar Asia menurut Goldman Sachs Group. UBS Global Wealth Management bahkan telah menggaungkan prediksinya dan menyarankan nasabah tajirnya untuk mengambil saham-saham yang di China.

Baca Juga: Virus corona sudah menyebar dan menjangkau ke seluruh benua, kecuali Antartika

Tetapi tak semua bursa saham di kawasan yang merasakan derita. Buktinya, bursa saham di India terus mengeruk dana dari investor asing. 

Pasar Utang Asia yang sedang tumbuh pun kini terpantau mengalami aliran dana yang konsisten. Penjualan dana asing memang dipandang sebagai investasi yang menguntungkan bagi investor, terutama di pasar-pasar obligasi Asia setidaknya untuk tiga bulan ke depan menurut analisis data Bloomberg.





Close [X]
×