Sumber: Yahoo Finance | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. CEO BlackRock, Larry Fink, menilai sistem pensiun Amerika Serikat (AS) tidak lagi sesuai dengan realitas demografis saat ini.
Dalam surat tahunannya kepada investor pada 2024, pimpinan manajer aset terbesar dunia itu menyoroti bahwa usia pensiun standar 65 tahun ditetapkan sejak lebih dari satu abad lalu, ketika angka harapan hidup jauh lebih pendek.
“Tidak seorang pun seharusnya bekerja lebih lama dari yang mereka inginkan. Namun, cukup aneh bahwa patokan usia pensiun 65 tahun berasal dari era Kekaisaran Ottoman,” tulis Fink.
Baca Juga: Usulan Usia Pensiun ASN Diperpanjang, Menpan RB Singgung Ketersediaan Anggaran
Ia menekankan, saat ini kemungkinan salah satu pasangan suami-istri yang berusia di atas 65 tahun hidup hingga usia 90 tahun sangat besar. Artinya, ada puluhan tahun setelah usia pensiun yang harus ditopang secara finansial.
Fink mengingatkan, perubahan demografi membuat sistem pensiun dan jaminan sosial semakin terbebani.
Pada 1952, tahun kelahirannya, banyak pekerja yang membayar iuran jaminan sosial bahkan tidak sempat menerima manfaat. Kini, bukan hanya lebih banyak orang yang mencapai usia pensiun, tetapi juga hidup jauh lebih lama setelahnya.
Baca Juga: Usulan Usia Pensiun ASN Diperpanjang, Menpan RB Singgung Ketersediaan Anggaran
Menurutnya, persoalan ini bukan sekadar masalah pemerintah, melainkan masalah nasional. Lebih dari separuh aset kelolaan BlackRock terkait dengan dana pensiun, termasuk pengelolaan dana pensiun bagi sekitar setengah dari guru sekolah negeri di AS.
Dari perspektif tersebut, ia melihat kekhawatiran yang meningkat lintas generasi. “Millennial dan Gen Z percaya generasi Boomer lebih mementingkan kesejahteraan finansial mereka sendiri, dan dalam hal pensiun, mereka benar,” ujarnya.