Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Amerika Serikat (AS) kembali melancarkan serangan rudal ke sejumlah sasaran di Iran pada Jumat (24/7/2026). Presiden Donald Trump menegaskan Washington siap menjatuhkan "hukuman militer besar" terhadap Teheran dan kelompok Houthi di Yaman, namun tetap membuka peluang penyelesaian konflik melalui jalur diplomatik.
Serangan terbaru ini terjadi dua pekan setelah gencatan senjata sementara yang sempat dimaksudkan untuk mengakhiri perang runtuh.
Sebagai respons, angkatan bersenjata Iran meluncurkan serangan ke pangkalan-pangkalan militer AS di sejumlah negara Arab tetangga dan memperingatkan bahwa mereka juga dapat menargetkan bangunan sipil yang digunakan personel militer Amerika.
Dalam beberapa hari terakhir, Trump juga mengancam akan memperluas target serangan ke fasilitas energi dan jembatan di Iran, mengirim pasukan darat untuk merebut terminal minyak Pulau Kharg, serta membombardir fasilitas bawah tanah yang terkait program nuklir Iran di kawasan Pickaxe Mountain.
Meski demikian, Trump mengatakan dirinya belum mengambil keputusan untuk melancarkan serangan besar berikutnya.
Baca Juga: Trump dan Zelensky Dijadwalkan Bertemu di Washington Pekan Depan
"Kami sedang berbicara dengan mereka. Saya pikir mereka serius. Saya pikir ... mereka sejauh ini menunjukkan keseriusan yang belum pernah kami lihat sebelumnya, tetapi itu bukan berarti kami pasti akan mencapai kesepakatan," kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih.
Saat ditanya mengenai strategi mengakhiri perang dengan Iran, Trump menjelaskan terdapat dua pilihan.
"Ada jalan keluar secara militer, yaitu kami terus melanjutkan operasi seperti sekarang, bahkan bisa dengan intensitas yang lebih besar hingga melumpuhkan semua yang mereka miliki. Atau ada strategi yang lebih cerdas, yaitu membuat sebuah kesepakatan," ujar Trump.
Namun, ia menegaskan kesiapan militer AS.
"Kami sudah sepenuhnya siap. Kami siap bertindak," tambahnya.
Konflik Berpusat di Kawasan Teluk
Pintu masuk Teluk Persia sejauh ini menjadi pusat konflik yang telah berlangsung hampir lima bulan. Perang tersebut telah menewaskan ribuan orang, memicu kenaikan inflasi global, serta meningkatkan kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi dunia.
Kelompok Houthi yang menguasai wilayah utara dan barat Yaman telah mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi. Langkah tersebut memaksa jutaan barel minyak setiap hari dialihkan melalui jaringan pipa menuju Laut Merah untuk menghindari blokade hampir total Iran di Selat Hormuz.
Setelah Houthi mengklaim menyerang dua kapal tanker Arab Saudi pada Kamis (23/7/2026), Trump menyatakan Iran akan dimintai pertanggungjawaban atas setiap serangan lanjutan yang dilakukan kelompok tersebut.
Pada Jumat, sejumlah serangan menghantam Pelabuhan Hodeidah di Yaman. Koalisi pimpinan Arab Saudi menyatakan telah melakukan "operasi respons militer yang proporsional" dengan menargetkan posisi militer Houthi di Provinsi Hodeidah.
Baca Juga: Uni Eropa Jatuhkan Sanksi terhadap Bursa Kripto HTX, Diduga Bantu Rusia
Iran Ancam Pasukan Amerika
Militer AS melancarkan serangan udara ke Iran pada Kamis malam hingga Jumat dini hari, menandai malam ke-13 berturut-turut operasi militer terhadap Iran. Sebagai balasan, Iran menyerang sejumlah negara Arab yang menjadi lokasi pangkalan militer AS.
Media Iran melaporkan rudal AS menghantam markas Angkatan Laut Garda Revolusi di kawasan Ziba Kenar, Provinsi Gilan, dekat Laut Kaspia. Otoritas setempat juga menyebut proyektil AS menghantam kota pelabuhan Bandar Anzali.
Televisi pemerintah Iran IRIB melaporkan empat orang tewas dan lima lainnya terluka akibat serangan AS di Kota Ahvaz.
Dalam pernyataan yang dikutip kantor berita Fars, Garda Revolusi Iran memperingatkan masyarakat negara-negara Teluk mengenai kemungkinan serangan terhadap personel militer AS yang menggunakan "bangunan-bangunan di kota sebagai lokasi untuk mengarahkan aksi kejahatan mereka."
Sehari sebelumnya, Trump mengatakan kepada Axios bahwa dirinya tengah mempertimbangkan untuk kembali melancarkan operasi militer besar terhadap Iran.
"Mereka belum merasakan penderitaan yang cukup," ujar Trump seperti dikutip Axios.
Kementerian Kesehatan Iran menyebut sebanyak 59 orang tewas dan 666 orang terluka sejak bentrokan dengan pasukan AS kembali pecah pada akhir Juni.
Media Iran juga mengutip pernyataan pimpinan komando militer gabungan negara itu yang menyatakan Iran akan membunuh satu anggota militer AS untuk setiap warga Iran yang tewas.
Di pihak Amerika Serikat, perang ini telah menewaskan 18 personel militer. Pentagon sebelumnya menyatakan 100 personel mengalami luka sejak 7 Juli dan sekitar 96% di antaranya telah kembali bertugas. Sejumlah pejabat juga mengatakan kepada Reuters bahwa lebih dari 500 tentara AS telah mengalami luka sepanjang konflik.
Baca Juga: Rusia Tunggu Usulan Baru Trump untuk Akhiri Perang Ukraina
Pakistan Jajaki Upaya Menghidupkan Perundingan
Di tengah meningkatnya eskalasi, sejumlah sumber menyebut Pakistan tengah menjajaki peluang menghidupkan kembali perundingan antara Amerika Serikat dan Iran untuk mengakhiri perang.
Upaya tersebut disebut mengikuti dorongan diplomatik yang sebelumnya diinisiasi China.
Diskusi awal berlangsung saat Menteri Dalam Negeri Iran Eskandar Momeni berkunjung ke Islamabad pekan ini. Tiga sumber Pakistan mengatakan kunjungan tersebut merupakan yang kedua dalam 10 hari terakhir.
Harga Minyak Sempat Tembus US$ 100 per Barel
Serangan terhadap dua kapal tanker Arab Saudi di Selat Bab el-Mandeb sempat mendorong harga minyak melonjak sekitar 7% hingga menembus US$ 100 per barel untuk pertama kalinya sejak Mei.
Namun pada perdagangan Jumat sekitar pukul 16.00 GMT, harga minyak Brent kembali turun lebih dari US$ 4 menjadi sedikit di atas US$ 96 per barel.
Jalur Pelayaran Terganggu
Serangan Houthi juga memaksa sejumlah kapal tanker mengubah rute pelayaran dengan berbalik menuju utara melalui Terusan Suez. Langkah tersebut membuat perjalanan menuju Asia menjadi jauh lebih panjang karena harus mengelilingi Benua Afrika.
Sumber industri menyebut biaya asuransi pelayaran di wilayah selatan Laut Merah bahkan melonjak dua kali lipat bagi sebagian perusahaan.
Meski demikian, separuh dari 18 kapal yang keluar dari Bab el-Mandeb pada Kamis masih mengangkut minyak mentah, termasuk dua kapal tanker raksasa milik China. Sementara itu, jumlah kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz turun menjadi hanya satu kapal, level terendah sejak 7 Mei.
Baca Juga: PM Baru Inggris Pertahankan Reformasi Sektor Keuangan Demi Dorong Pertumbuhan
Iran Serang Pangkalan AS di Timur Tengah
Militer Iran mengklaim telah menyerang gudang peralatan militer AS di Al-Adiri atau Camp Buehring di Kuwait utara, serta posisi pasukan Amerika di Camp Arifjan dan Camp Doha dekat Kota Kuwait.
Pada Jumat malam, pemerintah Kuwait menyatakan sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat sejumlah target "bermusuhan" yang diluncurkan dari Iran.
Garda Revolusi Iran juga mengklaim telah merusak secara signifikan menara pengawasan yang digunakan Armada Kelima Angkatan Laut AS di Bahrain.
Selain itu, Iran mengaku menyerang barak militer dan pesawat tempur AS di Yordania, serta barak militer, balon mata-mata, dan sistem pertahanan udara Patriot milik Amerika di Erbil, wilayah Kurdistan Irak.
Militer Yordania menyatakan berhasil menembak jatuh tujuh rudal dan enam drone Iran tanpa menimbulkan korban jiwa maupun kerusakan material.
Sementara itu, Kedutaan Besar AS di Baghdad mengimbau seluruh warga negara Amerika yang berada di kawasan Timur Tengah untuk meningkatkan kewaspadaan dan tetap berada dalam status siaga tinggi.














