Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Ketegangan di jalur energi global masih tinggi. Kapal tanker yang terkena sanksi Amerika Serikat (AS), Rich Starry, dilaporkan berbalik arah menuju Selat Hormuz pada Rabu (15/4/2026), setelah sebelumnya sempat keluar dari Teluk sehari sebelumnya.
Mengutip Reuters, data pelayaran menunjukkan kapal tersebut gagal menembus blokade yang diberlakukan AS terhadap kapal-kapal yang berhubungan dengan pelabuhan Iran.
Baca Juga: Negosiasi AS-Iran Menguat, Dolar AS Tertekan ke Level Terendah 6 Pekan Rabu (15/4)
Blokade ini diumumkan Presiden AS Donald Trump pada akhir pekan lalu, menyusul gagalnya negosiasi damai antara AS dan Iran di Islamabad, Pakistan.
Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) menyebutkan bahwa dalam 24 jam pertama penerapan blokade, tidak ada satu pun kapal yang berhasil melintas.
Setidaknya enam kapal memilih berbalik arah dan kembali ke pelabuhan Iran setelah mendapat instruksi dari militer AS.
Kapal Rich Starry sendiri diketahui dimiliki oleh perusahaan China, Shanghai Xuanrun Shipping Co, yang juga masuk dalam daftar sanksi AS karena keterlibatan dalam perdagangan dengan Iran.
Berdasarkan data Kpler, kapal tanker berukuran menengah itu mengangkut sekitar 250.000 barel metanol yang dimuat dari pelabuhan Hamriyah di Uni Emirat Arab.
Sementara itu, kapal tanker lain yang juga terkena sanksi AS, yakni Alicia, dilaporkan sedang memasuki Teluk melalui Selat Hormuz.
Kapal jenis Very Large Crude Carrier (VLCC) tersebut memiliki kapasitas hingga 2 juta barel minyak dan dijadwalkan mengambil muatan dari Irak.
Baca Juga: Harga Minyak Turun Dua Hari Beruntun Rabu (15/4) Pagi: Brent ke US$ 94,27 per Barel
Situasi ini semakin memperbesar ketidakpastian di sektor pelayaran, industri minyak, hingga asuransi risiko perang.
Lalu lintas di Selat Hormuz masih jauh di bawah kondisi normal, dengan volume kapal hanya sebagian kecil dari lebih dari 130 pelayaran harian sebelum konflik pecah pada akhir Februari.
Dengan blokade yang masih berlangsung dan ketegangan geopolitik yang belum mereda, pelaku pasar energi global masih menghadapi risiko gangguan pasokan dalam waktu dekat.













