kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.540.000   0   0,00%
  • USD/IDR 18.097   17,00   0,09%
  • IDX 5.439   51,35   0,95%
  • KOMPAS100 703   6,01   0,86%
  • LQ45 547   2,49   0,46%
  • ISSI 186   3,05   1,66%
  • IDX30 306   1,13   0,37%
  • IDXHIDIV20 403   3,67   0,92%
  • IDX80 81   0,56   0,70%
  • IDXV30 112   1,52   1,37%
  • IDXQ30 102   0,58   0,58%

China-AS Memanas, Investasi Teknologi Terancam


Minggu, 25 Oktober 2026 / 11:29 WIB
China-AS Memanas, Investasi Teknologi Terancam
ILUSTRASI. Bendera AS dan China (Ng Han Guan/Pool/REUTERS)


Sumber: Reuters | Editor: Nina Dwiantika

KONTAN.CO.ID - BEIJING. Bara perseteruan ekonomi antara Amerika Serikat (AS) dan China kembali menyala. Kali ini, Tiongkok geram terhadap rencana AS memperketat pembatasan investasi di sektor teknologi strategis. Kebijakan tersebut dikhawatirkan semakin menghambat arus modal dan memperkeruh hubungan dagang dua raksasa ekonomi dunia.

Kementerian Perdagangan China pada Sabtu (24/10/2026) mendesak AS menghentikan perluasan pembatasan investasi terhadap perusahaan-perusahaan China. Negeri tirai bambu ini menilai langkah AS berpotensi mengganggu hubungan perdagangan dan investasi kedua negara.

Ketegangan ini mencuat setelah Departemen Keuangan AS pada Kamis (22/10/2026) mengusulkan pembaruan aturan investasi keluar negeri (outbound investment). Dalam rancangan tersebut, AS berencana memasukkan sektor bioteknologi ke dalam daftar industri yang dibatasi.

Tak berhenti di situ, AS juga ingin memperluas pengawasan investasi pada teknologi komputasi berkinerja tinggi dan sistem hipersonik. Kedua sektor ini dinilai memiliki nilai strategis karena dapat dimanfaatkan untuk kepentingan komersial sekaligus pertahanan.

Pemerintah China langsung memasang sikap keras. Beijing menuding kebijakan tersebut bersifat diskriminatif karena semakin mempersempit ruang investasi perusahaan AS di China.

Baca Juga: Fitch Ramal Pertumbuhan Pendapatan Korporasi Global Anjlok Jadi 1,5% pada 2027

Kementerian Perdagangan China menegaskan penolakannya terhadap usulan tersebut. Bahkan, Beijing membuka peluang mengambil langkah balasan apabila Washington tetap melanjutkan kebijakan pembatasan investasi itu. Namun, pemerintah China belum merinci bentuk tindakan yang akan ditempuh.

Beijing juga mengingatkan bahwa kebijakan tersebut berisiko merusak hubungan ekonomi bilateral. Apalagi, para pemimpin kedua negara telah dua kali bertemu dalam enam bulan terakhir untuk membangun kesepahaman dan meredakan ketegangan.

Di sisi lain, Washington memiliki pertimbangan berbeda. Departemen Keuangan AS menegaskan bahwa pembatasan investasi tersebut bertujuan melindungi keamanan nasional dengan mencegah modal Amerika mendukung pengembangan teknologi strategis oleh negara-negara yang dianggap sebagai ancaman.

Aturan ini juga tidak hanya menyasar China, tetapi mencakup investasi di negara lain yang masuk dalam pengawasan AS. Fokus utamanya adalah teknologi dengan fungsi ganda (dual-use), yakni teknologi yang dapat digunakan untuk kebutuhan sipil maupun militer.

Dari sisi ekonomi, perluasan pembatasan investasi ini berpotensi menambah ketidakpastian bagi investor dan perusahaan teknologi global. Jika aturan tersebut diberlakukan, aliran modal AS ke sektor teknologi tertentu di China bisa semakin terbatas, sekaligus memperbesar risiko terfragmentasinya rantai pasok dan investasi teknologi dunia.

Baca Juga: Australia Buka Bandara Baru, Bandara International Western Sydney Beroperasi 24 Jam




TERBARU

[X]
×