kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.577.000   7.000   0,27%
  • USD/IDR 16.846   28,00   0,17%
  • IDX 8.937   11,28   0,13%
  • KOMPAS100 1.229   2,00   0,16%
  • LQ45 868   0,40   0,05%
  • ISSI 324   0,94   0,29%
  • IDX30 440   -0,98   -0,22%
  • IDXHIDIV20 517   -1,78   -0,34%
  • IDX80 137   0,24   0,18%
  • IDXV30 144   -0,01   0,00%
  • IDXQ30 140   -0,81   -0,58%

AS Sita Kapal Tanker Rusia, Moskow Murka dan Peringatkan Eskalasi Konflik


Jumat, 09 Januari 2026 / 08:23 WIB
AS Sita Kapal Tanker Rusia, Moskow Murka dan Peringatkan Eskalasi Konflik
ILUSTRASI. Pemerintah Rusia dengan keras mengecam penyitaan kapal tanker minyak berbendera Rusia oleh militer AS. (REUTERS/Hakon Rimmereid)


Sumber: Associate Press | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Hubungan Rusia dan Amerika Serikat kembali memanas. Pemerintah Rusia dengan keras mengecam penyitaan kapal tanker minyak berbendera Rusia oleh militer AS, menyebut langkah itu sebagai pemicu eskalasi baru yang berpotensi meningkatkan ketegangan militer dan politik di kawasan Euro-Atlantik.

AP melaporkan, Kementerian Luar Negeri Rusia menilai penyitaan kapal tanker di Samudra Atlantik Utara pada Rabu lalu hanya akan mendorong eskalasi lebih lanjut dan menurunkan ambang batas penggunaan kekuatan terhadap pelayaran sipil. Insiden ini terjadi di tengah upaya Presiden AS Donald Trump mendorong Rusia mengakhiri perang di Ukraina yang telah berlangsung hampir empat tahun.

Presiden Rusia Vladimir Putin sejauh ini belum memberikan komentar langsung terkait penyitaan kapal tersebut. Ia juga tetap bungkam soal penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh AS, yang sebelumnya dikecam diplomat Rusia sebagai tindakan agresi terbuka. Meski demikian, penyitaan kapal tanker ini dinilai sebagai tantangan baru bagi Kremlin, terutama karena dilakukan secara langsung oleh militer AS.

Di Moskow, para pengamat garis keras mengkritik pemerintah Rusia karena dianggap lamban merespons. Mereka mendesak Rusia mengawal kapal-kapal “shadow fleet”, yakni armada tanker yang digunakan Rusia untuk mengangkut minyak di tengah sanksi Barat, dengan kekuatan laut.

Selama ini, sekutu Barat Ukraina memang berjanji akan memperketat sanksi terhadap armada bayangan Rusia. Banyak analis di Moskow khawatir tindakan AS ini bisa menjadi preseden, membuka jalan bagi negara lain untuk ikut menyita kapal tanker Rusia.

Baca Juga: Konglomerat Thailand Jual Aset Orchard Road Senilai Rp 5,4 Triliun

Menurut Daniel Fried, mantan pejabat tinggi Departemen Luar Negeri AS, opsi Rusia untuk merespons sebenarnya sangat terbatas.

“Orang Rusia biasanya berteriak dan marah ketika mereka dipermalukan, dan dalam kasus ini mereka memang dipermalukan,” kata Fried. “Mereka tidak bisa berbuat apa-apa terhadap kapal ini.”

Komando Eropa AS menyatakan kapal niaga Bella 1 disita karena melanggar sanksi AS. Kapal tersebut sebelumnya mencoba menghindari blokade terhadap pengiriman minyak Venezuela, lalu berganti nama menjadi Marinera dan menggunakan bendera Rusia. Pemerintahan Trump sendiri memberlakukan embargo minyak ketat terhadap Venezuela, dengan menegaskan bahwa ekspor-impor minyak negara tersebut hanya boleh dilakukan melalui jalur yang disetujui AS.

Cara Rusia Memandang Aksi Militer AS

Kementerian Luar Negeri Rusia menuduh AS menggunakan penyitaan kapal sebagai dalih untuk menguasai sumber daya minyak Venezuela, menyebutnya sebagai cerminan ambisi neo-kolonial. Moskow menilai tindakan tersebut sebagai pelanggaran berat hukum maritim internasional, dan menegaskan kapal itu memiliki izin sah untuk berlayar di bawah bendera Rusia sejak Desember.

Ancaman AS untuk menuntut awak kapal disebut Rusia “tidak dapat diterima secara kategoris”, sementara sanksi sepihak Barat dianggap tidak sah dan tidak bisa dijadikan dasar penyitaan kapal di laut lepas.

Baca Juga: Tren Mengejutkan: 93% Warga Malaysia yang Pindah Pilih Singapura




TERBARU
Kontan Academy
Mastering Management and Strategic Leadership (MiniMBA 2026) Global Finance 2026

[X]
×