Reporter: Nina Dwiantika | Editor: Nina Dwiantika
KONTAN.CO.ID - PARIS. Penjualan Hermès pada awal tahun ini tak sekinclong ekspektasi pasar. Produsen tas Birkin tersebut mulai merasakan dampak nyata dari konflik di Timur Tengah yang menekan industri barang mewah global.
Dalam laporan terbarunya, yang dikutip Bloomberg (15/4), Hermès International SCA mencatat pertumbuhan penjualan sebesar 5,6% secara kurs konstan pada kuartal I-2026. Angka ini meleset dari proyeksi analis yang memperkirakan kenaikan mencapai 7,44%.
Tekanan paling terasa datang dari kawasan Timur Tengah, yang justru mencatat penurunan penjualan 5,9%. Efek rambatnya meluas ke Eropa, terutama Prancis yang selama ini menjadi magnet belanja wisatawan. Penurunan kunjungan turis khususnya pada Maret membuat penjualan di pasar domestik Hermès turun 2,8%.
Chief Financial Officer Hermès, Eric du Halgouet mengakui, berkurangnya wisatawan asal Timur Tengah turut memukul kinerja toko-toko Hermès di Italia, Swiss, dan Inggris. Kondisi ini menegaskan betapa besarnya ketergantungan sektor barang mewah terhadap mobilitas dan belanja turis global.
Fenomena ini bukan dialami Hermès semata. Raksasa industri, LVMH Moët Hennessy Louis Vuitton SE, juga mengungkapkan bahwa konflik geopolitik telah menggerus penjualan mereka. Bahkan, menurut CFO Cécile Cabanis, pendapatan divisi utama yang menaungi Louis Vuitton dan Dior seharusnya bisa tumbuh datar jika bukan karena dampak perang.
Baca Juga: CEO Hermes Sebut Jeffrey Epstein Predator Finansial, Klaim Dirinya Jadi Target
Senada, Kering SA melaporkan kinerja di bawah ekspektasi pada Gucci, dengan konflik global menjadi salah satu faktor penekan.
Di sisi lain, pasar Asia Pasifik (di luar Jepang) juga belum mampu menjadi penopang. Pertumbuhan hanya mencapai 2,2%, jauh di bawah ekspektasi analis yang mematok hampir 6%. Ini menjadi sinyal bahwa pemulihan permintaan di kawasan tersebut masih tertatih.
Menariknya, di tengah tekanan geopolitik, Hermès tetap agresif berekspansi. Pekan lalu, perusahaan meresmikan pabrik barang kulit ke-25 indikasi bahwa strategi jangka panjang belum berubah, meski ketidakpastian global meningkat.
Namun pasar saham tetap memberi sinyal waspada. Sejak awal tahun, saham Hermès telah terkoreksi sekitar 16%. Meski lebih baik dibandingkan penurunan saham LVMH yang mencapai 25%, angka ini mencerminkan bahwa bahkan pemain premium dengan model kelangkaan terkelola pun tak sepenuhnya kebal terhadap guncangan global.
Ke depan, tantangan industri barang mewah semakin kompleks. Ketergantungan pada wisatawan kelas atas dan sensitivitas terhadap konflik geopolitik membuat sektor ini rentan. Jika ketegangan global berlanjut, pertumbuhan yang selama ini ditopang konsumen super-kaya bisa mulai kehilangan momentumnya.
Baca Juga: Valuence Japan Pamerkan Tas Birkin Termahal Hasil Lelang Sotheby's













