Sumber: Reuters | Editor: S.S. Kurniawan
KONTAN.CO.ID - BEIJING. China pada Kamis (29/9) memberi isyarat tidak akan berhenti dalam pendekatan agresifnya terhadap kebijakan luar negeri dalam masa jabatan ketiga untuk Xi Jinping sebagai pemimpin.
Meskipun, ada kritik dari banyak diplomat Barat bahwa apa yang disebut sikap Prajurit Serigala telah kontraproduktif.
Ketika hubungan dengan Barat memburuk karena isu-isu mulai dari perdagangan dan hak asasi manusia hingga pandemi Covid-19, para diplomat China sering kali bersikap konfrontatif di panggung publik, termasuk di media sosial.
"Kami orang China tidak akan menyerah," tegas Wakil Menteri Luar Negeri Ma Zhaoxu dalam menanggapi pertanyaan Reuters pada konferensi pers Kamis untuk membahas diplomasi China dalam dekade sejak Xi menjabat Presiden China.
"Kami tidak akan duduk dan tidak melakukan apa-apa saat kepentingan negara kami dirugikan," katanya.
Baca Juga: Xi Jinping Muncul di Publik, Patahkan Rumor Digulingkan dalam Kudeta
"Ke depan, diplomat China akan terus mengatasi semua rintangan, dan selalu menjadi penjaga setia kepentingan negara dan rakyat kita," ujar Ma, yang dianggap sebagai salah satu pesaing untuk menggantikan Wang Yi sebagai menteri luar negeri.
Xi siap untuk memecahkan preseden dan mengamankan masa jabatan kepemimpinan ketiga pada kongres lima tahunan Partai Komunis yang berkuasa bulan depan.
Xi telah mendesak para diplomat China untuk memiliki lebih banyak "semangat juang", dengan agresi yang kemudian dikenal sebagai diplomasi "Prajurit Serigala".
Sebuah survei global yang minggu ini Pew Research Center yang berbasis di Washington rilis menemukan bahwa opini publik terhadap China di Amerika Serikat dan negara-negara maju lainnya telah berubah "jauh lebih negatif" di bawah Xi.













